Fenomena fatherless country belakangan semakin sering dibicarakan dalam berbagai diskusi tentang parenting. Banyak orang mengira istilah ini hanya merujuk pada anak-anak yang tumbuh tanpa sosok ayah karena perceraian, atau kematian. Padahal, seseorang bisa saja tinggal serumah dengan ayahnya, tapi tetap mengalami kondisi yang disebut fatherless secara emosional.
Hal ini menjadi perhatian karena dampaknya tak hanya dirasakan saat masa kanak-kanak, tapi bisa terbawa hingga dewasa. Di banyak keluarga, peran ayah sering kali dipersempit menjadi pencari nafkah. Selama kebutuhan finansial terpenuhi, tugas ayah dianggap selesai. Ketika kebutuhan tersebut tak terpenuhi, berbagai dampak bisa muncul seperti berikut ini.
