Terdengar suara nyaring yang membuat seorang perempuan dewasa bergegas menghampiri sumbernya. Suara tersebut ternyata berasal dari si kecil yang tengah menangis sambil berpegangan pada nakas kayu berisi berbagai mainan. Melihat anak kesulitan menjangkau mainan yang diinginkannya, sang ibu segera membantu mengambil benda tersebut.
Tidak butuh waktu lama, tangisan mulai mereda dan berganti dengan celotehan kecil yang terdengar samar. Beberapa saat kemudian, tangisan kembali terdengar, kali ini lebih keras meski mainan yang diinginkannya sudah berada dalam genggaman. Ibu mencoba meraih tubuh mungil itu dan memeluknya sambil memberikan usapan lembut.
Ia tidak buru-buru meminta anak berhenti menangis atau mengalihkan perhatiannya dengan cara lain. Sebaliknya, ibu berusaha tetap berada di dekatnya agar si kecil merasa aman saat menghadapi luapan emosinya. Sebab, di balik tangisan yang terdengar begitu keras, ada perasaan yang belum mampu diungkapkan anak melalui kata-kata.
