Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
5 Cara Menjelaskan Isu World War 3 ke Anak tanpa Menakut-nakuti
Ilustrasi orangtua dan anak (pexels.com/Julia M Cameron)

Isu World War 3 (WW3) semakin ramai diperbincangkan di banyak media dan tanpa disadari bisa terdengar oleh anak-anak. Rasa penasaran mereka pun muncul, sehingga membutuhkan peran orangtua untuk menjelaskan situasi dengan bahasa yang sederhana dan tetap menenangkan.

Menyampaikan isu perang dapat membantu mereka memahami dunia, sekaligus sambil menjaga rasa aman dan kepercayaan mereka, tanpa harus menakut-nakuti. Lalu, bagaimana cara menjelaskan isu perang seperti World War 3 ini kepada anak tanpa membuat mereka merasa takut?

1. Tanyakan dulu apa yang anak ketahui

Ilustrasi orangtua dan anak (pexels.com/Pavel Danilyuk)

Orangtua dapat menanyakan dulu apa yang anak ketahui dan bagaimana perasaan mereka tentang isu perang seperti World War 3 yang ramai di media. Tanyakan di tempat yang aman sehingga anak bisa terbuka, seperti saat makan malam bersama keluarga. Usahakan untuk menghindari membicarakan topik ini tepat sebelum tidur.

Mengutip laman United Nations Children's Fund (UNICEF), beberapa anak sedikit mengetahui tentang isu perang dan tidak tertarik untuk membicarakannya, tetapi yang lain mungkin khawatir dan diam. Untuk anak-anak yang lebih kecil, menggambar, bercerita, dan aktivitas lain dapat membantu membuka diskusi.

Anak-anak dapat menemukan berita dengan berbagai cara, jadi penting untuk memeriksa apa yang mereka lihat dan dengar. Ini adalah kesempatan untuk meyakinkan mereka dan berpotensi mengoreksi informasi yang tidak akurat yang mungkin mereka temui, baik secara online, di TV, di sekolah, atau dari teman-teman.

2. Gunakan bahasa sesuai usia anak

Ilustrasi orangtua dan anak (pexels.com/Ketut Subiyanto)

Pakar pengasuhan anak, Dr. Deborah Gilboa, memberikan panduan untuk menjelaskan isu perang seperti World War 3 sesuai usia.

  • Usia pre-school hingga 8 tahun

Untuk anak-anak yang lebih kecil, beri mereka informasi faktual yang memiliki nilai pribadi. Informasi tersebut harus singkat dan jelas. Pesan-pesannya bisa seperti: Ada perang di tempat yang jauh. Kita aman, tetapi ini adalah masalah besar".

"Jika seorang anak bertanya, 'Mengapa mereka berkelahi?', orangtua dapat menjawab, 'Mereka berkelahi memperebutkan siapa yang seharusnya berkuasa, tetapi tempat itu jauh dari sini'", ungkap Gilboa mengutip laman Today.

  • Usia 8-10 tahun

Gilboa mendesak para orangtua untuk menyampaikan pesan secara sederhana dan berbagi pelajaran.

Ketika anak-anak mengejutkan orangtua dengan pertanyaan tentang perang, tidak apa-apa jika orangtua belum siap untuk menjawabnya. Cukup akui saja dan kemudian kembali membahasnya nanti, dengan menekankan kepada anak bahwa orangtua adalah sumber yang dapat dipercaya.

“Berikan dirimu ruang untuk bernapas agar dapat memutuskan apa pelajaran yang dapat dipetik. Misalnya menyematkan insight yang mengandung unsur patriotisme,” jelasnya.

  • Usia pelajar SMP

Tanyakan terlebih dahulu kepada anak informasi apa yang mereka ketahui tentang isu perang. Gilboa menjelaskan, cara ini memungkinkan anak untuk memulai cerita dari persepsinya, bukan persepsi kita sebagai orangtua.

Mengajukan pertanyaan juga memungkinkan orangtua untuk mendorong anak-anak mereka menuju fakta, agar bisa mengoreksi kesalahpahaman apapun. Jika tidak mengetahui jawaban atas suatu pertanyaan, orangtua dapat mencari jawaban tersebut bersama anak-anak melalui sumber terpercaya, seperti situs UNICEF atau PBB.

