Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Cara Orangtua Minta Maaf Bisa Pengaruhi Mental Anak, Apa Bedanya?

4 min read
Cara Orangtua Minta Maaf Bisa Pengaruhi Mental Anak, Apa Bedanya?
Ilustrasi anak-anak (pexels.com/Nicola Barts)
Share Article

Semakin lama parenting berkembang, semakin terlihat bahwa orangtua meminta maaf kepada anak bukan lagi hal yang dianggap tabu. Orangtua juga manusia yang bisa salah bicara, kehilangan kesabaran, atau melakukan sesuatu yang ternyata membuat anak merasa terluka. Namun, gak sedikit orangtua yang masih merasa gengsi untuk mengakui kesalahan dan benar benar mendengarkan apa yang dirasakan anak.

Padahal, keberanian untuk meminta maaf bisa menjadi bagian penting dalam membangun hubungan yang sehat dengan anak. Bukan cuma soal mengucapkan kata “maaf”, tetapi juga bagaimana orangtua mengambil tanggung jawab dan memberi ruang bagi anak untuk menyampaikan perasaannya.

  1. 1. “Maafin Ibu, ya” dan “Ibu minta maaf, ya” punya makna berbeda

    ilustrasi ibu sedih (pexels.com/SHVETS production)
    ilustrasi ibu sedih (pexels.com/SHVETS production)

    Sekilas terdengar mirip, tetapi kedua kalimat tersebut punya penekanan yang berbeda. “Maafin Ibu, ya” lebih berfokus pada respons yang diharapkan dari anak, yaitu memberikan maaf. Sementara itu, “Ibu minta maaf, ya” lebih dulu menempatkan orangtua sebagai pihak yang mengakui bahwa dirinya telah melakukan kesalahan.

    Menurut Rebecca Parlakian, Senior Director of Programs di ZERO TO THREE, permintaan maaf yang baik perlu menyebutkan kesalahan secara jelas dan menggunakan bahasa yang bisa dipahami anak. Contohnya “Ibu tadi membentak kamu dan seharusnya Ibu gak melakukan itu. Ibu minta maaf.” Dikutip dari PBS KIDS for Parents.

    Jadi, daripada buru-buru meminta anak memaafkan, orangtua bisa lebih dulu mengakui apa yang dilakukan. Anak pun gak ditempatkan sebagai pihak yang harus segera menghilangkan rasa marah atau kecewanya hanya karena orangtua sudah mengatakan maaf.

  2. 2. Minta maaf bukan berarti harus membela diri

    Ilustrasi anak-anak
    Ilustrasi anak-anak (pexels.com/Nicola Barts)

    Kesalahan orangtua sering kali terjadi karena situasi tertentu. Misalnya, anak sedang rewel, rumah berantakan, atau orangtua sedang lelah setelah bekerja. Kondisi tersebut memang bisa menjelaskan mengapa seseorang kehilangan kesabaran, tetapi bukan berarti harus digunakan untuk membenarkan tindakan yang menyakiti anak.

    Misalnya, daripada mengatakan, “Ibu minta maaf sudah membentak, tapi kamu dari tadi gak dengar,” orangtua bisa mengatakan, “Ibu minta maaf sudah membentak kamu. Seharusnya Ibu bicara dengan lebih tenang.” Dengan begitu, anak belajar bahwa seseorang tetap bisa bertanggung jawab atas perilakunya meskipun ada situasi yang membuat emosi terpancing.

  3. 3. Setelah minta maaf, dengarkan apa yang dirasakan anak

    Ilustrasi ayah dan anak
    Ilustrasi ayah dan anak (freepik.com/freepik)

    Mengucapkan maaf juga bukan berarti percakapan harus langsung selesai. Bisa saja anak masih merasa sedih, kecewa, marah, atau belum siap menerima permintaan maaf tersebut. Dalam kondisi seperti ini, orangtua gak perlu memaksa anak untuk langsung kembali ceria atau mengatakan bahwa mereka sudah memaafkan.

    Menurut Harvard Health, memperbaiki keretakan dalam hubungan orangtua dan anak mencakup mendengarkan perasaan anak, mengakui rasa sakit yang muncul, dan meminta maaf ketika diperlukan. Proses tersebut disebut sebagai bagian dari repair, yaitu upaya memperbaiki kembali hubungan setelah terjadi konflik atau luka emosional.

    Hal serupa juga dijelaskan oleh Dr. Becky Kennedy, Clinical Psychologist dan Founder & CEO Good Inside, yang mengatakan, “Get good at repair,” atau “Belajarlah untuk melakukan perbaikan,” dikutip dari TED: How to build better relationships between kids, parents, and ourselves.

    Menurut Kennedy, repair berarti kembali pada momen ketika hubungan mengalami keretakan, mengambil tanggung jawab atas perilaku sendiri, dan mengakui dampaknya kepada orang lain. Artinya, setelah berkata maaf, orangtua bisa memberi kesempatan kepada anak untuk bercerita. Misalnya dengan mengatakan, “Kamu masih sedih karena tadi Ibu bentak?” atau “Kalau kamu masih marah, gak apa apa. Ibu mau dengar.” Kalimat sederhana seperti ini menunjukkan bahwa perasaan anak gak harus langsung hilang hanya karena orangtua sudah meminta maaf.

  4. 4. Buktikan lewat perubahan

    Ilustrasi ibu dan anak
    Ilustrasi ibu dan anak (freepik.com/freepik)

    Setelah mengakui kesalahan, orangtua juga perlu menunjukkan usaha untuk memperbaikinya. Misalnya, ketika sebelumnya membentak saat emosi, coba mengambil jeda sebelum kembali berbicara dengan anak agar kejadian serupa gak terus berulang.

    Dari sini, anak belajar bahwa melakukan kesalahan bukan akhir dari segalanya. Yang gak kalah penting adalah keberanian untuk bertanggung jawab dan berusaha memperbaiki sikap setelah menyadari kesalahan.

    Anak pun gak membutuhkan orangtua yang selalu sempurna. Mereka perlu melihat bahwa orangtua bisa salah, mau mendengarkan ketika mereka terluka, dan menunjukkan lewat tindakan bahwa hubungan tersebut tetap layak dijaga.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More