Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Rayakan Hari Anak Nasional, 5 Aturan Parenting Ini Wajib Kamu Tahu
ilustrasi keluarga bahagia (pexels.com/Jorge Zaldívar Marroquín)
  • Artikel memperingati Hari Anak Nasional dengan mengajak orangtua memperbaiki pola asuh melalui lima aturan parenting yang bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
  • Lima aturan tersebut meliputi 10-10-10 untuk membangun koneksi, 5-4-3-2-1 untuk mengelola emosi anak, serta 90-10 agar pujian dan kritik seimbang secara positif.
  • Dua aturan lainnya yaitu 2-1-0 untuk membatasi screen time sesuai usia dan 3x7 tahun yang menyesuaikan pendekatan pengasuhan berdasarkan tahap perkembangan anak.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Hari Anak sedunia diperingati setiap tanggal 20 November. Namun, di Indonesia sendiri terdapat perayaan Hari Anak Nasional yang diperingati setiap tanggal 23 Juli.

Memperingati hari anak sudah seharusnya menjadi momen bagi orangtua untuk memperbaiki cara pengasuhan anaknya. Sebelum iktu merayakannya, berikut beberapa aturan parenting yang bisa diterapkan oleh orangtua sehari-hari.

1. Aturan 10-10-10

ilustrasi mengasuh anak dengan aturan 10-10-10 (pexels.com/Luis Becerra Fotógrafo)

Aturan 10-10-10 adalah konsep parenting yang bertujuan untuk membangun koneksi antara anak dan orangtua. Terutama, fokus pada tiga waktu penting bagi anak (bangun tidur, pulang dari luar rumah, dan sebelum tidur). Begini cara menerapkannya:

  • 10 menit pertama saat anak bangun tidur, kamu bisa ajak anak untuk mengobrol. Contohnya, bertanya tentang mimpi atau kualitas tidurnya, bahkan sekadar memeluk mereka saat bangun tidur ini juga penting.

  • 10 menit setelah pulang dari luar rumah. Misalnya, baru pulang sekolah, berikan waktu untuk anak bercerita tentang yang dialaminya selama di sekolah.

  • 10 menit sebelum tidur. Contohnya, kamu bisa membacakan buku cerita atau dongeng kepada anak sambil mendekapnya. Pada waktu ini usahakan untuk tidak menceramahi anak.

Sebagai variasi dari aturan 10-10-10, kamu juga bisa menerapkan aturan 7-7-7. Kedua aturan tersebut memiliki konsep yang sama, hanya berbeda pada jumlah menit.

2. Aturan 5-4-3-2-1

ilustrasi ibu menerapkan aturan 5-4-3-2-1 (pexels.com/Polesie Toys)

Aturan 5-4-3-2-1 digunakan saat anak merasa cemas atau tertekan karena suatu hal. Agar anak tidak terjebak dalam emosi tersebut, kamu bisa terapkan teknik 5-4-3-2-1 yang bertujuan untuk memfokuskan kembali pikiran anak ke masa kini. Begini cara penerapannya:

  • Minta anak untuk mencari 5 benda di sekitarnya yang bisa mereka lihat. Minta pula untuk memperhatikan detailnya, seperti warna atau bentuknya.

  • Minta anak untuk menyadari 4 hal yang bisa disentuh atau dirasakan secara fisik. Contohnya, tekstur baju, meja, atau hembusan angin.

  • Minta anak untuk mendengarkan 3 suara yang ada di sekitarnya. Contohnya, suara AC, kendaraan, atau kicau burung.

  • Minta anak untuk mengenali 2 aroma yang bisa diciumnya. Contohnya, bau wangi kopi, parfum, atau udara segar.

  • Minta anak untuk mengecap 1 hal yang bisa dikecap atau fokus pada rasa yang tertinggal di lidahnya.

Jika kamu ingin aturan yang lebih sederhana, bisa gunakan aturan 3-3-3. Caranya dengan meminta anak untuk menyebutkan 3 hal yang dilihat, mengenali 3 suara yang didengarnya, dan menggerakkan 3 bagian tubuhnya.

