Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Redshirting pada Anak Laki-laki, Benarkah Bisa Bantu Kesiapan Sekolah?

4 min read
Redshirting pada Anak Laki-laki, Benarkah Bisa Bantu Kesiapan Sekolah?
ilustrasi orangtua menasihati anak (pexels.com/augustderichelieu)
Share Article

Memulai sekolah menjadi salah satu tahap baru yang perlu dipersiapkan anak dan orangtua. Namun, kesiapan setiap anak untuk masuk kelas pertama gak selalu sama.

Karena itu, sebagian orangtua memilih menunda anak masuk sekolah selama satu tahun atau melakukan redshirting. Lantas, apa sebenarnya redshirting dan apakah cara ini bisa membantu anak laki-laki lebih siap sekolah? Yuk, simak penjelasannya lewat artikel berikut!

  1. 1. Apa itu redshirting?

    ilustrasi anak perempuan dan laki-laki (unsplash.com/saeedkarimi)
    ilustrasi anak perempuan dan laki-laki (unsplash.com/saeedkarimi)

    Redshirting adalah keputusan menunda anak masuk taman kanak-kanak selama sekitar satu tahun. Artinya, anak yang biasanya mulai sekolah pada usia 5 tahun dapat ditunda hingga berusia 6 tahun.

    Istilah ini berasal dari dunia olahraga kampus, ketika atlet mahasiswa menunda mengikuti pertandingan selama satu musim sambil tetap berlatih. Dalam pendidikan, istilah tersebut digunakan untuk menggambarkan keputusan menunda masuk sekolah agar anak memiliki waktu tambahan untuk berkembang sebelum memulai pendidikan formal.

  2. 2. Kenapa anak laki-laki sering jadi pertimbangan?

    ilustrasi ayah membacakan dongeng untuk anak
    ilustrasi ayah membacakan dongeng untuk anak (pexels.com/martproduction)

    Anak laki-laki sering menjadi perhatian dalam pembahasan redshirting karena pada usia yang sama, mereka dapat terlihat kurang siap dibandingkan anak perempuan dalam beberapa kemampuan yang dibutuhkan di sekolah. Perbedaannya antara lain berkaitan dengan kemampuan mengikuti arahan, mengendalikan impuls, mengikuti kegiatan di kelas, dan mengikuti pelajaran.

    Dikutip dari Parents, Ioakim Boutakidis, peneliti sekaligus profesor bidang studi anak dan remaja di California State University, mengatakan bahwa persoalan ini juga banyak dibicarakan oleh guru dan konselor yang pernah ia latih. Menurutnya, para pendidik tersebut melihat anak laki-laki mengalami kesulitan di sekolah dan ingin melakukan sesuatu untuk membantu mereka.

    “Setiap guru membicarakan bagaimana anak laki-laki mengalami kesulitan. Dan mereka semua ingin melakukan sesuatu tentang hal itu,” ujar Ioakim Boutakidis.

  3. 3. Setahun lebih tua, apa benar lebih siap sekolah?

    ilustrasi anak kecil berkumur (pexels.com/mikhailnilov)
    ilustrasi anak kecil berkumur (pexels.com/mikhailnilov)

    Secara teori, tambahan satu tahun dapat memberi anak lebih banyak waktu untuk berkembang sebelum masuk sekolah. Anak diharapkan lebih matang, mampu mengikuti instruksi, mengendalikan impuls, berpartisipasi dalam kegiatan kelas, dan mengikuti pelajaran.

    Namun, manfaat redshirting gak hanya berkaitan dengan kemampuan akademik. Thomas Dee menjelaskan bahwa penelitian tentang menunda sekolah juga perlu melihat kemampuan lain, termasuk keterampilan pengendalian diri yang dapat membantu anak menjalani kegiatan belajar.

