Ilustrasi orangtua dan anak (pexels.com/Ketut Subiyanto)
Pakar pengasuhan anak, Dr. Deborah Gilboa, memberikan panduan untuk menjelaskan isu perang seperti World War 3 sesuai usia.
Untuk anak-anak yang lebih kecil, beri mereka informasi faktual yang memiliki nilai pribadi. Informasi tersebut harus singkat dan jelas. Pesan-pesannya bisa seperti: Ada perang di tempat yang jauh. Kita aman, tetapi ini adalah masalah besar".
"Jika seorang anak bertanya, 'Mengapa mereka berkelahi?', orangtua dapat menjawab, 'Mereka berkelahi memperebutkan siapa yang seharusnya berkuasa, tetapi tempat itu jauh dari sini'", ungkap Gilboa mengutip laman Today.
Gilboa mendesak para orangtua untuk menyampaikan pesan secara sederhana dan berbagi pelajaran.
Ketika anak-anak mengejutkan orangtua dengan pertanyaan tentang perang, tidak apa-apa jika orangtua belum siap untuk menjawabnya. Cukup akui saja dan kemudian kembali membahasnya nanti, dengan menekankan kepada anak bahwa orangtua adalah sumber yang dapat dipercaya.
“Berikan dirimu ruang untuk bernapas agar dapat memutuskan apa pelajaran yang dapat dipetik. Misalnya menyematkan insight yang mengandung unsur patriotisme,” jelasnya.
Tanyakan terlebih dahulu kepada anak informasi apa yang mereka ketahui tentang isu perang. Gilboa menjelaskan, cara ini memungkinkan anak untuk memulai cerita dari persepsinya, bukan persepsi kita sebagai orangtua.
Mengajukan pertanyaan juga memungkinkan orangtua untuk mendorong anak-anak mereka menuju fakta, agar bisa mengoreksi kesalahpahaman apapun. Jika tidak mengetahui jawaban atas suatu pertanyaan, orangtua dapat mencari jawaban tersebut bersama anak-anak melalui sumber terpercaya, seperti situs UNICEF atau PBB.
Sama dengan komunikasi ke usia anak-anak SMP, orangtua sebaiknya juga mulai dengan menanyakan tentang apa yang mereka ketahui tentang isu perang. Lalu, bagikan informasi faktual sebanyak mungkin sesuai dengan nilai-nilai mereka.
Orangtua kemudian harus menanyakan bagaimana perasaan mereka tentang hal itu, dan darimana mereka mendapatkan informasi tersebut. Anak-anak remaja cenderung terpapar lebih banyak informasi di sekolah, media, dan masyarakat luas.
“Remaja memang ingin tahu apa pendapat orang dewasa tentang hal itu dan mereka sangat dipengaruhi olehnya. Tetapi mereka juga dipengaruhi oleh orang lain," kata Gilboa.