3. Aturan 90-10

ilustrasi anak belajar (pexels.com/Tima Miroshnichenko)

Aturan 90-10 tidak hanya berguna untuk pola pengasuhan anak, tetapi juga skill kepemimpinannya. Aturan ini memfokuskan pada 90 persen komentar positif atau pujian dan 10 persen komentar yang membangun.

Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam memberikan pujian pada anak. Di antaranya, yaitu:

  • Berikan pujian yang spesifik atau deskriptif. Jadi, jangan hanya memuji, "Pintar, Nak," tapi sebaiknya, "Ibu perhatikan, kamu sudah bekerja keras mengerjakan soal Matematika itu walau sulit".

  • Fokus untuk memuji proses, usaha, dan tekad anak dalam melakukan sesuatu, bukan pada hasil akhir. Pujian seperti itu bisa membangun pola pikir pertumbuhan yang kuat dan mendorong anak untuk terus mencoba.

  • Pujilah hal-hal baik yang dilakukan anak, sekecil apa pun itu.

Ketika anak melakukan kesalahan, maka sebagai orangtua berhak untuk memberi komentar yang membangun. Namun, pastikan nada bicara yang digunakan tetap tenang dan tegas.

Komentar membangun harus fokus pada memperbaiki perilaku, bukan sekadar kritik yang menghina atau menjatuhkan anak. Contohnya, alih-alih mengatakan "Kamarmu berantakan", coba "Mari kita luangkan 10 menit untuk merapikan buku-bukumu bersama-sama". Dalam menerapkan aturan 90-10 ini, orangtua harus aware bahwa 1 komentar negatif harus diiringi dengan 9 komentar positif.

4. Aturan 2-1-0

ilustrasi screen time anak (pexels.com/Tima Miroshnichenko)

Selanjutnya, untuk mengatur screen time anak sehari-hari bisa gunakan aturan 2-1-0. Maksudnya, membatasi penggunaan layar tidak lebih dari 2 jam sehari, 1 jam sebelum tidur, dan 0 jam untuk anak di bawah 18 bulan. Detail penerapannya, yakni:

  • Anak usia 6 tahun ke atas batasi penggunaan layar tidak lebih dari 2 jam dalam sehari untuk hiburan. Namun, jika untuk pembelajaran tidak dihitung.

  • Anak usia 2–5 tahun batasi penggunaan layar tidak lebih dari 1 jam sehari untuk pembelajaran dan didampingi oleh pengasuh.

  • Anak usia 0–2 tahun batasi penggunaan layar sama sekali (0 jam sehari), kecuali online video-chat dengan keluarga jauh. Pengecualian ini dinilai sebagai pengalaman sosial dan interaktif, bukan konsumsi media pasif.

5. Aturan 3 x 7 tahun

ilustrasi ayah mengasuh anak (pexels.com/Polesie Toys)

Terakhir, ada aturan pengasuhan berdasarkan kelipatan 7 tahun usia anak. Saat anak berusia 0–7 tahun, fokus pada keteladanan, 7–14 tahun fokus pada kasih sayang, dan 15–21 tahun fokus pada komunikasi. Berikut cara penerapannya:

  • Perlakukan anak usia 0-7 Tahun layaknya raja. Maksudnya, didik anak dengan kasih sayang, bermain, dan kesabaran. Pada tahap ini, anak dikenalkan pada hal-hal mendasar dengan cara yang menyenangkan tanpa tekanan berlebihan.

  • Perlakukan anak usia 7–14 tahun layaknya tawanan. Maksudnya, dengan fokus menanamkan sikap disiplin, tanggung jawab, dan batasan yang tegas, tapi tidak kasar. Pada usia ini, anak mulai diajarkan konsekuensi logis jika melanggar aturan dan dibiasakan mematuhi norma agama.

  • Perlakukan anak usia 14–21 tahun layaknya sahabat. Maksudnya, jadikan anak sebagai teman diskusi. Ajak anak untuk bertukar pikiran, dengarkan pendapat anak, dan berikan kepercayaan pada anak untuk memimpin dan mandiri.

Itulah lima aturan pengasuhan atau parenting yang bisa kamu terapkan pada anak. Jadi, jangan hanya memperingati hari anak saja, perbaiki juga caramu mengasuh anak, ya!

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article