Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Kamu Pernah Pakai Istilah Medis Buat Bercanda? Hati-hati, Itu Ableisme!

Kamu Pernah Pakai Istilah Medis Buat Bercanda? Hati-hati, Itu Ableisme!
ilustrasi orang bercanda (pexels.com/Anastasiya Gepp)
Intinya Sih
  • Fenomena ableisme di media sosial muncul lewat candaan dan slang yang merendahkan penyandang disabilitas, memicu kritik publik karena dianggap diskriminatif.
  • Menggunakan istilah medis sebagai bahan lelucon menunjukkan kurangnya empati dan dapat menimbulkan dampak serius seperti pengucilan sosial serta gangguan kesehatan mental bagi penyandang disabilitas.
  • Membangun komunikasi yang berempati dan menghormati sesama menjadi kunci agar interaksi sosial tetap seru tanpa menjatuhkan orang lain atau memperkuat budaya ableisme.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Belakangan ini, media sosial ramai oleh video seseorang yang tampak memperagakan gerakan menyerupai penyandang disabilitas. Penggunaan slang yang ableist juga kerap terjadi di ruang obrolan. Tentu saja aksi ini memicu kritik dari warganet dan menuai berbagai kecaman di ruang publik. Fenomena ini merupakan bentuk dari ableism.

Dilansir laman Yayasan Bakti, ableisme (ableism) adalah perlakuan diskriminatif terhadap difabel atau disabilitas. Ableisme menganggap orang-orang dengan disabilitas punya status yang lebih rendah dibanding orang-orang dengan nondisabilitas. Ableist adalah sebutan untuk orang yang melakukan diskriminasi. Di era digital ini, abelism bisa tercermin lewat bahasa, konten media sosial, dan candaan sehari-hari yang dianggap wajar. Mengapa fenomena ini gak boleh berlarut-larut?

1. Mengapa diagnosis medis sama sekali bukan lelucon

ilustrasi orang sedang mengobrol dan tertawa
ilustrasi orang sedang mengobrol dan tertawa (pexels.com/Vitaly Gariev)

Diagnosis medis dan lelucon, kedua istilah itu saja sudah berbeda makna dan ranahnya, lantas mengapa disamakan? Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, diagnosis mengacu pada penentuan jenis penyakit denagn cara meneliti gejala-gejalanya. Diagnosis medis berarti penentuan jenis penyakit secara medis berdasarkan tanda dan gejala yang ada. Dalam diagnosis medis, ada validasi atas kondisi kesehatan pasien dan perjuangan pasien untuk bertahan hidup.

Maka, saat istilah medis seperti autis dan ODGJ dijadikan sebagai slang tongkrongan atau bahan bercandaan, hal itu sama saja seperti kamu sedang menganggap rendah atau sepele kondisi dan perjuangan mereka. Menggunakan kondisi medis sebagai lelucon menunjukkan kalau kamu kurang berempati dan gak mampu untuk melihat sisi kemanusiaan mereka. Ingat bahwa kondisi kesehatan seseorang itu realitas yang perlu mereka hadapi. Mereka gak memilih buat terlahir demikian, jadi menjadikannya bahan tertawaan jelas bukan suatu hal yang dibenarkan.

2. Dampak saat diagnosis medis jadi bahan lelucon

ilustrasi orang tertawa (pexels.com/Antonius Ferret)
ilustrasi orang tertawa (pexels.com/Antonius Ferret)

Meremehkan kondisi medis lewat slang tongkrongan gak pernah jadi suatu hal yang wajar, pun ableisme yang gak pernah dianggap normal. Dilansir laman Yayasan Bakti, ableisme dan ableis melahirkan diskriminasi, stereotip atau pelabelan terhadap disabilitas, marjinalisasi dan pemiskinan, kekerasan, dan subordinasi.

Dampak nyatanya pun bisa kita rasakan dalam kehidupan sehari-hari, seperti:

  1. Adanya pengucilan sosial. Saat diagnosis medis digunakan sebagai bahan bercandaan, masyarakat akan menganggap remeh penyandang disabilitas. Alhasil, hal ini membuat mereka susah bergaul dan memperoleh perlakuan yang setara.
  2. Berdampak buruk pada kesehatan mental. Bagi mereka yang tengah berjuang dengan kondisi medis tertentu, mendengar kondisi medis mereka dijadikan bahan lelucon atau slang di tongkrongan itu menyakitkan, lho. Hal itu merupakan bentuk kekerasan psikis. Rasa percaya diri mereka pun bisa runtuh dan muncullah perasaan gak berharga itu.
  3. Kesempatan yang dibatasi. Stigma negatif yang tumbuh di tengah masyarakat kita terhadap penyandang disabilitas atau difabel bisa memunculkan diskriminasi berupa pembatasan kesempatan. Gak sedikit kok penyandang disabilitas yang sulit memperoleh hak mereka karena akses yang terbatas.

3. Mengubah gaya komunikasi dan perilaku tanpa kehilangan serunya tongkrongan

ilustrasi orang mengobrol (pexels.com/RDNE Stock project)
ilustrasi orang mengobrol (pexels.com/RDNE Stock project)

Keseruan di tongkrongan itu gak harus dimunculkan dengan menjatuhkan atau merendahkan kondisi seseorang. Justru, hal-hal semacam itu gak dibenarkan. Mungkin, kamu menganggap kalau gak pakai kata kasar atau nyeleneh itu kurang seru karena bakal terasa kaku. Padahal, keseruan itu ada karena kenyamanan dan kedekatan. Mengubah gaya komunikasi dan perilaku yang lebih berempati akan membuat tongkrongan jadi terasa lebih sehat dan positif.

Kamu gak harus jaim-jaim kok saat kumpul, hanya saja kamu dan teman-temanmu perlu memilah mana yang pantas dijadikan bahan bercandaan dan mana yang gak. Berikut cara agar tongkrongan bukan ruang ableisme.

  1. Gunakan kosakata yang lebih kaya tanpa merendahkan
  2. Saling mengingatkan untuk bersikap bijak saat bercanda
  3. Tertawa bersama, bukan menertawakan

Barangkali dari kita banyak yang bersembunyi di balik dalih “cuma bercanda” atau “gitu aja kok baper”. Padahal, ada perbedaan yang jauh dan mendasar saat seseorang menghibur dan saat seseorang merendahkan. Yuk, lebih bijak dalam berkomunikasi dan buat tongkrongan yang keren dengan menghormati sesama!

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Siantita Novaya
EditorSiantita Novaya

Related Articles

See More