Secara umum, data di beberapa negara, seperti Amerika Serikat dan Inggris, menunjukkan bahwa perbandingan persentase pembunuh bergender pria jauh lebih banyak daripada yang bergender perempuan, termasuk pembunuh berantai. Motif mereka pun berbeda jauh.
Menurut data yang dikumpulkan oleh beberapa periset dari Pennsylvania State University at Harrisburg, pembunuhan terhadap pria lebih banyak didasari oleh fantasi seksual dan keinginan untuk mendominasi. Tak pelak, korban mereka cukup acak.
Sebaliknya, pembunuh perempuan lebih sering menyasar orang terdekat. Menurut Jane Monroe, agen FBI dalam wawancara dengan A&E Crime + Investigation, motif pembunuh perempuan pun lebih praktikal, seperti alasan finansial (ingin menguasai harta korban), membalas dendam, atau membela diri.
Gak heran, ketika diadopsi ke ranah sastra sebagai produk hiburan, novel-novel tentang perempuan pelaku pembunuhan punya kekhasan sendiri. Ini bukan soal insting berburu acak, melainkan sebuah kritik sosial yang menampar pembaca.
