5 Buku yang Membahas Interkoneksi Moral dan Privilese

- Moralitas seseorang sangat dipengaruhi oleh privilese dan kondisi hidup yang ia miliki.
- Ketimpangan sosial dapat mengaburkan kompas moral, baik pada pihak yang kurang beruntung maupun yang berprivilese.
- Lima buku ini mengajak pembaca memahami relasi kompleks antara moral, privilese, dan struktur sosial.
Kompas moral itu ternyata tidak hanya soal kemampuan menentukan baik dan buruk sebuah perilaku. Nyatanya, ada banyak faktor yang memengaruhi bagaimana kita melihat dan meyakini moralitas, salah satunya keberadaan privilese atau hak istimewa yang melekat sejak kita lahir atau diperoleh setelah bertahun-tahun menjalani hidup. Bahasan ini pernah disenggol Reginald Williams dalam tulisannya berjudul "Morality and Privilege" untuk Journal of Moral Philosophy.
Ia mencontohkan perbedaan kemampuan orang untuk membeli produk yang mementingkan etika—seperti terkait keberlanjutan lingkungan dan kondisi kerja yang layak—karena harganya jelas bakal lebih mahal. Artinya, untuk bisa menaruh moral dalam skala prioritas, seseorang butuh privilese. Pihak yang kurang beruntung (unprivileged), seperti butuh upaya ekstra untuk bertahan hidup, sayangnya kerap tak bisa menaruh moralitas dalam skala prioritas. Namun, Williams juga berargumen kalau manusia pun punya perbedaan persepsi moralitas yang berakar dari keberagaman kultur dan standar rasa bersalah yang bersifat relatif. Biar makin paham, kamu bisa pakai lima buku fiksi dan nonfiksi berikut. Dijamin makin peka!
1. Beloved (Toni Morrison)

Beloved adalah salah satu novel terlaris Toni Morrison yang cukup menarik buat menjelajahi interkoneksi moralitas dan privilese. Ia memakai POV Sethe, perempuan eks budak yang dihantui rasa bersalahnya atas kematian putri tertuanya. Ia bahkan percaya kepergian anak-anaknya yang lain merupakan buah dari kesalahannya itu. Perlahan, kita diajak menyelami masa lalu Sethe dan kaitan erat antara kematian putrinya dengan trauma ekstrem akibat perbudakan sistemis yang harus dijalani Sethe bertahun-tahun. Toni Morrison seolah mengingatkan kita kalau insting bertahan hidup kerap membuat moralitas kita kabur.
2. Paradais (Fernanda Melchor)

Paradais adalah novel berlatar Meksiko yang mengangkat isu ketimpangan kelas, privilese, misogini, dan moralitas. Ia ditulis dari perspektif dua remaja laki-laki bernama Polo dan Franco yang punya latar belakang berbeda, tetapi sepakat soal satu hal. Polo lahir di tengah keluarga kurang mampu yang harus bekerja dengan upah rendah untuk bertahan hidup. Itu bertolak belakang dengan Franco yang tinggal di salah satu rumah mewah dan kerap memanjakan dirinya dengan bersenang-senang sesuka hati.
Suatu hari, Franco mengutarakan niat bejatnya kepada salah satu penghuni rumah mewah yang sudah mereka awasi beberapa waktu. Polo yang sebenarnya tak tertarik dengan ide itu akhirnya mengamini ajakan sang kawan karena keinginannya untuk mencuri harta benda di rumah itu. Novel yang mengganggu ini berhasil menjelajahi bagaimana keberadaan dan ketiadaan privilese bisa memengaruhi cara orang mengambil sikap.
3. The Secret History (Donna Tartt)

Keberadaan privilese justru mengubah bagaimana para tokoh dalam novel The Secret History memandang moralitas. Plot novel ini berkutat pada para anggota klub elite di sebuah kampus ternama. Mereka punya banyak hak istimewa yang perlahan menciptakan efek impunitas. Memudarnya persepsi rasa bersalah dan minimnya konsekuensi yang harus mereka tanggung karena kedudukan sosial dan ekonomi mereka pun berimplikasi ekstrem. Secara tak langsung, The Secret History juga membahas bahaya dari kecintaan manusia terhadap uang yang kerap melebihi penghargaan kita akan nyawa dan nasib sesama.
4. Evicted: Poverty and Profit in the American City (Matthew Desmond)

Evicted adalah buku nonfiksi yang ditulis Matthew Desmond sebagai kritik akan sistem kapitalisme Amerika Serikat. Ia mengikuti kehidupan delapan keluarga yang jadi harus kehilangan tempat tinggal mereka pada krisis ekonomi 2008. Mereka terpaksa menyewa dan justru mengalami kemalangan lain karena biaya sewa yang bisa memakan setengah penghasilan bulanan mereka. Dalam kondisi tak menguntungkan ini, moralitas mereka mengalami degradasi. Ada yang terjebak dalam adiksi narkoba dan mengalami stres kronis yang berakibat pada relasi internal keluarga. Pada saat bersamaan, tak sedikit orang berprivilese, seperti tuan tanah atau pemilik apartemen, yang justru mengambil keuntungan, melupakan empati dan moralitas.
5. The Brother Karamazov (Fyodor Dostoevsky)

Novel ini membicarakan dinamika relasi satu keluarga yang diliputi banyak privilese, terutama soal harta. Mereka diceritakan diliputi kenyamanan materi. Tak ada yang perlu mereka khawatirkan soal uang, tetapi justru keberadaan harta itu yang mendorong berbagai penyimpangan moral dalam keluarga tersebut. Dimulai dengan perebutan harta warisan, kesewenang-wenangan dan berbagai hal-hal nonetis lain didasari oleh keinginan mereka mencari bentuk kepuasan lain selain materi.
Rekomendasi buku tentang interkoneksi moralitas dan privilese bisa jadi bahan refleksi menarik tahun ini. kelimanya juga bisa kamu pakai untuk memahami bagaimana dunia bekerja. Tertarik baca yang mana dulu, nih?


















