Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Cara Melatih Bayi Duduk Sendiri dengan Aman, Orangtua Perlu Tahu!
ilustrasi ibu dan bayi (pexels.com/ivansamkov)

Melihat si kecil mulai belajar duduk sendiri menjadi momen yang dinantikan orangtua. Namun, bayi perlu mengembangkan kekuatan otot leher, punggung, dan tubuh untuk menjaga keseimbangan. Karena itu, orangtua perlu mendampinginya tanpa memaksakan posisi duduk sebelum ia siap.

Ada beberapa cara sederhana untuk melatih bayi duduk, mulai dari tummy time hingga latihan dengan bantuan. Pastikan juga lingkungan bermainnya aman agar si kecil bisa belajar dengan nyaman. Yuk, simak cara melatih bayi duduk sendiri dengan aman berikut ini!

1. Rutin melakukan tummy time

ilustrasi bayi perempuan (pexels.com/pixabay)

Tummy time merupakan aktivitas tengkurap saat bayi terjaga dan selalu dalam pengawasan orang dewasa. Aktivitas ini membantu memperkuat otot leher, bahu, dan punggung untuk mengendalikan kepala serta menopang tubuh saat belajar duduk. Menurut American Academy of Pediatrics (AAP), waktu tengkurap juga mendukung perkembangan keterampilan motorik bayi.

Awalnya, lakukan tummy time selama beberapa menit, lalu tingkatkan durasinya secara bertahap sesuai kemampuan bayi. Ajak si kecil berbicara atau letakkan mainan di dekatnya agar ia tertarik mengangkat kepala dan melihat sekeliling. Pastikan bayi berada di permukaan yang rata dan aman, serta jangan pernah meninggalkannya sendirian selama tengkurap.

“Pastikan bayi hanya melakukan tummy time ketika mereka sedang terjaga dan kamu berada di dalam ruangan untuk mengawasi mereka,” ujar Kurt Heyrman, M.D., seorang dokter anak, dikutip dari Parents.

2. Latih keseimbangan dengan bantuan orangtua

ilustrasi ibu dan anak (pexels.com/paveldanilyuk)

Sebelum duduk sendiri, bayi perlu belajar menjaga kepala dan tubuhnya tetap stabil. Orangtua bisa membantu dengan mendudukkan bayi di pangkuan sambil menopang punggung dan tubuhnya menggunakan kedua tangan. Lakukan secara perlahan dan sesuaikan bantuan dengan kemampuan bayi agar ia tetap nyaman.

Saat kontrol kepala bayi semakin baik, ajak ia berlatih duduk dalam waktu singkat. Letakkan bayi di lantai beralas antiselip dan duduklah di belakangnya untuk menopang tubuh jika kehilangan keseimbangan. Jangan meninggalkan bayi tanpa pengawasan karena ia masih berisiko terjatuh.

“Kemampuan duduk dengan sedikit bantuan menandakan bahwa bayi telah memiliki kontrol otot yang tepat untuk beralih dari pola makan cair berupa ASI atau susu formula ke makanan padat,” ujar Jean Moorjani, M.D., seorang dokter anak di Arnold Palmer Hospital for Children, Orlando, dikutip dari Parents.

3. Gunakan mainan untuk mendorong bayi bergerak

ilustrasi ibu bersama anak (pexels.com/pnwprod)

Mainan berwarna menarik atau bersuara lembut dapat memancing rasa ingin tahu bayi saat berlatih duduk. Letakkan mainan di depan atau sedikit ke samping agar bayi terdorong mengangkat kepala, menggerakkan tangan, dan mengarahkan pandangan. Gerakan ini membantu melatih koordinasi tubuh serta memperkuat otot yang mendukung kemampuan duduk.

Pilih mainan sesuai usia, berukuran cukup besar, dan bebas dari bagian kecil yang berisiko tertelan. Pastikan mainan bersih, tidak memiliki ujung tajam, dan tidak mudah pecah saat dipegang atau digigit. Manfaatkan waktu bermain untuk berinteraksi dengan si kecil tanpa memaksanya segera bisa duduk sendiri.