    “Kami secara refleks melihat nilai tes dan pencapaian pendidikan... sebenarnya hal tersebut berkaitan dengan ukuran-ukuran lainnya,” ujar Thomas Dee, profesor di Stanford Graduate School of Education, dikutip dari The New York Times.

  4. 4. Ada manfaatnya, tetapi bukan jaminan

    ilustrasi orang tua bermain bersama anak  (pexels.com/keiraburton)
    ilustrasi orang tua bermain bersama anak (pexels.com/keiraburton)

    Beberapa penelitian yang dibahas menunjukkan bahwa anak yang lebih tua saat masuk sekolah dapat memperoleh hasil akademik yang lebih baik. Penelitian di beberapa negara bagian Amerika Serikat juga menemukan manfaat tertentu, terutama pada kemampuan membaca dan matematika serta pada sebagian kelompok anak.

    Meski begitu, hasil penelitian mengenai redshirting masih belum konsisten. Ada penelitian yang menemukan manfaat tersebut dapat berkurang seiring waktu, sementara penelitian lain menunjukkan bahwa menunda sekolah dapat memberikan dampak berbeda pada kelompok anak tertentu.

    “Usia benar-benar berpengaruh,” ujar David Figlio, profesor di University of Rochester, dikutip dari The New York Times.

  5. 5. Risiko redshirting yang perlu dipikirkan orangtua

    ilustrasi orangtua menasihati anak (pexels.com/augustderichelieu)
    ilustrasi orangtua menasihati anak (pexels.com/augustderichelieu)

    Menunda sekolah juga memiliki beberapa hal yang perlu dipertimbangkan. Anak dapat mencapai usia legal dewasa sebelum menyelesaikan sekolah menengah, sementara beberapa penelitian yang dibahas mengaitkan usia masuk sekolah yang lebih tua dengan risiko putus sekolah dan konsekuensi lain.

    Kondisi keluarga juga menjadi perhatian karena gak semua orangtua memiliki kemampuan yang sama untuk menunda sekolah. Keluarga dengan status sosial ekonomi lebih tinggi cenderung lebih mampu mendapatkan penundaan dan menyediakan pengasuhan tambahan selama anak belum masuk sekolah.

    “Orangtua yang memiliki status sosial ekonomi lebih tinggi sering kali lebih mampu memperjuangkan dan mendapatkan penundaan waktu masuk sekolah. Ini mungkin menjadi keputusan yang baik untuk anak mereka, tetapi jika keputusan tersebut gak dapat dilakukan secara adil bagi semua keluarga, kamu berisiko menimbulkan dampak sosial yang tidak setara pada sistem sekolah,” ujar Astrid Marie Jorde Sandsør, ekonom dan peneliti intervensi anak usia dini di University of Oslo, dikutip dari Parents.

  6. 6. Kesiapan anak lebih penting daripada sekadar usia

    ilustrasi anak yang siap belajar (pexels.com/freestockpro)
    ilustrasi anak yang siap belajar (pexels.com/freestockpro)

    Orangtua yang mempertimbangkan redshirting perlu melihat alasan di balik keputusan tersebut. Jika tujuannya membantu anak menjadi lebih siap, tambahan satu tahun sebaiknya digunakan untuk kegiatan yang mendukung kemampuan seperti pengendalian diri, fokus, dan mengikuti aktivitas bersama anak lain.

    Orangtua juga mempertimbangkan apa yang akan dilakukan anak selama satu tahun tambahan tersebut. Bermain bersama teman dan mengikuti kegiatan yang terorganisasi dapat menjadi pilihan, sedangkan membiarkan anak menghabiskan waktu di rumah tanpa kegiatan yang mendukung perkembangan belum tentu memberikan manfaat yang diharapkan.

    Jadi, redshirting bukan keputusan yang otomatis membuat anak lebih siap menghadapi sekolah. Kesiapan dan kebutuhan masing-masing anak tetap perlu menjadi pertimbangan utama sebelum orangtua menentukan pilihan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More