5 Bentuk Hukuman yang Tidak Tepat untuk Anak, Bikin Trauma!

Konsep reward and punishment atau memberikan hadiah dan hukuman tak jarang dipilih orangtua sebagai cara untuk membentuk perilaku anak. Perilaku anak yang positif dikuatkan dengan pemberian hadiah, sedangkan perilaku negatif coba dihilangkan dengan menghukum anak.
Walaupun konsep ini sering diterapkan oleh sebagian orangtua, berhatilah-hatilah bila ingin mengikutinya. Dalam hal memberikan hukuman pada anak saja, kita tidak boleh sembarangan.
Salah-salah bukannya menghilangkan perilaku negatif anak, hukuman tersebut justru membuatnya bertambah parah atau memunculkan efek buruk lainnya. Seperti lima bentuk hukuman di bawah ini yang wajib dihindari.
1. Hukuman yang menimbulkan luka fisik maupun psikis

Jika anak sampai terluka baik secara fisik maupun psikisnya, artinya hukuman yang diberikan pasti sudah berlebihan dan menjadi tidak tepat sasaran. Ini seperti kita seharusnya hanya membuat cekungan pada tanah liat, tetapi kita justru melubanginya sekalian.
Persoalannya, luka fisik maupun psikis yang dialami anak akibat hukuman orangtua tak sama dengan tanah liat yang masih dapat dibentuk atau diperbaiki kembali. Sampai usia dewasa, bisa sulit baginya untuk terbebas dari ingatan buruk akan hukuman tersebut.
Bahkan, hubungan anak dengan orangtua dapat menjadi renggang. Anak tak lagi merasakan aman saat bersama orangtua dan diam-diam membencinya. Kita tentu tak ingin berhenti dicintai oleh anak sendiri, kan?
2. Hukuman tanpa mempertimbangkan penjelasan anak

Salah atau benar pada akhirnya juga dipengaruhi oleh penjelasan mengapa sesuatu sampai bisa terjadi. Misal, anak kita dilaporkan oleh temannya lantaran menendangnya dengan amat keras.
Kalau hanya dilihat sampai di sini, anak kita jelas salah. Akan tetapi bila ia diberi kesempatan untuk menjelaskan perilakunya, barangkali anak menjadi tidak pantas buat dihukum.
Contohnya, ia menendang temannya hanya untuk membebaskan diri dari perundungan yang dialaminya. Ia dipepet oleh tubuh besar temannya dan tak bisa mencari pertolongan. Ia kemudian menendang bagian tubuh temannya demi terhindar dari perundungan yang lebih hebat.
3. Hukuman yang tidak mendidik

Kebiasaan memberikan hukuman secara asal untuk sebuah kesalahan masih kerap dijumpai di sekitar kita. Hukuman tersebut tidak nyambung dengan perilaku negatif yang akan coba diperbaiki.
Bahkan, hukuman yang diberikan tak menjadi stimulus untuk terbentuknya perilaku lain yang positif. Misalnya, menghukum anak yang tidak mengerjakan PR dengan menyuruhnya berjoget atau berdiri dengan satu kaki.
Kalau anak memang suka berjoget, dia malah menganggap hukuman tersebut sebagai lelucon saja. Sementara itu, hukuman berdiri dengan satu kaki cuma membuat salah satu betisnya pegal. Sama sekali tak mendorongnya untuk lebih rajin belajar dan mengerjakan PR.
4. Hukuman dengan penerapaan yang tak konsisten

Sikap tidak konsisten orangtua dalam memberikan hukuman dapat tergambar dari dua kasus berikut ini. Pertama, anak sengaja mengulangi sebuah kesalahan. Namun, orangtua tak memberikan hukuman seperti ketika ia pertama kali melakukan kesalahan tersebut.
Kasus kedua, saat anak yang bersalah, ia dihukum. Akan tetapi ketika saudaranya yang berbuat, sikap orangtua melunak. Ini bakal membuat anak merasa dianaktirikan. Bukannya memperbaiki perilaku, anak justru akan makin berulah sebagai bentuk pemberontakan atas ketidakadilan yang diterimanya.
5. Hukuman tanpa dibarengi penjelasan orangtua akan kesalahan anak dan dampaknya

Anak melakukan sesuatu, tahu-tahu dihukum. Siapa yang tak bingung kalau begini? Bahkan orang dewasa yang mendapatkan perlakuan serupa saja pasti bingung, apalagi anak-anak.
Makanya, orangtua tidak boleh menganggap hukuman sebagai segala-galanya dalam pembentukan perilaku anak. Ada yang lebih penting daripada punishment, yaitu penjelasan atas perbuatan anak dan dampaknya.
Penjelasan ini akan membuat anak memperoleh pengetahuan baru yang masuk akal tentang alasan suatu perilaku harus ditinggalkan. Sekalipun memberikan penjelasan pada anak lebih makan waktu ketimbang langsung menghukumnya, perubahan perilakunya pasti lebih menetap.
Hukuman bukanlah sesuatu yang wajib ada dalam mendidik anak. Boleh dilakukan, tetapi jangan berlebihan dan orangtua harus sangat mengerti hukuman yang efektif untuk setiap bentuk kesalahan. Bukan hanya agar anak merasa takut dan tertekan, ya!



















