Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Benarkah Mahasiswa Tingkat Akhir Rela Korbankan Libur Demi Skripsi?

Benarkah Mahasiswa Tingkat Akhir Rela Korbankan Libur Demi Skripsi?
ilustrasi capek belajar (pexels.com/RDNE Stock project)
Intinya Sih
  • Mahasiswa tingkat akhir sering mengorbankan waktu libur demi fokus menyelesaikan skripsi, bahkan memilih tidak pulang kampung agar bisa belajar dengan tenang.
  • Saat pulang ke rumah pun, banyak yang tetap menghabiskan waktu di kamar untuk belajar atau membawa materi kuliah saat ikut kegiatan keluarga.
  • Tingkat tekanan tinggi muncul karena tuntutan segera lulus, ditambah perbandingan dari keluarga yang membuat mahasiswa makin stres menghadapi tahun terakhir kuliah.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?
Share Article

Duduk di tingkat akhir perkuliahan, beban terasa makin berat. Mata kuliah yang diambil memang tinggal skripsi atau kalau mau menambah beberapa mata kuliah pilihan. Namun, bukan lantas pikiran terasa lebih ringan.

Sering kali tahun akhir justru terasa lebih memayahkan dan bikin cemas. Proses bimbingan skripsi kerap tak hanya menguji kemampuan berpikir, tetapi juga menguras emosi. Terkadang terjadi drama antara mahasiswa dengan dosen pembimbing yang sulit atau galak.

Kalaupun tugas akhir sudah selesai dikerjakan dan kamu tinggal mengikuti ujian, beban bukannya berkurang. Malah inilah titik yang paling krusial dari seluruh proses kuliahmu selama ini. Setelah sekian semester dan ratusan SKS diambil, kamu bakal tiba di titik yang paling menentukan lulus atau tidak. Tak heran apabila di musim libur panjang pun, mahasiswa tingkat akhir rela melakukan sejumlah pengorbanan seperti di bawah ini.

1. Beberapa mahasiswa perantau sampai memilih gak pulang

sendirian di kelas
ilustrasi sendirian di kelas (pexels.com/Gera Cejas)

Hampir semua perantau bergegas pulang saban ada libur panjang. Apalagi libur panjang berkaitan dengan hari keagamaan. Pasti kebanyakan orang ingin berkumpul bersama keluarga.

Kamu juga bukan pekerja yang harus tetap masuk selama waktu libur tersebut. Mahasiswa sama seperti siswa sekolah, otomatis libur ketika tanggal merah atau cuti bersama. Di tahun-tahun sebelumnya dirimu pun begitu.

Akan tetapi, tahun ini berbeda. Sekarang kamu sudah duduk di tahun akhir. Dirimu barangkali lagi sibuk menentukan variabel penelitian, mengerjakannya, atau bahkan sudah persiapan sidang skripsi. Gak pulang adalah cara supaya kamu bisa fokus belajar di kos-kosan.

2. Pulang sih, tapi lebih banyak di kamar untuk belajar

belajar
ilustrasi belajar (pexels.com/Min An)

Kalaupun tidak pulang selama musim libur panjang terasa sangat tak tertahankan, barangkali kamu tetap mudik. Terlebih kampung halamanmu jauh. Di luar musim libur panjang kecil kemungkinan dirimu bisa pulang.

Beberapa hari libur terasa cukup untuk menghilangkan rasa lelah akibat perjalanan yang jauh. Hanya saja, kebutuhan dan keinginan tinggi buat belajar membuatmu gak bisa sering-sering keluar kamar. Betapa pun kumpul keluarga terasa seru, dirimu mesti tetap pandai mengatur waktu dan energi.

Jangan sampai mengobrol dengan mereka memakan terlalu banyak waktu serta tenaga yang seharusnya dapat dipakai buat belajar. Kali ini kamu seperti seorang petapa yang mencari sunyi dengan mengurung diri di kamar.

3. Juga sering gak ikut piknik keluarga

belajar
ilustrasi belajar (pexels.com/VAZHNIK)

Kumpul keluarga biasanya juga diisi dengan liburan bersama. Apalagi mumpung libur panjang. Ini memungkinkan rombongan berwisata hingga ke tempat-tempat yang jauh. Bahkan menginap 1 atau 2 malam.

