ilustrasi patriarki (pexels.com/Annushka Ahuja)
Alasan terakhir jangan mendidik anak laki-laki seperti tamu di rumah sendiri adalah agar dirinya tidak membawa kebiasaan merasa paling berhak ke dalam hubungan. Ketika anak laki-laki selalu diutamakan, pendapatnya lebih sering dituruti, atau kesalahannya lebih mudah dimaafkan daripada saudara perempuannya, ia bisa tumbuh dengan pemahaman bahwa kebutuhannya memang layak mendapat perhatian lebih besar. Hal ini dapat terlihat ketika ia selalu memperoleh bagian terbaik, tidak pernah diminta mengalah, atau dibebaskan dari tugas keluarga dengan alasan bahwa ia laki-laki dan kelak akan menjadi kepala keluarga. Perlakuan seperti itu tidak otomatis membuat setiap anak tumbuh egois, tetapi dapat membentuk pola pikir bahwa kenyamanan dirinya lebih penting daripada kontribusi dan kebutuhan orang lain jika tidak disertai pendidikan tentang empati serta tanggung jawab.
Dalam hubungan, kebiasaan tersebut dapat muncul melalui kebiasaan mengharapkan pasangan mengingat semua kebutuhan rumah tangga, mengambil keputusan tanpa berdiskusi, atau menganggap pekerjaan domestik sebagai bantuan kepada perempuan, bukan tanggung jawab bersama. Pasangan akhirnya bukan hanya mengerjakan tugas rumah tangga, tetapi juga menanggung beban mental untuk mengingat jadwal belanja, mengatur kebutuhan anak, dan memastikan berbagai urusan rumah tidak terlewat. Karena itu, anak laki-laki perlu diajarkan bahwa menjadi laki-laki bukan berarti harus selalu dilayani atau diutamakan, melainkan mampu menghargai orang lain dan mengambil bagian dalam tanggung jawab bersama. Sikap menghormati pasangan tidak cukup dibentuk melalui nasihat tentang cara memperlakukan perempuan, tetapi juga melalui kebiasaan sehari-hari ketika ia diminta mendengarkan, berbagi tugas, dan menyadari bahwa orang lain pun memiliki kebutuhan serta batas tenaga.
Membiasakan anak laki-laki terlibat dalam pekerjaan rumah tidak berarti kasih sayang orangtua harus dikurangi. Justru, keterlibatan tersebut dapat menjadi kesempatan bagi anak untuk belajar menghargai pekerjaan yang selama ini mungkin tidak pernah diperhatikannya. Perubahan bisa dimulai dari kebiasaan kecil di rumah, seperti merapikan tempat tidur sendiri, mencuci piring setelah makan, atau ikut membereskan rumah tanpa menunggu perintah. Menurutmu, kebiasaan apa yang paling penting diterapkan orangtua agar anak laki-laki tumbuh menjadi pribadi yang mandiri dan tidak menganggap perempuan sebagai orang yang harus selalu melayaninya?