Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
6 Hal yang Diam-diam Diperhatikan Anak dari Orangtuanya, Tahu?
ilustrasi bonding time antara anggota keluarga (pexels.com/timamiroshnichenko)
  • Anak mengamati cara orangtua mengelola emosi, menghadapi kesalahan, dan berbicara pada diri sendiri; respons tenang serta penuh kasih menjadi contoh menghadapi perasaan dan kegagalan.
  • Cara orangtua memandang tubuh dan berhubungan dengan makanan ikut membentuk pemahaman anak tentang penampilan, penerimaan diri, serta pola makan tanpa rasa takut atau bersalah.
  • Anak menilai nilai orangtua melalui kesesuaian ucapan dan tindakan, termasuk cara memperlakukan pasangan, keluarga, pengasuh, serta orang lain di sekitarnya.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Anak-anak ternyata bisa memperhatikan lebih banyak hal dari orangtua daripada yang selama ini kita kira. Bukan cuma perkataan yang ditujukan kepada mereka, anak juga belajar dari cara orangtua mengelola emosi, memandang diri sendiri, hingga memperlakukan orang lain.

Hal-hal yang terlihat sepele bagi orang dewasa justru dapat menjadi contoh bagi anak dalam memahami diri dan lingkungan sekitar. Karena itu, penting bagi orangtua untuk lebih sadar terhadap kebiasaan sehari-hari yang diam-diam diperhatikan anak. Yuk, ketahui apa yang diam-diam anak perhatikan dari orangtuanya tanpa disadari!

1. Cara orangtua mengelola emosi

ilustrasi ayah dan anak sedang packing pakaian (pexels.com/ketutsubiyanto)

Anak bisa menangkap perubahan emosi orangtua, termasuk saat kamu lelah, frustrasi, atau kehilangan kesabaran. Mereka mungkin belum memahami penyebabnya, tetapi bisa membaca emosi tersebut dari nada bicara, ekspresi wajah, dan cara kamu merespons masalah. Sebaliknya, ketika orangtua mampu tetap tenang dalam situasi sulit, anak dapat belajar bahwa emosi kuat tidak harus selalu diluapkan dengan ledakan amarah.

Karin Monster-Peters, seorang psikolog dan parenting coach, dikutip dari YourTango, menjelaskan bahwa anak juga dapat menangkap perasaan yang belum terselesaikan dalam diri orangtua dan mencerminkannya melalui perilaku. Karena itu, kemampuan mengelola emosi bukan hanya berdampak pada diri sendiri, tetapi juga menjadi contoh bagi anak dalam menghadapi perasaannya.

“Ketenanganmu akan menunjukkan kepada mereka bagaimana melewati apa pun yang sedang mereka rasakan,” ujar Dr. Karin Monster-Peters.

2. Cara orangtua memandang tubuh sendiri

ilustrasi anak kecil berkumur (pexels.com/mikhailnilov)

Anak juga memperhatikan bagaimana orangtuanya memandang tubuh sendiri. Mereka bisa melihat ketika kamu sering mengkritik bentuk tubuh di depan cermin, menghindari kamera, atau merasa tidak nyaman mengenakan pakaian tertentu. Dari kebiasaan tersebut, anak dapat belajar bahwa ada bentuk tubuh yang dianggap lebih baik atau lebih ideal daripada lainnya.

Karena itu, penting bagi orangtua untuk berhati-hati saat membicarakan penampilan di depan anak. Cara kamu memperlakukan dan berbicara tentang tubuh sendiri dapat memengaruhi cara anak memandang tubuhnya di kemudian hari. Alih-alih menunjukkan ketidakpuasan terhadap penampilan, orangtua bisa memberi contoh dengan menghargai tubuh dan fungsinya.

“Orang dewasa terus-menerus menunjukkan kepada anak bagaimana cara memandang tubuh mereka sendiri melalui tindakan sehari-hari,” ujar Alyssa Miller, ahli diet terdaftar (registered dietitian), dikutip dari HuffPost.

3. Nilai yang benar-benar dianggap penting

ilustrasi ayah membaca bersama anak (pexels.com/rdne)

Anak tidak hanya mendengarkan nilai yang diajarkan orangtua, tetapi juga melihat apakah perkataan tersebut sesuai dengan tindakan. Misalnya, kamu mungkin mengatakan bahwa olahraga bukan hanya tentang menang, tetapi setelah pertandingan justru langsung bertanya, “Siapa yang menang?”. Perbedaan antara ucapan dan tindakan dapat membuat anak memahami sendiri hal-hal yang sebenarnya dianggap penting oleh orangtuanya.

