Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Pertumbuhan Ekonomi Sulit, Kelas Menengah Indonesia Semakin Menyusut

Pertumbuhan Ekonomi Sulit, Kelas Menengah Indonesia Semakin Menyusut
ilustrasi ekonomi digital (pexels.com/Leeloo The First)
Intinya Sih
  • Kelas menengah Indonesia menyusut lebih dari 11 juta orang sejak 2019, sementara kelompok aspiring middle class dan rentan miskin terus meningkat hingga 2025.
  • Sekitar tiga perempat penduduk berada di kelompok non-penggerak ekonomi, menunjukkan tekanan ekonomi yang membuat konsumsi nasional bergantung pada kelompok berdaya beli rendah.
  • Pemerintah menyoroti pertumbuhan ekonomi 5,61 persen pada awal 2026 dan mendorong penguatan fondasi domestik meski kesenjangan antar kelas ekonomi masih melebar.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Jakarta, IDN Times - Pertumbuhan ekonomi Indonesia patut mendapatkan perhatian yang lebih dalam. Badan Pusat Statistik (BPS) membagi tingkat kelas ekonomi masyarakat Indonesia menjadi lima kategori utama berdasarkan perbandingan pengeluaran bulanan per kapita terhadap Garis Kemiskinan (GK) nasional.

Ada orang-orang yang menduduki kelas atas (upper class), kelas menengah (middle class), kelas menuju menengah (aspiring middle class), rentan miskin (vulnerable), dan miskin (poor). Data Indonesia Millenial and Gen Z Report 2027 membedah fenomena tersebut dalam artikel ini.

1. Kelas menengah Indonesia terus menyusut

ilustrasi masyarakat Indonesia yang harmoni
ilustrasi masyarakat Indonesia yang harmoni (unsplash.com/firman fatthul)

Data Indonesia Millennial and Gen Z Report 2027 menggambarkan bagaimana kondisi ekonomi masyarakat Indonesia sekarang. Lewat data dari Mandiri Institute, penduduk kelas menengah di Indonesia berkurang 1,2 juta lebih tajam daripada tahun sebelumnya. Sepanjang periode tahun 2019-2025, kelompok kelas menengah bawah (middle class) berkurang lebih dari 11 juta orang, sementara kelompok Upper Aspiring Middle Class cenderung stagnan di bawah ambang batas kelas menengah.

Sementara, tingkat ekonomi dalam kategori rentan miskin dan miskin justru semakin meningkat sebesar 416 ribu orang. Sedangkan, kelas aspiring middle class justru membengkak. Kelompok tersebut merupakan kategori masyarakat yang berada di garis rentan miskin tetapi belum masuk kategori menengah. Dari 137,5 juta orang di kelompok tersebut kemudian meningkat menjadi 142 juta orang pada tahun 2025.

Kelompok rentan miskin meningkat dari 67,7 juta di tahun 2024 menjadi 67,9 juta orang di tahun 2025. Kelompok miskin menurut dari 25,2 juta ke 23,9 juta. Kelas atas hanya 0,4 persen dari total populasi, yaitu 1,2 juta.

2. Mayoritas penduduk Indonesia ada di kelompok non-penggerak ekonomi

ilustrasi masyarakat Indonesia yang harmoni
ilustrasi masyarakat Indonesia yang harmoni (unsplash.com/Estefania Rainie)

Data dari Mandiri Institute menunjukkan, bahwa banyak penduduk Indonesia berada di kelompok aspiring middle class dan vulnerable (rentan miskin). Sekitar tiga perempat penduduk Indonesia dikenal sebagai mesin utma konsumsi dan pertumbuhan ekonomi nasional

Penurunan tersebut merupakan gambaran dari adanya tekanan ekonomi yang dirasakan oleh masyarakat Indonesia. Proporsi kelas aspiring middle class dan vulnerable lebih ebsar dibanding kelas menengah dan atas yang berperan sebagai penggerak ekonomi. Artinya, sebagian besar masyrakat berada dalam kelompok non-penggerak ekonomi.


