5 Rekomendasi Buku Bacaan Raditya Dika, Bikin Makin Cerdas

- Die With Zero karya Bill Perkins- Perspektif menarik soal uang, waktu, dan arti hidup- Mendorong pengalaman bermakna dengan menggunakan uang secara bijak
- How to Win Friends & Influence People karya Dale Carnegie- Buku pengembangan diri populer sejak 1936- Berisi strategi komunikasi dan membangun hubungan positif
- Real Artist Don’t Starve karya Jeff Goins- Membongkar stereotip bahwa seniman harus menderita- Menjelaskan pentingnya mentor, kolaborasi, dan menemukan peluang
Siapa sih yang tidak kenal dengan Raditya Dika? Komedian, penulis, sekaligus sutradara ini merupakan seorang kutu buku yang kerap kali membagikan perspektif menarik dari bacaannya. Bagi laki-laki kelahiran 1984 ini, buku lebih dari sekadar tumpukan kertas bertinta, tapi investasi otak yang mampu mengubah cara pandang seseorang terhadap dunia.
Nah, kalau kamu sedang mencari referensi bacaan yang tidak hanya menghibur, tapi juga berdampak nyata bagi pengembangan diri, berikut daftar buku bacaan Raditya Dika yang bisa jadi panduan dan sumber inspirasi kamu.
1. Die With Zero karya Bill Perkins

Bill Perkins melalui Die With Zero menyajikan perspektif yang menarik soal uang, waktu, dan apa yang sebenarnya bikin hidup berarti. Pernah mendengar pernyataan klasik bahwa menabung sebanyak-banyaknya adalah kunci agar masa tua terjamin? Dari pernyataan itu, kita seolah ditekankan untuk menunda kebahagiaan sebagai investasi masa depan.
Nah, di Die With Zero, Bill Perkins justru mengatakan untuk memaksimalkan pengalaman, menjalani hidup seoptimal mungkin dengan menggunakan uang untuk menciptakan momen bermakna di waktu yang tepat. Sebab, kita mati bukan sebagai orang yang punya banyak harta, melainkan mati dengan penuh kenangan dan pengalaman berharga.
Namun, hal ini bukan berarti Bill Perkins bersikap tidak peduli pada perencanaan hidup, ya. Ia tidak mengajarkan kita menjadi boros dan tidak bertanggung jawab secara finansial, melainkan mendorong kita untuk lebih bijak mengoptimalkan sumber daya yang sifatnya terbatas. Sumber daya yang dimaksud adalah waktu, tenaga, dan kesehatan. Tidak mungkin, kan, kita ada dalam kondisi yang prima terus menerus? Waktu, tenaga, dan kesehatan kita akan menurun hingga pada akhirnya hilang.
2. How to Win Friends & Influence People karya Dale Carnegie

Karya-karya Dale Carnegie memang populer dan menjadi best-seller di berbagai negara, termasuk Indonesia. Raditya Dika sebagai seorang publik figur pun menjadi salah satu pembaca karya Carnegie yang berjudul How to Win Friends & Influence People.
Buku ini merupakan buku pengembangan diri yang diterbitkan pertama kali pada tahun 1936 dan dikukuhkan sebagai buku paling laris sepanjang masa. Sebagaimana judulnya, dengan tebal 302 halaman, buku ini berisi tentang seni berkomunikasi dan teknik dasar dalam membangun hubungan yang positif antarmanusia.
Ada strategi-strategi penting yang akan kamu temukan ketika membaca How to Win Friends & Influence People, di antaranya: cara membuat orang menyukaimu, cara meyakinkan agar orang menerima pemikiranmu, cara memengaruhi orang lain tanpa membuat mereka tersinggung, dan masih banyak lagi. Selain membantu kamu meningkatkan kualitas diri, buku ini juga dapat membantumu mencapai kesuksesan karier di dunia profesional.
3. Real Artist Don’t Starve karya Jeff Goins

Rekomendasi buku berikutnya adalah Real Artist Don’t Starve karya Jeff Goins. Sesuai dengan namanya, buku ini membongkar stereotip lama bahwa menjadi kreatif berarti harus hidup dalam kekurangan. Gagasan lama itu memberikan pemahaman kepada masyarakat luas bahwa seorang seniman harus menderita dan berjuang untuk mencari nafkah. Padahal, menurut Goins, seniman sejati justru tidak kelaparan. Adapun seniman yang dimaksud dalam buku ini mengacu pada profesi yang melibatkan kreativitas atau pada orang yang berkarier di bidang kreatif seperti penulis, pelukis, musisi, dan lain-lain.
Goins menegaskan bahwa perbedaan antara seniman yang menderita dan seniman yang berhasil terletak pada pola pikir mereka dalam memandang kehidupan dan peluang, bukan pada bakatnya. Melalui Real Artist Don’t Starve, Goins menjelaskan tentang pentingnya mentor, kolaborasi serta kompetensi, dan menemukan peluang.
4. Me Talk Pretty One Day karya David Sedaris

David Sedaris adalah seorang humoris asal Amerika yang dikenal karena gaya berceritanya yang tajam, unik, dan jenaka. Me Talk Pretty One Day (2000) merupakan buku karyanya yang berisi kumpulan esai best-seller. Buku ini mengisahkan pengalaman sang penulis yang disajikan dengan gaya bahasa lucu dan cerdas.
Me Talk Pretty One Day terbagi menjadi dua bagian. Bagian pertama bercerita tentang kehidupan Sedaris sebelum pindah ke Normandia, Prancis, termasuk masa kecilnya di North Carolina dan pengalaman bekerjanya di New York. Kemudian, bagian kedua yang berjudul “Deux” bercerita tentang pengalaman konyolnya selama menetap di Normandia, Prancis.
5. The New CEO karya Dr. Ty Wiggins

The New CEO berisi tentang cara sukses menjadi CEO baru berdasarkan pandangan dan pemikiran Dr. Ty Wiggins. Melalui riset mendalam terhadap ratusan CEO dunia, The New CEO menyajikan panduan praktis pagi pemimpin baru dalam mengelola tim dan budaya organisasi.
Di buku ini, kamu akan menemukan penjelasan tentang mengapa CEO dianggap pekerjaan tersulit dalam bisnis dan bagaimana cara mengatasinya, bagaimana cara mengatur mental agar tidak terbebani dengan ratusan target di hari pertama, serta tips agar tidak terjebak dalam rasa bangga yang berlebihan dan cara cerdas melalui berbagai macam rintangan. Dr. Ty Wiggins dalam bukunya mengingatkan bahwa seorang CEO tidak bisa bergerak sendirian. Oleh karena itu, membangun hubungan yang sehat dengan tim merupakan hal yang amat penting.
Beragam, kan, rekomendasi buku bacaan yang disajikan. Mulai dari urusan mengelola keuangan, menjalin hubungan antarsesama, hingga rahasia sukses menjadi seorang pemimpin baru. Jadi, dari daftar di atas, buku mana yang ingin kamu baca lebih dulu?



















