5 Novel tentang Bahayanya Pujian Berlebih, Bikin Narsis!

- Lima novel menyoroti dampak pujian berlebihan, yang dapat mengubah rasa percaya diri menjadi narsisme, egoisme, obsesi, atau kebutuhan terus-menerus akan validasi.
- The Picture of Dorian Gray, Middlemarch, Vera, dan American Psycho menggambarkan tokoh yang dipengaruhi pemujaan, citra diri, serta lingkungan yang memperkuat perilaku narsistik.
- My Husband menunjukkan pemujaan berlebihan terhadap pasangan juga bisa menciptakan tekanan dan ekspektasi tidak realistis, bukan sekadar membuat pihak yang dipuji menjadi narsis.
Apa pun yang berlebihan memang tak baik, termasuk hal yang kelihatannya positif dan tak berbahaya seperti pujian. Menerimanya memang menyenangkan, tetapi jika itu terjadi berulang dan bahkan berlebihan, akan ada dampak ikutan yang mungkin tidak terantisipasi. Paling sering, kepercayaan diri berlebih bisa berkembang jadi gangguan narsistik.
Ingin tahu lebih jauh tentang bahaya pujian berlebih? Lima novel ini bisa jadi sumber pelajaran hidup yang berharga buat kita.
1. The Picture of Dorian Gray (Oscar Wilde)

The Picture of Dorian Gray karya Oscar Wilde (dok. Penguin/The Picture of Dorian Gray) Dorian Gray adalah pemuda yang awalnya naif dan lugu sampai ia bertemu Lord Henry yang terus memuji ketampanannya. Lord Henry pula yang menghidupkan sisi tergelap manusia dalam diri Dorian. Sampai-sampai Dorian rela melakukan berbagai upaya untuk mempertahankan ketampanan dan kondisi fisiknya yang prima itu. Dengan susunan kalimat yang memukau dan elemen satirnya yang kuat, novel ini menjadi salah satu karya sastra terunik yang pernah dibuat.
2. Middlemarch (George Elliot)

Middlemarch karya George Elliot (dok. Penguin Random House/Middlemarch) Middlemarch memang tipe novel dengan banyak protagonis. Namun, ada satu karakter yang bisa menggambarkan bahaya pujian berlebih terhadap watak seseorang. Ia adalah Rosamond Vincy, seorang perempuan yang diberkahi wajah rupawan dan terbiasa mendapat pujian sejak belia. Ini membuatnya jadi pribadi yang memang percaya diri, tetapi juga egois. Lebih parahnya, Rosamond kerap menghindari kritik, menyangkal kesalahan yang ia buat, dan terus mencari pembenaran serta admirasi eksternal.
3. Vera (Elizabeth Von Arnim)

Vera karya Elizabeth Von Arnim (dok. Virago/Vera) Vera adalah novel tentang Lucy, perempuan muda yang menikah dengan seorang duda bernama Everard yang usianya jauh lebih tua. Saat pindah ke rumah sang suami, Lucy akhirnya menyadari beberapa hal dari masa lalu Everard dan mendiang istrinya, Vera.
Lewat dinamika pernikahan Lucy dan Everard, kamu akan melihat bagaimana mereka saling menarik. Everard lama-kelamaan menunjukkan sifat aslinya yang narsistik. Ia butuh pendamping yang penurut dan bisa memvalidasi kebutuhan serta perasaannya.
Sementara itu, Lucy, yang seumur hidupnya diasuh sang ayah, tak dapat banyak bekal pernikahan dari sesama perempuan yang lebih memahami posisinya. Terinspirasi dari pernikahan toksiknya sendiri, Von Arnim berhasil mendeskripsikan pengalaman horor banyak orang yang salah memilih pasangan.
4. American Psycho (Bret Easton Ellis)

American Psycho karya Bret Easton Ellis (dok. Penguin Random House/American Psycho) Seperti Dorian Gray, Patrick Bateman dalam novel American Psycho adalah pemuda yang tampak sempurna dari luar. Ia pandai merawat diri, punya karier cemerlang, dan dikelilingi orang-orang yang memujanya. Namun, itu semua tak membuatnya merasa cukup.
Bateman yang terjebak dalam dunia yang penuh dengan ide-ide materialisme, misogini, dan maskulinitas toksik, ternyata memupuk sebuah obsesi ekstrem. Ini masih diperparah oleh kemudahan untuk lepas dari konsekuensi karena status sosialnya.
5. My Husband (Maud Ventura)

My Husband karya Maud Ventura (dok. HarperCollins/My Husband) Memuja pasangan sendiri memang sah-sah saja, tetapi bisa fatal ketika itu dilakukan dalam kadar yang berlebihan. Seperti yang dilakukan lakon dalam novel Prancis My Husband karya Maud Ventura.
Si lakon diceritakan amat memuja sang suami bahkan setelah 15 tahun usia pernikahan mereka. Tampak romantis dan tak berbahaya sampai ia menyadari bahwa suaminya tidak menunjukkan pemujaan yang setara dengan yang ia berikan.
Tidak seperti novel-novel sebelumnya, pujian berlebih ini bukannya bikin si suami narsis, tetapi justru membuatnya serba salah dan dipaksa memenuhi ekspektasi yang tak masuk akal.
Siapa bilang fiksi tidak membuatmu lebih cerdas? Sebaliknya, kamu justru bisa belajar banyak hal dari membaca pengalaman orang-orang yang dikemas dalam format narasi. Kali ini kita belajar tentang dampak fatal pujian berlebih. Lain kali kamu bisa belajar topik niche baru sendiri.





















