5 Tanda Buku Cuma Jadi Pajangan Aesthetic di Kamar, Bermanfaat!

Melihat rak buku yang rapi memang bisa bikin hati kamu terasa hangat sekaligus bangga. Sampul warna-warni berjajar seperti pelangi kecil yang memberi kesan bahwa pemiliknya cinta ilmu. Banyak orang, mungkin termasuk kamu, merasa lebih "berisi" hanya karena kamar dipenuhi buku tebal. Padahal kehadiran buku gak otomatis berarti ada aktivitas membaca di sana. Buku bisa saja berubah fungsi jadi dekorasi mirip vas bunga atau bingkai foto. Fenomena ini makin sering terjadi sejak tren kamar aesthetic berseliweran di media sosial. Tanpa sadar, kamu mungkin ikut arus yang sama.
Gak ada yang salah dengan menata kamar supaya enak dilihat oleh mata kamu. Masalahnya muncul ketika buku kehilangan peran utamanya sebagai jendela pengetahuan. Kamu membeli judul baru demi serasi dengan warna dinding, bukan demi rasa ingin tahu. Rak yang penuh justru membuat ilusi seolah kamu sudah cukup membaca. Banyak orang terjebak pada identitas semu sebagai pencinta buku. Kalau kamu mulai ragu, coba perhatikan beberapa tanda berikut dengan jujur. Siapa tahu ada kebiasaan kecil yang perlu kamu benahi.
1. Kamu lebih sering menata daripada membuka halaman

Setiap akhir pekan kamu sibuk memindahkan posisi buku supaya terlihat makin estetik. Tebal tipisnya diatur seperti menyusun dekorasi kafe kekinian. Kamu hafal betul urutan warna punggung buku, tapi gak hafal isi bab pertamanya. Sentuhan tangan kamu lebih sering untuk mengelap debu daripada membalik halaman. Aktivitas menata terasa lebih menyenangkan dibanding membaca beberapa menit. Buku pun diperlakukan seperti properti foto, bukan teman berpikir. Perlahan fungsi utamanya mulai menghilang dari hidup kamu.
Saat ada buku baru datang, yang pertama kamu pikirkan adalah cocok gak dengan tema kamar. Kamu membayangkan sudut mana yang paling instagramable untuk memajangnya. Membaca justru menjadi rencana nomor sekian yang mudah ditunda. Kebiasaan ini membuat hubungan kamu dengan buku jadi dangkal. Buku hadir sebagai objek visual, bukan sumber dialog batin. Kalau skenario ini terasa akrab, bisa jadi rak kamu sedang berubah jadi etalase. Dan kamu belum benar-benar menyadarinya.
2. Kamu membeli buku demi konten media sosial

Setiap kali melihat influencer memegang buku tertentu, kamu langsung tergoda ikut punya. Judul yang sedang viral terasa seperti tiket masuk ke lingkaran pergaulan digital. Setelah buku tiba, kamu memotret dari berbagai sudut dengan properti lilin dan kopi. Foto itu mendapat banyak suka dan komentar yang bikin hati kamu senang. Namun setelah sesi foto selesai, buku kembali tergeletak tanpa pernah dibuka. Tujuan utama membeli pun diam-diam sudah bergeser.
Kamu merasa sudah cukup dekat dengan dunia literasi hanya lewat unggahan. Padahal interaksi kamu dengan buku berhenti sebatas permukaan sampul. Algoritma menentukan selera baca kamu lebih kuat daripada rasa penasaran pribadi. Lama-lama kamu lupa alasan awal mencintai buku. Yang dikejar bukan lagi makna, melainkan validasi warganet. Buku menjadi alat pencitraan yang tampak keren dari luar. Sementara isinya tetap sunyi tanpa sentuhan mata kamu.
3. Tumpukan buku kamu lebih cepat bertambah daripada daftar selesai baca

