Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
6 Cara Halus Penculik Bayi yang Sering Terjadi, Beraksi Tanpa Kamu Sadari
Ilustrasi bayi baru lahir (pexels.com/Photo by Natalie Bond)

Kasus penculikan bayi selalu menjadi hal yang mengkhawatirkan, apalagi jika terjadi di tempat yang seharusnya paling aman seperti rumah sakit. Baru-baru ini, muncul kabar tentang modus penculikan bayi yang ramai diperbincangkan di salah satu rumah sakit di Bandung. Kejadian ini membuka mata banyak orang bahwa ancaman bisa datang dari cara yang tidak terduga.

Modus yang digunakan pun terbilang rapi dan sulit dikenali, sehingga sering kali tidak disadari oleh orangtua maupun pihak keluarga. Berikut beberapa modus yang mungkin perlu lebih disadari oleh setiap orangtua.

1. Pelaku perempuan (biasanya lebih dipercaya)

ilustrasi bayi baru lahir (pexels.com/Isaac Taylor)

Banyak orang cenderung lebih percaya pada perempuan, apalagi jika terlihat ramah dan sopan. Hal ini sering dimanfaatkan oleh pelaku untuk mendekati ibu atau keluarga bayi tanpa menimbulkan kecurigaan. Mereka bisa dengan mudah masuk ke lingkungan rumah sakit atau ruang perawatan karena dianggap tidak berbahaya.

Justru karena rasa percaya itu, orangtua sering lengah. Pelaku bisa berpura-pura membantu, mengajak ngobrol, atau bahkan mendekat untuk melihat bayi. Dari situ, mereka mulai mencari celah untuk melancarkan aksinya tanpa disadari.

Lebih lanjut dalam jurnal berjudul "Journal of Obstetric, Gynecologic & Neonatal Nursing" oleh Patricia Beachy RN, MS, Jane Deacon RNC, MS, NNP yang diterbitkan dalam Science Direct, penculik biasanya adalah seorang perempuan, berusia 15 hingga 44 tahun. Mereka berpura-pura baru saja mengalami keguguran atau mandul. Seringkali, motifnya adalah untuk mencegah suami atau pasangannya meninggalkan dirinya, atau untuk mendapatkan kembali kasih sayangnya dengan mengaku hamil.

2. Mengincar saat ibu kelelahan

ilustrasi bayi baru lahir (pexels.com/Jonathan Borba)

Setelah melahirkan, kondisi ibu biasanya masih lemah dan kelelahan. Fokus ibu juga terbagi antara istirahat dan merawat bayi. Situasi ini sering dimanfaatkan pelaku karena ibu tidak dalam kondisi penuh untuk mengawasi sekitar.

Saat ibu lengah atau tertidur, risiko kejadian tidak diinginkan jadi lebih besar. Apalagi jika tidak ada pendamping yang berjaga, pelaku bisa memanfaatkan momen tersebut untuk mendekati atau bahkan membawa bayi tanpa banyak hambatan.

Menurut National Center for Missing & Exploited Children (NCMEC), sebuah situs yang didanai melalui hibah dari Kantor Keadilan Remaja dan Pencegahan Kenakalan, Kantor Program Keadilan, Departemen Kehakiman AS, pelaku umumnya bisa memanipulasi. Kemungkinan besar mereka kompulsif, paling sering mengandalkan manipulasi, kebohongan, dan penipuan.

"Seringkali awalnya (pelaku) mengunjungi unit perawatan bayi dan persalinan di lebih dari satu fasilitas perawatan kesehatan sebelum penculikan; mengajukan pertanyaan rinci tentang prosedur dan tata letak lantai persalinan; sering menggunakan tangga darurat untuk melarikan diri; dan mungkin juga mencoba menculik dari lingkungan rumah," tulis dalam situs NCMEC.

 

3. Terjadi saat sepi atau justru saat jam sibuk

ilustrasi bayi baru lahir (unsplash.com/Visualss)

Modus ini bisa terjadi di dua kondisi yang berbeda. Saat jam sibuk, situasi rumah sakit biasanya ramai, banyak orang lalu lalang, sehingga pelaku lebih mudah berbaur tanpa mencurigakan. Orang-orang juga cenderung tidak terlalu memperhatikan satu sama lain.

Sebaliknya, saat kondisi sepi, pengawasan bisa jadi lebih longgar. Petugas mungkin tidak selalu berada di dekat pasien atau ketika nurse station sedang kosong, sehingga pelaku punya kesempatan untuk bergerak lebih leluasa. Kedua situasi ini sama-sama berisiko jika kewaspadaan menurun.

Dalam situs NCMEC juga tertulis bahwa biasanya pelaku sudah merencanakan penculikan. Tetapi tidak selalu menargetkan bayi tertentu; sering kali memanfaatkan setiap kesempatan yang ada untuk menculik bayi.

4. Terlihat 'terlalu baik'

ilustrasi bayi baru lahir (pexels.com/Jonathan Borba)

Pelaku sering menunjukkan sikap yang sangat ramah, bahkan terkesan berlebihan. Mereka bisa menawarkan bantuan, seperti menggendong bayi, membantu ibu, atau sekadar menemani. Sikap ini membuat korban merasa nyaman dan percaya.

Namun, justru di situlah letak bahayanya. Kebaikan yang berlebihan bisa menjadi tanda untuk lebih waspada. Tidak semua orang yang terlihat baik memiliki niat yang benar, apalagi jika mereka terlalu cepat ingin terlibat dalam urusan pribadi.

5. Menyamar menjadi tenaga medis

Ilustrasi tenaga medis (unsplash.com/ National Cancer Institute)

Salah satu modus yang cukup sering terjadi adalah pelaku menyamar sebagai tenaga medis. Mereka bisa memakai pakaian yang mirip seragam rumah sakit agar terlihat meyakinkan. Dengan cara ini, mereka lebih mudah mendekati pasien tanpa dicurigai.

Karena dianggap petugas resmi, orangtua biasanya langsung percaya dan tidak banyak bertanya. Padahal, penting untuk selalu memastikan identitas, seperti melihat kartu pengenal atau menanyakan tugasnya. Jangan ragu untuk konfirmasi ke perawat atau petugas lain.

"Seringkali menyamar sebagai perawat atau petugas kesehatan lainnya. Seringkali mereka mengenal anggota staf kesehatan, rutinitas kerja staf, dan orangtua korban. Bahkan menunjukkan kemampuan untuk merawat bayi setelah penculikan terjadi, sesuai dengan kemampuan emosional dan fisiknya," tulis dalam laman NCMEC.

6. Mengaku disuruh keluarga

Ilustrasi bayi (pexels.com/Photo by Craig Adderley)

Pelaku juga bisa berpura-pura sebagai orang yang disuruh oleh anggota keluarga. Misalnya, mereka mengatakan diminta untuk mengambil bayi atau membantu memindahkan bayi ke tempat lain. Hal ini sering membuat orangtua bingung dan akhirnya menuruti permintaan tersebut.

Padahal, ini adalah salah satu cara untuk menipu dengan memanfaatkan kepercayaan. Penting untuk selalu memastikan langsung kepada anggota keluarga yang bersangkutan sebelum mempercayai orang lain, terutama jika berkaitan dengan bayi.

Pada akhirnya, kejadian ini menjadi pelajaran berharga bagi semua pihak untuk lebih waspada dan tidak lengah. Orangtua perlu lebih berhati-hati dalam menjaga bayi, termasuk memperhatikan siapa saja yang berinteraksi dan memastikan identitas petugas yang datang.

Editorial Team