Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
4 Tanda Anak sedang Mengalami Tekanan Emosional
ilustrasi anak sedih (pexels.com/Pavel Danilyuk)
  • Tekanan sosial dari lingkungan pertemanan, sekolah, atau media sosial dapat memicu tekanan emosional pada anak yang sering kali tidak terlihat secara langsung.
  • Tanda-tanda utama meliputi perubahan perilaku drastis, menurunnya kepercayaan diri, gangguan tidur dan makan, serta kecenderungan menutup diri dari orang tua.
  • Orangtua perlu peka terhadap perubahan tersebut agar dapat memberikan dukungan emosional dan membantu anak membangun ketahanan mental menghadapi tekanan sosial.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Tekanan sosial pada anak memang bisa muncul dari lingkungan pertemanan, sekolah, atau bahkan media sosial yang membentuk standar tertentu terkait pergaulan pada anak. Kondisi ini memang kerap kali tidak terlihat secara langsung karena anak kerap menyembunyikan perasaan tidak nyaman agar tetap dianggap sebagai bagian dari kelompoknya.

Orangtua harus peka terhadap segala perubahan perilaku yang muncul secara bertahap pada anak, terutama jika sebelumnya anak terlihat percaya diri dan mau terbuka. Dengan mengenali beberapa tanda anak sedang mengalami tekanan emosional, orangtua bisa mengantisipasi segala dampak yang mungkin memengaruhi kondisi kesehatan mentalnya.

1. Perubahan perilaku yang drastis

ilustrasi anak trauma (pexels.com/Vika Glitter)

Salah satu tanda paling umum adalah perubahan perilaku yang terjadi secara mendadak, seperti anak yang berubah menjadi lebih pendiam, mudah marah, atau kerap menarik diri. Perubahan ini memang kerap kali muncul karena anak berusaha menyesuaikan diri dengan tuntutan kelompok, meski sebetulnya ia sedang merasa tidak nyaman atau tertekan.

Anak bisa menunjukkan perilaku yang tidak sesuai dengan nilai-nilai yang diajarkan di rumah, seperti mulai berbicara kasar atau mengikuti kebiasaan temannya agar tidak dikucilkan. Tindakan seperti ini sebetulnya dilakukan sebagai bentuk kompromi sosial, meski di dalam dirinya mungkin muncul konflik atau kebingungan.

2. Menurunnya kepercayaan diri

ilustrasi anak sedang sedih (unsplash.com/Jim Luo)

Tekanan sosial memang bisa membuat anak jadi merasa tidak cukup baik jika dibandingkan dengan teman-temannya, terutama jika ia terlalu sering menerima kritik atau ejekan. Perasaan rendah diri bisa terlihat dari bagaimana cara anak berbicara tentang dirinya sendiri yang cenderung negatif atau selalu penuh dengan keraguan.

Anak mungkin akan menjadi sangat bergantung pada setiap persetujuan teman sebaya sebelum mengambil sebuah keputusan, bahkan untuk hal-hal yang kecil sekali pun. Ketergantungan ini seolah menunjukkan bahwa ia takut ditolak atau tidak diterima oleh lingkungannya, sehingga rasa kepercayaan dirinya pun akan semakin terkikis.

3. Perubahan pola tidur dan nafsu makan

ilustrasi anak tidur (pexels.com/Alex Green)

Tekanan emosional yang diakibatkan oleh tuntutan sosial memang bisa memengaruhi kondisi fisik anak, termasuk pola tidur dan pola makannya. Anak yang kerap mengalami kecemasan biasanya sulit tidur karena pikirannya selalu dipenuhi dengan kekhawatiran terkait penerimaan sosial atau bahkan penilaian dari teman-temannya.

Sebaliknya, ada pula anak yang mungkin tidur sudah berlebihan sebagai bentuk pelarian dari situasi yang kerap membuatnya merasa tertekan. Perubahan fisik seperti ini memang kerap dianggap sepele oleh orangtua, padahal bisa menjadi sinyal bahwa anak sedang menghadapi tekanan yang cukup berat.

4. Enggan bercerita dan menutup diri

ilustrasi anak sedih (unsplash.com/Lucas Metz)

Anak yang mengalami tekanan sosial memang biasanya akan lebih tertutup dan tidak mau bercerita tentang kesehariannya di sekolah atau lingkungan pergaulannya. Anak mungkin kerap menjawab segala pertanyaan dengan singkat atau bahkan mengalihkan pembicaraan pada saat topiknya sudah mulai menyangkut teman-temannya.

Sikap seperti ini bisa muncul karena anak cenderung malu, takut disalahkan, atau bahkan khawatir bahwa orang tua tidak memahami situasi yang dihadapinya. Jika kondisi ini terus dibiarkan, jarak emosional antara anak dan orangtua pun akan semakin lebar, sehingga proses pendampingan menjadi terasa sangat sulit.

Tekanan sosial merupakan bagian dari dinamika pertumbuhan yang dialami anak, namun bukan berarti harus diabaikan. Orangtua harus peka jika rupanya anak sedang mengalami tekanan emosional, sehingga dapat memberikan dukungan dan pendampingan yang tepat. Orangtua harus membantu anak bagaimana caranya membangun ketahanan mental agar bisa menghadapi tekanan sosial dengan kepercayaan diri.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team