ilustrasi brain rot (Freepik.com/ DC Studio)
Brain rot merupakan istilah populer yang digunakan untuk menggambarkan kekhawatiran terhadap dampak kebiasaan mengonsumsi konten digital secara berlebihan, terutama konten yang singkat, cepat, dan cenderung kurang menantang secara kognitif. Istilah ini kerap dikaitkan dengan kesulitan berkonsentrasi, menjaga fokus, hingga mengingat informasi. Meski begitu, brain rot bukanlah diagnosis medis dan dampak konsumsi konten digital terhadap kemampuan kognitif seseorang masih perlu dipahami berdasarkan bukti ilmiah.
Dalam penelitian berjudul "Pengaruh Media Sosial terhadap Konsentrasi dan Prestasi Akademik Siswa", Melinda dkk. menjelaskan bahwa kebiasaan mengonsumsi konten singkat, seperti video pendek maupun unggahan bergambar dapat berkaitan dengan berkurangnya kemampuan seseorang dalam memahami informasi yang lebih kompleks dan membutuhkan pemikiran mendalam. Sejumlah penelitian lain juga menunjukkan bahwa penggunaan media digital secara berlebihan dapat berkaitan dengan kesulitan berkonsentrasi, terutama saat seseorang mengerjakan tugas yang membutuhkan ketelitian dan fokus.
Di sisi lain, Shayliah Lassen, seorang Digital Marketing, dilansir Revere Health, turut menjelaskan mengapa video berdurasi pendek di media sosial dapat membuat seseorang terus ingin menontonnya. Menurutnya, video pendek terasa membuat ketagihan karena dirancang agar cepat, menghibur, dan mudah untuk terus ditonton. Aplikasi seperti TikTok dan Instagram juga dapat memutar video berikutnya secara otomatis, sehingga seseorang tidak perlu berhenti atau berpikir untuk melanjutkan tontonan. Mereka cukup terus menggulir layar.
"Menonton konten semacam ini dalam waktu lama dapat membuat aktivitas seperti membaca, bekerja, atau berkonsentrasi menjadi lebih sulit atau terasa kurang menarik," ungkap Shayliah.