Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
ilustrasi ayah membacakan dongeng untuk anak (pexels.com/martproduction)
  • Ayah perlu mengenali pemicu amarah, seperti anak tidak mendengar atau mengulang kesalahan, agar dapat merespons tanpa melontarkan kata-kata yang melukai perasaan anak.
  • Saat emosi naik, ayah dianjurkan berhenti sejenak, menarik napas, atau mengambil jeda sebelum berbicara; disiplin perlu memakai batasan dan konsekuensi yang dipikirkan matang.
  • Jika telanjur marah, ayah perlu mengakui kesalahan dan meminta maaf; menjaga istirahat, mengelola tekanan, serta mencari bantuan profesional bila amarah berulang juga penting.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Menjadi ayah berarti belajar memenuhi kebutuhan anak sekaligus mengelola emosi saat menghadapi tantangan pengasuhan. Rasa lelah dan stres terkadang memicu amarah yang berujung pada perkataan menyakitkan, tetapi kebiasaan ini bisa diubah dengan belajar merespons secara lebih tenang.

Menurut American Psychological Association (APA), kemarahan yang berlebihan dapat menimbulkan masalah. Karena itu, penting bagi ayah untuk mengenali pemicu amarah dan mengendalikannya agar anak tetap merasa aman dan dihargai. Yuk, simak cara menghindari menjadi ayah pemarah!

1. Kenali pemicu amarah sebelum melampiaskannya kepada anak

ilustrasi ayah dan anak perempuannya (pexels.com/Pavel Danilyuk)

Langkah awal untuk mengendalikan amarah adalah kamu perlu mengenali situasi yang membuat emosi mudah terpancing. Misalnya, ayah mungkin merasa kesal ketika anak tidak mendengarkan perkataan, mengulang kesalahan, atau menunjukkan perilaku yang tidak sesuai harapan. Dengan memahami pemicunya, kamu bisa menghadapi situasi ini tanpa mengeluarkan kata-kata yang menyakiti perasaan anak.

“Jika kamu memiliki ayah yang pemarah, kamu tahu dampak yang bisa ditimbulkannya terhadap anak-anak. Namun, kamu juga mungkin tidak memiliki contoh lain tentang bagaimana seharusnya mengasuh anak. Karena itu, luangkan waktu untuk memahami kemarahanmu. Seperti apa bentuknya atau bagaimana rasanya bagimu? Bagaimana kamu berharap bisa menangani kemarahan dibandingkan dengan cara yang selama ini kamu lakukan?,” ujar Bonnie Scott, seorang terapis, dikutip dari HuffPost.

2. Berhenti sejenak dan tarik napas sebelum bereaksi

ilustrasi ayah dan anak sedang packing pakaian (pexels.com/ketutsubiyanto)

Saat mulai marah, cobalah berhenti sejenak agar emosi gak semakin memuncak. Ayah bisa menarik napas dalam-dalam lima kali atau mengambil jeda 10–30 menit hingga lebih tenang sebelum kembali menghadapi anak. Cara ini membantu ayah berpikir jernih dan merespons tanpa mengikuti dorongan sesaat.

Scott menyarankan orangtua mengambil jeda untuk menenangkan diri dan mengendalikan respons sebelum melanjutkan percakapan. Dengan begitu, ayah bisa menyampaikan ketidaksetujuan secara konstruktif tanpa berteriak, mengancam, atau membuat anak ketakutan.

3. Bedakan antara mendisiplinkan anak dan melampiaskan amarah

ilustrasi ayah membacakan dongeng untuk anak (pexels.com/martproduction)

Mendisiplinkan anak perlu dilakukan dengan tenang dan mempertimbangkan situasi. Saat marah, ayah mungkin memberi hukuman secara spontan, membentak, atau melontarkan kata-kata yang merendahkan anak. Karena itu, tetapkan batasan dan konsekuensi sejak awal agar keputusan gak hanya didasarkan pada emosi.

Scott menjelaskan bahwa disiplin yang didorong amarah cenderung dilakukan terburu-buru tanpa pertimbangan matang. Ayah perlu memastikan konsekuensi yang diberikan bertujuan membantu anak memahami perilakunya, bukan sekadar melampiaskan kekesalan.

“Mendisiplinkan anak ketika sedang marah merupakan tindakan reaktif. Hal itu dilakukan dengan cepat tanpa pertimbangan yang matang. Biasanya reaksinya jauh lebih berlebihan daripada yang sebenarnya kita inginkan ketika menghadapi anak-anak,” ujar Bonnie Scott.

4. Berani meminta maaf ketika melakukan kesalahan

ilustrasi ayah dan anak sedang berbincang (pexels.com/cottonbro)

Ayah yang berusaha mengendalikan amarah tetap bisa kehilangan kesabaran. Jika telanjur membentak atau melontarkan kata-kata menyakitkan, akui kesalahan dan mintalah maaf tanpa menyalahkan anak. Sikap ini mengajarkan bahwa setiap orang bisa berbuat salah, tetapi harus bertanggung jawab atas tindakannya.

Dikutip dari HuffPost, Justin Gurland, pekerja sosial klinis berlisensi tingkat master sekaligus pendiri The Maze, menjelaskan bahwa rasa bersalah setelah kehilangan kesabaran bisa menjadi tanda bahwa orangtua perlu meminta maaf atau memberikan penjelasan yang jujur. Dengan mengakui kesalahan, ayah menunjukkan bahwa orang dewasa pun bisa berbuat salah dan perlu bertanggung jawab atas tindakannya.

5. Jaga kondisi diri dan cari bantuan jika diperlukan

ilustrasi ayah membaca bersama anak (pexels.com/rdne)

Kelelahan, kurang tidur, dan tekanan sehari-hari bisa membuat ayah lebih sulit mengendalikan emosi. Karena itu, penting untuk cukup beristirahat, tetap aktif, dan berbagi cerita dengan pasangan atau orang tepercaya. Jika amarah terus berulang hingga membuat anak ketakutan, pertimbangkan untuk mencari bantuan psikolog atau tenaga profesional.

Mengelola amarah bukan berarti ayah harus memendam semua perasaan atau tidak boleh merasa kesal kepada anak. Hal terpenting adalah belajar mengungkapkan perasaan secara sehat tanpa menyakiti orang lain, baik melalui perkataan maupun tindakan.

Menjadi ayah yang lebih sabar bukan berarti harus selalu sempurna, melainkan mau belajar memperbaiki diri setiap kali melakukan kesalahan. Dengan mengelola amarah dan membangun komunikasi yang sehat, ayah bisa menciptakan hubungan yang lebih hangat sekaligus membuat anak merasa aman dan dihargai.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article