3. Masyarakat dalam kelompok aspiring middle class rentan jatuh ke kelompok poor

ilustrasi masyarakat Indonesia yang harmoni
ilustrasi masyarakat Indonesia yang harmoni (unsplash.com/Mufid Majnun)

Dilansir Ombudsman, masyarakat yang berada dalam kelompok aspiring middle class berada dalam posisi yang rentan masuk ke kelompok miskin (poor). Kerentanan ini disebabkan oleh berbagai faktor seperti pemutusan hubungan kerja (PHK), keterbatasan terhadap perlindungan hak-hak dasar pekerja, dan sempitnya peluang kerja di tengah pesatnya AI.

Selain itu, masyarakat kini dimudahkan oleh adanya akses pinjaman online. Dengan begitu, masyarakat yang kurang akan literasi finansial sangat mungkin terjebak dalam rumah tangga yang penuh siklus utang. Itulah yang menyebabkan kemiskinan struktural makin meluas.

4. Pemerintah menekankan visi ekonomi yang dibangun di atas penguatan fontasi domestik

ilustrasi masyarakat Indonesia
ilustrasi masyarakat Indonesia (pexels.com/AHMAD GHANI)

Presiden Prabowo Subianto telah menghadiri forum Indonesia Economic Outlook 2026 yang diselenggarakan oleh Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian di Jakarta. Forum ini menjadi salah satu wadah komunikasi ekonomi paling strategis di awal tahun.

Dalam pidatonya, Presiden Prabowo menekankan bagaimana visi ekonomi dibangun di atas penguatan fondasi domestik. Ia mengatakan bahwa laporan sejumlah kepala daerah menunjukkan tingkat kemiskinan dan penggangguran terbuka mulai menurun. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) juga mencatat pertumbuhan ekonomi di desa dan kelurahan.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, ekonomi Indonesia pada kuartal pertama di tahun 2026 tumbuh 5,61 persen secara tahunan (year on year), melampaui batas atas target pemerintah. Konsumsi rumah tangga juga menguat ke 5,52 persen YoY, naik dari 4,98 persen sepanjang 2025.

5. Angka pertumbuhan ekonomi dan data penyusutan kelas menengah harus dibaca bersamaan

Ilustrasi ekonomi terguncang
Ilustrasi ekonomi terguncang (IDN Times/Arief Rahmat)

Pertumbuhan ekonomi dan data penyusutan kelas ekonomi masyarakat Indonesia gak bisa dipisahkan. Data yang menunjukkan pertumbuhan ekonomi tersebut menegaskan bahwa ketahanan makroekonomi.

Namun di balik angka tersebut, ada 1,2 juta orang yang turun dari kelompok menengah dan ada 4,5 juta orang yang bergabung dalam kelompok aspiring middle class. Konsumsi per kapita memang naik 4,3 persen, tapi uang yang dibelanjakan masyarakat kini lebih banyak mengalir ke kebutuhan yang tidak bisa ditunda, seperti biaya kesehatan, pendidikan, dan kebutuhan sehari-hari.

Kedua perspektif tersebut sama-sama dibutuhkan. Angka makro untuk melihat gambaran perekonomian secara keseluruhan. Sedangkan, data lainnya menunjukkan kondisi ekonomi yang lebih dekat dengan kehidupan nyata masyarakat.

IDN menggelar Indonesia Summit 2026, sebuah konferensi independen yang khusus diselenggarakan untuk dan melibatkan generasi Milenial dan Gen Z di Tanah Air. Dengan tema "The Next Us: Indonesia's Leap in the Algorithmic Age". Indonesia Summit 2026 bertujuan membentuk dan membangun masa depan Indonesia dengan menyatukan para pemimpin dan tokoh nasional dari seluruh nusantara.

Indonesia Summit 2026 diadakan di Tribrata Dharmawangsa, Jakarta, pada 17-18 Juni 2026. Dalam IS 2026, IDN juga meluncurkan Indonesia Millennial and Gen-Z Report 2027.

Survei ini dikerjakan oleh IDN Research Institute. Melalui survei ini, IDN Media menggali aspirasi dan DNA Milenial dan Gen Z, apa nilai-nilai yang mendasari tindakan mereka. Survei ini menjangkau responden Milenial dan Gen Z di sembilan wilayah di Indonesia, antara lain Sumatra Utara, Kepulauan Riau, Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jakarta Timur, Kalimantan, dan Sulawesi.

Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Muhammad Tarmizi Murdianto
EditorMuhammad Tarmizi Murdianto

Related Articles

See More