“Mulailah dengan mengatakan sesuatu seperti, ‘Ada perang yang sedang terjadi. Bisa ceritakan apa yang kamu ketahui atau dengar tentang hal itu?’,” kata Robin Gurwitch, psikolog anak dan profesor di Duke University Medical Center, dikutip dari HuffPost.
Cara Ajarkan Empati dan Kedamaian pada Anak di Tengah Isu World War 3

Di era digital, berita perang bukan lagi konsumsi orang dewasa semata. Anak-anak bisa terpapar konflik global, termasuk berita perang Israel Iran, lewat media sosial, televisi, bahkan obrolan di sekolah. Karena itu, orangtua memegang peran penting dalam menanamkan empati dan nilai kedamaian sejak dini.
Menghindari pembahasan soal perang bukanlah solusi terbaik. Anak justru membutuhkan pendampingan emosional agar bisa memahami dunia dengan cara yang aman dan manusiawi. Yuk, simak cara mengajarkan empati dan kedamaian pada anak di tengah isu World War 3 berikut ini!
1. Dengarkan cerita anak sebelum memberi penjelasan

Saat anak mulai bertanya tentang perang, reaksi pertama orangtua sebaiknya bukan langsung memberi penjelasan panjang. Mendengarkan lebih dulu membantu kamu memahami apa yang sebenarnya anak ketahui dan rasakan. Dari sinilah, kamu bisa memberikan respons dengan tepat dan tidak berlebihan.
Pendekatan ini juga membuat anak merasa dihargai dan aman secara emosional. Anak akan lebih terbuka menyampaikan kekhawatirannya jika tahu orangtua siap mendengarkan. Hubungan yang hangat inilah yang menjadi dasar tumbuhnya empati.
2. Bangun rasa aman sebelum mengajak anak berempati

Sebelum mengajak anak memahami penderitaan orang lain, terlebih dahulu pastikan anak merasa aman. Rasa aman membantu anak mengelola emosinya sehingga tidak larut dalam ketakutan. Tanpa fondasi ini, empati justru bisa berubah menjadi kecemasan berlebih.
Dengan merasa terlindungi, anak lebih siap mendengar cerita tentang orang lain yang terdampak perang. Mereka belajar bahwa peduli tidak selalu berarti ikut merasa terancam. Dari sinilah empati bisa tumbuh secara sehat.
“Kamu harus meyakinkan mereka tentang rasa aman, bahwa ada orang-orang yang melindungi mereka dan bahwa kami ada di sini untuk mereka,” Dan Bober, psikiater anak, dikutip dari NewsNation.
3. Ajak anak memahami perasaan korban dengan bahasa sederhana

Empati tidak harus diajarkan melalui penjelasan yang rumit. Kamu bisa mengajak anak membayangkan perasaan anak-anak lain yang kehilangan rumah atau terpisah dari keluarganya. Bahasa yang sederhana membantu anak memahami emosi tanpa merasa kewalahan.
Cara ini juga mengajarkan bahwa sedih, takut, dan bingung adalah perasaan yang wajar. Lewat cara ini, anak belajar mengenali emosi, baik pada dirinya sendiri maupun orang lain. Proses ini penting untuk perkembangan empati jangka panjang
4. Tanamkan nilai kedamaian lewat tindakan kecil

Selain berbicara, orangtua juga bisa mengajak anak melakukan aksi sederhana yang mencerminkan kepedulian. Mulai dari berbagi dengan sesama, membantu orang di sekitar, hingga mendoakan perdamaian bersama. Tindakan kecil ini memberi makna nyata pada konsep empati.
Melalui aksi, anak belajar bahwa mereka tetap bisa berbuat baik meski tidak mampu mengubah situasi global. Hal ini membantu anak merasa berdaya, bukan tak berdaya. Nilai kedamaian pun tertanam lewat pengalaman, bukan sekadar nasihat.
Mengajarkan empati dan kedamaian di tengah isu World War 3 memang tidak mudah. Namun, dengan pendampingan yang tepat, anak bisa belajar memahami dunia tanpa kehilangan rasa aman. Dari rumah yang penuh empati, tumbuh generasi yang lebih peduli dan cinta damai.