Setiap bulan rak kamu menerima penghuni baru dengan kecepatan mengagumkan. Diskon toko buku terasa seperti panggilan perang yang sulit kamu tolak. Anehnya, daftar buku yang benar-benar tamat gak bertambah secepat belanjaan. Kamu meyakinkan diri bahwa semua judul itu akan dibaca suatu hari nanti. Hari itu terus bergeser entah ke kapan. Sementara tumpukan makin tinggi seperti menara impian. Buku lama pelan-pelan tenggelam oleh pendatang baru.
Melihat tumpukan itu, kamu justru merasa sudah berbuat banyak untuk hobi membaca. Padahal yang terjadi baru sebatas mengoleksi benda fisik. Ada jarak lebar antara memiliki buku dan menyelami isinya. Kebiasaan menimbun membuat kamu kehilangan prioritas membaca. Setiap judul hanya menjadi angka di rak, bukan pengalaman di kepala. Kamu sibuk mengejar rasa memiliki, bukan rasa memahami. Di sinilah pajangan mulai menang telak atas esensi.
4. Kamu lebih hafal harga daripada pesan bukunya

Saat teman bertanya tentang sebuah judul, kamu dengan cepat menyebut harga dan tempat belinya. Informasi itu mengalir lancar seperti kasir toko berjalan. Namun ketika ditanya isi ceritanya, kamu mendadak kehabisan kata. Paling jauh kamu mengulang sinopsis belakang buku yang dulu sempat kamu baca sekilas. Pengetahuan kamu berhenti pada lapisan luar yang bisa dilihat mata. Buku gak pernah benar-benar masuk ke ruang pikir kamu.
Kebiasaan ini membuat kamu mirip kolektor barang antik yang bangga pada label harga. Nilai buku diukur dari diskon, edisi, dan kelangkaannya saja. Makna yang seharusnya mengendap justru gak pernah disentuh. Kamu mungkin merasa dekat dengan dunia literasi, padahal hanya berdiri di terasnya. Setiap judul menjadi trofi bisu di rak kamar. Dan kamu puas hanya dengan melihat punggungnya berjajar rapi. Buku berubah jadi angka, bukan cerita.
5. Kamu merasa sayang membaca karena takut merusak tampilan

Ada rasa aneh ketika hendak membuka buku baru milik kamu. Kamu takut lipatan kecil akan merusak keindahan punggungnya. Aroma kertas baru terasa terlalu suci untuk disentuh lama. Akhirnya kamu memilih membiarkan buku tetap mulus seperti saat dibeli. Logika ini membuat aktivitas membaca selalu tertunda. Buku diperlakukan seperti barang koleksi museum pribadi.
Kamu lupa bahwa buku memang diciptakan untuk disentuh dan diajak berpetualang. Bekas lipatan justru tanda bahwa ada dialog antara kamu dan penulisnya. Namun demi estetika, kamu mengorbankan pengalaman membaca itu sendiri. Rak kamar memang terlihat sempurna, tapi isinya sepi makna. Buku hanya berfungsi sebagai latar foto yang gak pernah hidup. Di titik ini, pajangan sudah menang mutlak dari tujuan awal.
Melihat tanda-tanda tadi, kamu mungkin merasa sedikit tersindir sekaligus tersenyum. Banyak kebiasaan lahir tanpa niat buruk, hanya terbawa arus tren semata. Buku memang bisa mempercantik kamar, tapi sayang kalau berhenti sampai di sana. Di balik setiap sampul ada dunia luas yang menunggu disentuh oleh pikiran kamu. Estetika seharusnya menjadi bonus, bukan tujuan utama. Membaca tetaplah jantung dari keberadaan sebuah buku.
Kamu gak perlu membongkar rak atau merasa bersalah berlebihan. Cukup mulai langkah kecil untuk mengembalikan fungsi buku di hidup kamu. Buka satu judul yang paling memanggil, baca pelan tanpa target muluk. Biarkan rak aesthetic kamu perlahan berubah jadi rak yang bernyawa. Finally, kamar yang indah akan terasa jauh lebih hangat ketika buku-bukunya benar-benar dibaca oleh kamu.

