4. Berikan kesempatan berlatih duduk secara bertahap

ilustrasi seorang ibu melatih bayi sikat gigi (pexels.com/martproduction)

Saat bayi mulai mampu mengendalikan kepala dan tubuhnya, bantu ia berlatih duduk dengan menyangga punggung dan pinggangnya. Lakukan di lantai yang aman dan tetap berada dekat bayi untuk mencegahnya terjatuh jika kehilangan keseimbangan. Seiring kemampuannya meningkat, kurangi bantuan secara bertahap agar bayi bisa melatih keseimbangannya sendiri.

Jangan khawatir jika bayi masih membungkuk, menopang tubuh dengan kedua tangan, atau sesekali kehilangan keseimbangan. Setiap bayi berkembang dengan kecepatan berbeda sehingga gak harus mencapai tonggak perkembangan pada waktu yang sama. Ajak si kecil berlatih secara rutin tanpa memaksakan durasi atau posisi yang belum mampu dipertahankannya.

5. Pastikan lingkungan latihan aman

ilustrasi ibu dan bayi (pexels.com/ivansamkov)

Saat belajar duduk, bayi bisa terhuyung atau jatuh ke samping dan belakang karena keseimbangannya belum sempurna. Karena itu, pilih lantai yang rata dan jauh dari tangga, sudut furnitur keras, serta benda berbahaya. Orangtua juga perlu berada dekat bayi agar bisa segera menopangnya saat kehilangan keseimbangan.

Bantal boleh digunakan sebagai penyangga tambahan, tetapi bukan pengganti pengawasan langsung. Hindari mendudukkan bayi yang belum stabil di sofa, tempat tidur, meja, atau permukaan tinggi karena berisiko terjatuh. Jika menggunakan kursi penyangga bayi, ikuti petunjuk keselamatan produk dan selalu awasi si kecil.

6. Kenali kesiapan bayi dan jangan memaksakan latihan

ilustrasi bayi perempuan (pexels.com/singkham)

Bayi umumnya mulai belajar duduk dengan bantuan pada usia sekitar 4 bulan dan mampu duduk sendiri pada usia 7–9 bulan. Tanda kesiapannya meliputi kemampuan menegakkan kepala, mengangkat dada saat tengkurap, dan menjaga tubuh tetap stabil. Namun, setiap bayi berkembang dengan kecepatan berbeda sehingga rentang usia tersebut bukan patokan mutlak.

Jika bayi rewel, lelah, atau kesulitan menegakkan kepala, hentikan latihan dan biarkan ia beristirahat. Hindari menarik kedua lengannya secara paksa atau mendudukkannya sebelum kontrol kepala dan lehernya memadai. Jika kamu khawatir dengan perkembangan motoriknya atau kemampuan yang sebelumnya dikuasai justru menghilang, konsultasikan dengan dokter anak.

7. Batasi penggunaan kursi bayi sebagai pengganti latihan aktif

ilustrasi balita dan adik bayi bermain bersama (pexels.com/pnwprod)

Kursi penyangga bayi bisa membantu menopang tubuh jika digunakan sesuai petunjuk, tetapi bukan pengganti aktivitas di lantai. Bayi tetap perlu waktu untuk tengkurap, meraih mainan, dan menggerakkan tubuh guna melatih keterampilan motoriknya. Karena itu, batasi waktu si kecil di kursi bayi, ayunan, atau bouncer saat bermain.

Utamakan aktivitas di tempat aman yang memungkinkan bayi bergerak bebas dengan pengawasan orangtua. Jika bayi tertidur di kursi atau perangkat duduk, segera pindahkan ke permukaan tidur yang kokoh, rata, dan tidak miring, lalu baringkan telentang. Dengan begitu, perkembangan motorik dan keselamatan tidur bayi tetap terjaga.

Melatih bayi duduk sendiri membutuhkan kesabaran dan pendampingan agar si kecil bisa berkembang sesuai tahapannya. Yuk, dampingi proses belajarnya dengan cara yang aman tanpa terburu-buru, ya!

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article