Namun, ketika kamu sedang harus fokus belajar tidak semua rencana piknik dapat diikuti. Dirimu pasti sangat memperhitungkan waktu yang akan digunakan buat berwisata. Waktu yang sama bila dipakai untuk belajar mungkin bisa buatmu menghafalkan banyak hal.

Biar nanti saat dirimu ujian skripsi dan ditanya-tanya oleh dosen penguji telah lancar menjawab. Tak perlu lagi panik membuka-buka buku referensi. Kamu cuma ikut piknik jarak dekat biar tidak terlalu banyak waktumu tersita untuk jalan-jalan. Masih bonus kamu kecapekan.

4. Kalaupun ikut tetap buka-buka materi

sendirian di kelas
ilustrasi sendirian di kelas (pexels.com/Gera Cejas)

Untukmu yang tak mau ketinggalan berbagai acara penting bersama keluarga barangkali memutuskan untuk tetap ikut. Kapan lagi kamu bisa jalan-jalan bersama mereka dalam formasi lengkap? Saudara-saudaramu juga ikut mudik mumpung libur panjang.

Nelangsa sekali apabila dirimu bertahan jaga rumah. Bisa-bisa seharian kamu sibuk membayangkan mereka ke mana saja, kulineran apa, dan sebagainya. Akan tetapi, kalaupun dirimu ikut berwisata pasti seperti punya dunia sendiri.

Baik saat dalam perjalanan atau setibanya di tempat wisata, kamu gak bisa sepenuhnya lepas dari tumpukan materi yang wajib dipelajari. Di waktu normal, dirimu mungkin suka melihat pemandangan di kanan dan kiri jalan. Namun, kini kamu tetap fokus ke catatan tebal, buku referensi, atau dokumen dalam gadget. Semua berkaitan dengan tugas akhir.

5. Terlalu fokus ke tugas akhir, kurang nyambung dalam obrolan

belajar
ilustrasi belajar (pexels.com/Yan Krukau)

Isi pikiranmu pasti berpengaruh ke kemampuanmu mengobrol dengan keluarga di rumah. Secara fisik, kamu memang ada di antara mereka. Dirimu mencoba ikut duduk-duduk santai dan beramah-tamah.

Akan tetapi, isi kepala penuh dengan urusan belajar. Bahkan sembari duduk di tengah keluarga pun sebenarnya kamu masih memikirkan sejumlah hal yang telah, sedang, dan akan dipelajari. Itu sebabnya dirimu kurang bisa fokus ke obrolan bareng keluarga.

Responsmu mungkin sering kurang tepat, lambat memahami perkataan mereka, atau ketawamu garing sampai telat. Ketika dirimu ditanya malah seperti orang linglung sebelum tergagap-gagap menjawab. Beda dengan saat teman mengajakmu bicara soal materi, pasti kamu nyambung sekali.

6. Agak tertekan karena harus lulus secepatnya

pusing belajar
ilustrasi pusing belajar (pexels.com/RDNE Stock project)

Tidak bisa dimungkiri bahwa tahun terakhir dalam perkuliahan dapat penuh tekanan. Kamu sendiri tentu ingin segera lulus. Namun, perjalanan pengerjaan skripsi sering kali tak sesederhana itu.

Bukan hanya skripsimu gak kunjung di-ACC dosen pembimbing. Kadang ujian skripsi pun dapat diminta untuk diulang kalau dosen penguji merasa mahasiswa kewalahan dalam menjawab pertanyaan. Akan tetapi, keluarga terkadang sukar memahaminya.

Cara mereka memotivasi kamu bukan dengan mengembangkan sikap pengertian. Namun, sebatas menekanmu biar cepat-cepat lulus. Seolah-olah keputusan itu sepenuhnya berada di tanganmu. Tambah bikin stres kalau saudaramu yang sepantar sudah lulus duluan lalu kalian dibandingkan melulu di tengah acara kumpul keluarga.

Musim liburan bisa kurang terasa bagi mahasiswa yang lagi pusing menyelesaikan tahun terakhir perkuliahan. Bahkan sebelum libur panjang tiba, kamu sudah meminjam banyak buku referensi dari perpustakaan. Jangan sampai pas buku dibutuhkan, perpustakaan masih tutup. Sesibuk itulah mahasiswa di tingkat akhir.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Topics
Editorial Team
Siantita Novaya
EditorSiantita Novaya

Related Articles

See More