Hal serupa berlaku ketika orangtua mengajarkan kejujuran, kerja keras, atau kepedulian kepada orang lain. Anak akan memperhatikan bagaimana nilai tersebut diterapkan dalam berbagai situasi sehari-hari, termasuk ketika menghadapi masalah kecil. Karena itu, memberikan contoh secara konsisten sering kali lebih efektif daripada sekadar mengulang nasihat.

“Anak-anak memperhatikan apa yang sebenarnya kamu anggap penting berdasarkan apa yang kamu katakan dan lakukan. Terkadang, hal itu berbeda dari apa yang kamu katakan sebagai sesuatu yang kamu hargai,” ujar Laura Markham, psikolog klinis, penulis Peaceful Parent, Happy Kids, dan pendiri Aha! Parenting, dikutip dari HuffPost.

4. Cara orangtua memperlakukan diri sendiri saat melakukan kesalahan

ilustrasi keluarga (pexels.com/emmabauso)

Anak juga memperhatikan cara orangtua berbicara kepada diri sendiri setelah melakukan kesalahan. Jika kamu sering menyalahkan diri, menuntut kesempurnaan, atau merasa gagal karena kesalahan kecil, anak bisa meniru pola tersebut. Sebaliknya, ketika orangtua mampu mengakui kesalahan tanpa merendahkan diri, anak belajar bahwa kesalahan adalah bagian dari proses belajar.

Sikap penuh kasih terhadap diri sendiri juga membantu anak membangun ketangguhan emosional. Mereka perlu melihat bahwa tidak ada manusia yang selalu sempurna dan kegagalan bukan alasan untuk membenci diri sendiri. Dengan memberi contoh yang sehat, orangtua secara tidak langsung mengajarkan anak untuk lebih lembut terhadap dirinya.

5. Hubungan orangtua dengan makanan

ilustrasi memasak bersama dengan keluarga (.pexels.com/augustderichelieu)

Kebiasaan makan dan cara orangtua berbicara tentang makanan juga diperhatikan anak. Menyebut makanan sebagai “baik” atau “buruk”, merasa bersalah setelah makan, atau sengaja melewatkan waktu makan dapat memengaruhi cara anak memandang makanan. Dari hal-hal yang sering dilihat dan didengar di rumah, anak perlahan membentuk pemahamannya sendiri.

Karena itu, orangtua sebaiknya memberikan contoh hubungan yang seimbang dengan makanan. Menikmati makanan tanpa terus merasa bersalah dapat membantu anak melihat makan sebagai bagian normal dari kehidupan. Kebiasaan ini juga dapat membantu mereka membangun pola makan yang lebih sehat tanpa rasa takut terhadap makanan tertentu.

6. Cara orangtua berbicara dan memperlakukan orang lain

ilustrasi keluarga piknik (pexels.com/askarabayev)

Anak memperhatikan bagaimana orangtua memperlakukan pasangan, keluarga, pengasuh, maupun orang lain di sekitarnya. Mereka juga bisa menangkap nada negatif ketika orangtua membicarakan dirinya kepada orang lain, meski belum memahami seluruh isi percakapan. Sikap, ekspresi, dan pilihan kata tersebut dapat memengaruhi rasa aman, kepercayaan diri, serta cara anak belajar memperlakukan orang lain.

Karena itu, usahakan menggunakan bahasa yang tetap menghargai orang lain, termasuk ketika sedang membahas perilaku anak. Alih-alih menjadikan kesalahan sebagai bahan lelucon atau mempermalukan seseorang, orangtua dapat berfokus pada pelajaran yang diperoleh dan cara menyelesaikan masalah.

“Anak-anak memperhatikan dinamika ini, jadi berusahalah sebisa mungkin membicarakan hal-hal positif tentang orangtua lain dan para pengasuh di sekitar anak, bahkan ketika mereka berada di ruangan lain. Kemungkinan besar, mereka masih bisa mendengarmu,” ujar Jazmine McCoy, psikolog klinis, dikutip dari HuffPost.

Pada akhirnya, anak belajar bukan hanya dari nasihat yang diberikan orangtua, tetapi juga dari berbagai hal yang mereka lihat setiap hari. Cara kamu mengelola emosi, memandang diri sendiri, dan memperlakukan orang lain bisa menjadi pelajaran yang mereka bawa hingga dewasa.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article