Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Prodi Ilkom UMY Tegakkan Keadilan bagi Kaum Marginal Lewat Karya

Prodi Ilkom UMY Tegakkan Keadilan bagi Kaum Marginal Lewat Karya
ilustrasi karya tulis berbasis perjuangan kaum marginal yang dibuat oleh mahasiswa Prodi Ilmu Komunikasi UMY. (dok. Universitas Muhammadiyah Yogyakarta)
Share Article

Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) mendukung mahasiswanya untuk dapat menghasilkan karya yang berfokus pada multilkultur selama masa kuliah. Beberapa dari karya tersebut dapat dinikmati dalam bentuk buku cetak.

Karya dari mahasiswa yang telah lulus dari Ilmu Komunikasi UMY tersebut ada dua, yaitu “Dari Sarkem, Di Balik Stasiun hingga di Antara Debu Terminal: Mozaik Kisah Perempuan Perkasa” karya Erwin Rasyid, dan tim. Karya kedua adalah buku “Pengembangan 3K (Kreativitas, Kualitas dan Kewirausahaan) Kaum Muda Marginal Melalui Penciptaan Jurnalis Muda Berbasis Jurnalisme Warga (Citizen Journalism)” oleh Almaz Shabrina  dan tim.

Karya-karya yang diprakarsai oleh mahasiswa Ilmu Komunikasi UMY ini menarik dan layak untuk diperbincangkan. Pasalnya melalui karya-karya tersebut, mereka memiliki program untuk mengangkat dan memfasilitasi kaum marginal yang sering diabaikan oleh masyarakat untuk menulis dan menceritakan kisah hidupnya dari sudut pandang mereka sendiri.

Berikut ini sedikit gambaran mengenai karya yang diprakarsai oleh para alumni mahasiswa Ilmu Komunikasi UMY tersebut. Yuk, disimak!

1. Tema karya yang diangkat oleh Erwin Rasyid dan tim adalah advokasi perempuan pekerja seks melalui buku

ilustrasi advokasi karya tulis berbasis perjuangan kaum marginal yang dibuat oleh mahasiswa Prodi Ilmu Komunikasi UMY. (dok. Universitas Muhammadiyah Yogyakarta)
ilustrasi advokasi karya tulis berbasis perjuangan kaum marginal yang dibuat oleh mahasiswa Prodi Ilmu Komunikasi UMY. (dok. Universitas Muhammadiyah Yogyakarta)

Tema karya yang diangkat oleh Erwin Rasyid dan tim adalah advokasi perempuan pekerja seks melalui buku. Pada dasarnya, ia memfasilitasi ruang advokasi bagi para Perempuan Pekerja Seks (PPS) di Yogyakarta melalui Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) Bidang Pengabdian Masyarakat dengan menerbitkan buku hasil tulisan Komunitas PPS.

Sehingga, karya ini benar-benar lahir dari buah tangan anggota Komunitas PPS di Yogyakarta. Program ini berhasil mendapatkan pendanaan melalui skema PKM Pengabdian Masyarakat di tahun 2015.

“Awal konsep ini muncul ketika polemik isu pembubaran lokalisasi Dolly yang sedang trending di media saat itu. Perspektif yang diterima masyarakat hanya dari satu sisi yaitu media massa. Sedangkan perspektif dan narasi yang bersumber dari PPS tergusur belum ada. Sehingga hal ini menjadi konsen bagi kami untuk menyampaikan perspektif dari PPS terkait kondisi yang mereka alami,” ujar Erwin.

2. Erwin dan tim juga melakukan observasi mengenai apa dan bagaimana pekerja seks serta cara pandang yang memanusiakan PPS

ilustrasi karya tulis berbasis perjuangan kaum marginal yang dibuat oleh mahasiswa Prodi Ilmu Komunikasi UMY. (dok. Universitas Muhammadiyah Yogyakarta)
ilustrasi karya tulis berbasis perjuangan kaum marginal yang dibuat oleh mahasiswa Prodi Ilmu Komunikasi UMY. (dok. Universitas Muhammadiyah Yogyakarta)

Program yang dilakukan Erwin dapat berjalan dengan adanya bantuan dari Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Daerah Istimewa Yogyakarta dan Perhimpunan Perempuan Pekerja Seks Yogyakarta (P3SY), terutama dalam proses pendekatan kepada para PPS. Bersama PKBI, Erwin dan tim juga melakukan observasi serta proses belajar bersama dengan P3SY.

Proses tersebut semacam reorientasi mengenai apa dan bagaimana pekerja seks serta cara pandang yang memanusiakan PPS. Hal ini dilakukan dengan harapan dapat membuat para PPS lebih nyaman dalam mengikuti program kolaborasi yang akan dijalankan.

Hingga akhirnya, program ini dapat terlaksana di tiga wilayah sekaligus yaitu Sarkem, Ngebong, dan Giwangan. Anggota tim PKM UMY yang terdiri dari lima orang dibagi ke tiga wilayah tersebut dengan masing-masing ditemani pendamping dari PKBI.

“Tujuan dari program ini adalah agar perempuan-perempuan ini menulis kisah hidup mereka dan dapat dibawa ke konferensi internasional untuk menunjukkan bahwa sebenarnya mereka tidak menerima nasib begitu saja. Mereka adalah korban dari kejahatan sosial. Ini merupakan salah satu cara untuk menyampaikan apa yg mereka alami sehingga dapat menghilangkan stigma negatif dari masyarakat serta menunjukkan jika mereka mempunyai pilihan, mereka tidak akan melakukan pekerjaan itu,” kata Dea Tiara, mahasiswa Ilmu Komunikasi UMY yang terlibat dalam tim pendampingan PPS.

