“Mom rage adalah fenomena ketika ibu mengalami kemarahan yang sangat intens, tidak dapat dijelaskan, dan sering kali mengganggu kehidupan sehari-hari,” ujar Carli Blau, PsyD, seorang psikolog perinatal, dikutip dari Psych Central.
Apa Itu Mom Rage? Ini Penjelasan, Penyebab, Dampak, dan Cara Mengelolanya

Dalam dunia parenting, kita sering melihat ibu digambarkan sebagai sosok yang sabar, kuat, dan selalu tenang dalam menghadapi anak. Namun realitanya, tidak sedikit ibu yang justru mengalami ledakan emosi yang intens dan sulit dikendalikan dalam keseharian. Kondisi ini dikenal dengan istilah mom rage.
Fenomena ini semakin banyak dibicarakan karena dianggap sebagai bagian dari tekanan pengasuhan modern yang sering tidak terlihat. Mom rage bukan sekadar marah biasa, tetapi akumulasi dari kelelahan fisik, mental, dan emosional yang menumpuk. Jika tidak dipahami dengan baik, kondisi ini bisa berdampak pada ibu dan juga keluarga. Yuk, cari tahu apa itu mom rage beserta dampaknya!
1. Apa itu mom rage?

Mom rage adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan kemarahan intens yang dialami ibu dalam konteks pengasuhan. Emosi ini biasanya muncul tiba-tiba dan terasa sulit dikendalikan, bahkan oleh ibu yang biasanya tenang. Meski bukan diagnosis medis resmi, mom rage diakui sebagai pengalaman emosional yang nyata.
Dalam banyak kasus, mom rage muncul sebagai respons terhadap tekanan yang berlangsung terus-menerus dalam kehidupan sehari-hari. Ibu bisa merasa seperti meledak hanya karena hal kecil, padahal sebenarnya emosi tersebut sudah lama tertahan. Kondisi ini sering membuat ibu merasa asing dengan dirinya sendiri setelah kejadian tersebut.
2. Penyebab utama mom rage

Mom rage tidak muncul tanpa sebab, melainkan merupakan akumulasi dari berbagai tekanan yang dialami ibu. Salah satu faktor utama adalah kelelahan fisik akibat kurang tidur, terutama pada ibu dengan bayi atau anak kecil. Kondisi ini membuat kemampuan mengatur emosi menjadi jauh lebih rendah dari biasanya.
Selain itu, mental load atau beban pikiran yang terus berjalan juga menjadi pemicu besar. Ibu sering kali tidak hanya mengurus anak, tetapi juga mengatur seluruh kebutuhan rumah tangga secara mental dan emosional. Ditambah kurangnya dukungan dari pasangan atau lingkungan, tekanan ini semakin sulit dikendalikan.
“Mom rage sering kali bukan masalah kemarahan, tetapi masalah kecemasan,” ujar Annia Palacios, LPC, seorang konselor klinis, dikutip dari Psych Central.
3. Dampak mom rage untuk keluarga

Jika terjadi berulang dan tidak dikelola, mom rage dapat memberikan dampak emosional bagi seluruh anggota keluarga. Pada ibu, kondisi ini sering memicu rasa bersalah, stres berkepanjangan, dan kelelahan emosional yang semakin dalam. Hal ini bisa membuat siklus emosi negatif terus berulang.
Pada anak, paparan kemarahan yang intens dapat memengaruhi rasa aman dalam hubungan dengan orangtua. Anak bisa merasa takut, bingung, atau tidak nyaman dalam lingkungan rumah. Dalam jangka panjang, hal ini dapat berdampak pada perkembangan emosi dan kepercayaan diri anak.
4. Cara mengelola dan meredakan mom rage

Mom rage sebenarnya bisa dikelola jika ibu memiliki ruang untuk memahami pemicu emosinya. Langkah awal yang penting adalah mengenali tanda-tanda awal kelelahan atau stres sebelum emosi mencapai puncaknya. Kesadaran ini membantu ibu lebih siap menghadapi situasi yang memicu kemarahan.
Selain itu, strategi seperti mengambil jeda sejenak, menarik napas dalam, atau meninggalkan situasi sementara dapat membantu meredakan emosi. Dukungan pasangan juga sangat penting, terutama dalam pembagian tugas pengasuhan dan pekerjaan rumah. Jika kondisi semakin sering terjadi, bantuan profesional seperti psikolog sangat dianjurkan.
“Berbicara jujur tentang bagaimana ibu terkadang merasa sangat marah dapat mengurangi rasa malu yang biasanya menyertai emosi negatif yang intens,” ujar Lisa Damour, PhD, seorang psikolog klinis bersertifikat, dikutip dari Parents.
Mom rage bukan tanda ibu buruk atau gagal dalam mengasuh anak, melainkan sinyal bahwa ada beban emosional yang terlalu berat untuk ditanggung sendiri. Dengan pemahaman yang tepat, kondisi ini bisa dikelola dengan lebih sehat tanpa menyalahkan diri sendiri karena kesehatan mental ibu juga penting bagi tumbuh kembang anak.



















