Fenomena sandwich generation semakin nyata dirasakan oleh banyak milenial. Di satu sisi harus menopang kebutuhan orang tua, di sisi lain tetap berjuang membangun masa depan sendiri. Beban ganda ini sering datang tanpa persiapan, membuat milenial berada di posisi serba salah antara tanggung jawab keluarga dan kesejahteraan pribadi.
Namun, menjadi bagian dari sandwich generation bukan berarti harus terus hidup dalam kelelahan. Dengan pendekatan yang lebih sadar, terencana, dan komunikatif, beban tersebut bisa dikelola tanpa mengorbankan kesehatan mental maupun stabilitas finansial. Dalam artikel ini, kita akan membahas lima cara realistis yang bisa membantu milenial menghadapi realita sandwich generation dengan lebih seimbang.