3. Sementara, Almaz Shabrina dan timnya mendampingi kaum marginal untuk dapat meningkatkan kapasitas dan kemampuan mereka

ilustrasi kaum marginal muda (instagram.com/taringbobby)
ilustrasi kaum marginal muda (instagram.com/taringbobby)

Sama halnya dengan program dari Erwin dan tim, Almaz Shabrina dan empat orang mahasiswa Ilmu Komunikasi UMY lainnya juga memfasilitasi kaum marginal muda. Mereka mendampingi kaum marginal untuk dapat meningkatkan kapasitas, serta kemampuan untuk melakukan berbagai kegiatan jurnalistik.

Almaz Shabrina memilih anak jalanan sebagai fokus dari pengembangan programnya, di mana ia memiliki program berupa pelatihan jurnalisme yaitu menulis berita dan mempraktikkannya secara langsung. Selanjutnya, hasil dari praktik membuat berita dikumpulkan, dievaluasi, dan dicetak sebagai buku kumpulan berita karya anak-anak kaum marginal.

Selain itu, program ini memiliki tujuan untuk menciptakan kemandirian melalui produksi buku yang dapat dipasarkan sebagai bentuk penerapan dari kewirausahaan. Pertimbangan Almaz dan rekan-rekannya dalam mengambil program tersebut adalah minimnya probabilitas keluarga miskin dalam melangsungkan dan mengembangkan usaha, banyak anak-anak di bawah umur yang sudah mencari nafkah sendiri untuk mencukupi kebutuhan ekonomi, serta banyak di antara mereka yang tidak bersekolah dan lebih memilih untuk mengamen dan menjadi anak jalanan.

Program yang diprakarsai Almaz dan rekan-rekannya berhasil lolos ke Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) tahun 2014. Almaz kini berkarier di sebuah agency periklanan digital.

4. Karya-karya dari alumni Mahasiswa Ilmu Komunikasi UMY ini memiliki nilai multikultur yang luar biasa

ilustrasi bedah kasus karya tulis berbasis perjuangan kaum marginal yang dibuat oleh mahasiswa Prodi Ilmu Komunikasi UMY. (dok. Universitas Muhammadiyah Yogyakarta)
ilustrasi bedah kasus karya tulis berbasis perjuangan kaum marginal yang dibuat oleh mahasiswa Prodi Ilmu Komunikasi UMY. (dok. Universitas Muhammadiyah Yogyakarta)

Dr. Fajar Junaedi, ketua Program Studi Ilmu Komunikasi UMY mengatakan bahwa karya-karya dari alumni Mahasiswa Ilmu Komunikasi UMY di atas memiliki nilai multikultur yang luar biasa. Karya mereka memfasilitasi masyarakat di wilayah subaltern yang selama ini tidak diperhatikan dengan baik oleh masyarakat.

Hal ini menunjukkan implementasi dari Tri Dharma perguruan tinggi, terutama dalam hal pengabdian yang berpandangan pada komunikasi yang memiliki wawasan multikultur. Melihat manfaatnya yang cukup besar, karya ini pun diharapkan bisa meluaskan dampak positifnya ke masyarakat yang lebih lebar.  

5. Ini karena IP-COS memiliki visi yang sama, yakni untuk menyuarakan kelompok marginal sebagai refleksi atas perspektif multikultur

ilustrasi kaum marginal (instagram.com/mike_blaut)
ilustrasi kaum marginal (instagram.com/mike_blaut)

Sebagai bagian dari Prodi Ilmu Komunikasi UMY, IP-COS memiliki visi yang sama untuk menyuarakan kelompok-kelompok marginal sebagai refleksi atas perspektif multikultur. Hal ini ditegaskan dalam konten perkuliahan berikut penugasannya yang memegang prinsip tersebut, hingga nanti di tahun-tahun berikutnya mereka mampu memproduksi karya yang merupakan perpanjangan tangan kelompok-kelompok marginal.

Jaringan akademis global dari IP-COS memberikan kesempatan pada mahasiswa untuk membuat karya mereka mampu diakses secara global pula. International Program of Communication Studies (IP-COS) sendiri merupakan program internasional yang ada di bawah naungan Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) dalam rangka mendukung visi internasionalisasi UMY.

Program ini baru dimulai pada tahun ajaran 2020/2021 dengan menawarkan konsentrasi pada bidang Public Relations (PR). Sebagai program baru, IP-COS memiliki semangat yang sama dengan Program Studi Ilmu Komunikasi UMY dalam menghargai perbedaan dan keberagaman, terutama dalam mendorong dan mengarahkan mahasiswanya untuk menghasilkan karya yang mendukung keberagaman di masyarakat dengan melihat melalui potret berbeda.

Demikian ulasan mengenai dua karya yang berhasil dibuat oleh alumni mahasiswa Prodi Ilmu Komunikasi UMY, yang memperjuangkan keadilan bagi kaum marginal. Semoga hal tersebut dapat terus diaplikasikan oleh para mahasiswa UMY, gak hanya dalam tugas, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari, ya!

Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Pinka Wima Wima
Muhammad Tarmizi Murdianto
Pinka Wima Wima
EditorPinka Wima Wima

Related Articles

See More

6 Cara Support Pasangan Penyuka Sepak Bola Saat Piala Dunia 2026

12 Jun 2026, 08:01 WIBLife