  • Usia pelajar SMA

Sama dengan komunikasi ke usia anak-anak SMP, orangtua sebaiknya juga mulai dengan menanyakan tentang apa yang mereka ketahui tentang isu perang. Lalu, bagikan informasi faktual sebanyak mungkin sesuai dengan nilai-nilai mereka.

Orangtua kemudian harus menanyakan bagaimana perasaan mereka tentang hal itu, dan darimana mereka mendapatkan informasi tersebut. Anak-anak remaja cenderung terpapar lebih banyak informasi di sekolah, media, dan masyarakat luas. 

“Remaja memang ingin tahu apa pendapat orang dewasa tentang hal itu dan mereka sangat dipengaruhi olehnya. Tetapi mereka juga dipengaruhi oleh orang lain," kata Gilboa.

3. Sebarkan kasih sayang, bukan stigma

Ilustrasi orangtua dan anak (pexels.com/RDNE Stock project)

Isu perang seperti World War 3 sering memunculkan prasangka dan diskriminasi, baik terhadap suatu kelompok masyarakat maupun negara. Saat berbicara dengan anak-anak, hindari label seperti "orang jahat", dan gunakanlah kesempatan ini untuk mendorong rasa empati, misalnya terhadap keluarga yang terpaksa mengungsi.

Sekalipun konflik terjadi di negara yang jauh, hal itu dapat memicu diskriminasi di lingkungan sekitar. Pastikan anak-anak tidak mengalami atau ikut terlibat dalam perundungan. Jika mereka pernah dihina atau diintimidasi di sekolah, dorong untuk terbuka pada orangtua.

Ingatkan anak-anak bahwa setiap orang berhak merasa aman di sekolah dan di masyarakat. Orangtua harus berperan untuk menyebarkan kebaikan dan saling mendukung.

4. Fokus pada nilai-nilai empati

Ilustrasi orangtua dan anak (pexels.com/August de Richelieu)

Penting bagi anak-anak untuk mengetahui bahwa orang-orang saling membantu dengan tindakan keberanian dan kebaikan. Temukan kisah-kisah positif, seperti para petugas tanggap darurat yang membantu orang-orang, atau kaum muda yang menyerukan perdamaian.

“Orangtua dapat menyeimbangkan isu perang atau World War 3 dengan hal-hal produktif yang terjadi di masyarakat atau di dunia. Bisa juga dengan hal-hal positif tentang keselamatan, interaksi positif serta kebaikan, jadi strategi yang sangat baik untuk digunakan di tengah isu perang," ungkap Psikolog anak klinis, Dr. Deidre Donaldson, dari Gateway Healthcare dan Brown University Health di Providence, Rhode Island, mengutip laman ABC News.

Tanyakan juga kepada orangtua apakah mereka ingin berpartisipasi dalam melakukan tindakan positif. Mungkin bisa menggambar poster atau menulis puisi untuk perdamaian, atau mungkin bisa berpartisipasi dalam penggalangan dana atau bergabung dalam petisi. Perasaan melakukan sesuatu, sekecil apa pun, seringkali dapat memberikan kenyamanan yang besar.

5. Akhiri percakapan dengan penuh perhatian

Ilustrasi orangtua dan anak (pexels.com/Kampus Production)

Penting untuk memastikan orangtua tidak meninggalkan anak dalam keadaan tertekan. Cobalah untuk menilai tingkat kecemasan anak dengan memperhatikan bahasa tubuh mereka. Mempertimbangkan apakah mereka menggunakan nada suara yang biasa mereka gunakan, dan memperhatikan pernapasannya.

Ingatkan anak-anak bahwa orangtua sangat peduli dan siap mendengarkan serta mendukung kapan pun mereka merasa khawatir. Akhiri percakapan dengan pesan optimis bahwa banyak orang di dunia berusaha menciptakan perdamaian, dan konflik tidak selalu berlangsung selamanya.

Nah, itulah cara menjelaskan isu perang ke anak tanpa menakut-nakuti. Orangtua bisa menggunakan cara ini di tengah isu World War 3 yang semakin gencar. Semoga bermanfaat!

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team