Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

4 Kebiasaan Orangtua yang Hancurkan Kepercayaan Diri Anak, Hindari!

4 min read
4 Kebiasaan Orangtua yang Hancurkan Kepercayaan Diri Anak, Hindari!
ilustrasi orangtua bertengkar (pexels.com/ Monstera Production)

Melatih kepercayaan diri sedari dini sangat penting bagi anak-anak. Kepercayaan diri yang kuat bantu dorong anak untuk bisa mengatasi tantangan, mencoba hal-hal baru, membentuk perilaku, berani mengambil keputusan, serta berkaitan erat dengan cara anak memandang diri sendiri. Orangtua sebagai pengasuh utama punya peran vital untuk membentuk kepercayaan diri anaknya.

Namun, terkadang ada beberapa perilaku yang tanpa disadari bisa melukai kepercayaan diri anak yang jika dibiarkan terus menerus bisa berpengaruh pada tumbuh kembang anak. Lantas, perilaku apa saja yang sebaiknya orangtua hindari? Yuk, cari tahu jawabannya di bawah!

  1. 1. Menegur dengan keras atau kasar

    ilustrasi orangtua marah (pexels.com/Sonam Prajapati)
    ilustrasi orangtua marah (pexels.com/Sonam Prajapati)

    Jeffrey Bernstein, Ph.D., sseorang psikolog, melansir dari Psychology Today menjelaskan, menegur atau mengkritik anak dengan cara yang kasar dan keras bisa memberikan anak tantangan emosional. Komentar keras yang diutarakan orangtua membuat anak merasa sedih, marah, atau frustasi.

    "Berdasarkan pengalaman saya sebagai psikolog anak, sebagian besar orangtua yang kritis bergemul dengan kecemasannya sendiri, dan secara gak langsung membebani anaknya," kata Bernstein.

    Teguran yang disampaikan dengan cara yang kasar dan keras berkaitan erat dengan tingkat kepercayaan diri anak. Anak yang mendapat kritik tajam dari orangtuanya cenderung akan mengalami penurunan motivasi dan kurangnya rasa percaya diri terhadap kemampuannya sendiri.

  2. 2. Terlalu protektif

    ilustrasi orangtua beri pesan kepada anak (pexels.com/Alex Green)
    ilustrasi orangtua beri pesan kepada anak (pexels.com/Alex Green)

    Sebagai orangtua, pastinya ingin selalu melindungi anaknya dari dari hal-hal yang menurutnya berbahaya. Gak ada yang salah dengan naluri tersebut, namun jika orangtua terus menerus mengontrol anak dengan dalih "khawatir" justru akan menghambat anaknya. Terlalu protektif dapat membatasi kesempatan anak untuk mengeksplorasi, belajar, dan membuat kesalahan, yang semuanya penting untuk pertumbuhan dan perkembangan mereka.

    Alih-alih melindunginya, Arundhati Swamy, konselor keluarga dan sekolah, dikutip dari parentcircle, mengatakan, sikap terlalu protektif akan membuat anak merasa takut dan cemas yang membuatnya menjadi pemalu dan rentan mengalami perundungan atau bullying. Saat orangtua terlalu mengontrol, anak dapat merasa tertindas, frustasi, serta menjadi pasif dan mudah marah. Perasaan negatif tersebut nantinya akan merampas antusiasme dan keberanian anak untuk dapat mengeksplorasi, belajar, dan mengalami hal-hal baru.

    Dampak lainnya, anak jadi merasa cemas dan gak aman, mereka mungkin merasa gak siap menghadapi dunia sendiri. Hal ini membuatnya ketergantungan terhadap keberadaan orangtuanya, gak bisa mandiri, dan jika dibiarkan bisa menjadi masalah saat anak beranjak dewasa.

  3. 3. Membuat anak selalu merasa bersalah

    ilustrasi anak bersedih (pexels.com/Alexander Dummer)
    ilustrasi anak bersedih (pexels.com/Alexander Dummer)

    Mengajarkan anak bersikap empati dan mengakui kesalahannya adalah hal yang baik. Namun, terus menerus menempatkan anak pada posisi 'bersalah' bukanlah hal bijak yang patut dilakukan orangtua. Kebiasaan mendorong anak merasa bersalah bisa berdampak pada cara dia mengungkapkan pikiran dan perasaannya.

    Bernstein mengatakan, "Banyak orangtua mengatakan bahwa mereka melakukan hal tersebut untuk mengajarkan pelajaran hidup kepada anak. Namun, menanamkan rasa bersalah justru dapat menghilangkan makna dari nasihat atau kebijaksanaan yang ingin mereka sampaikan."

    Orangtua sebaiknya gak membuat anak merasa bersalah sebagai cara untuk mendisiplinkan atau mengajarkan sesuatu. Sebab, tindakan tersebut justru bisa membuat anak merasa gak nyaman mengungkapkan pikiran dan perasaannya, bahkan berpotensi merusak kedekatan emosional antara orangtua dan anak.

  4. 4. Suka menyindir anak

    ilustrasi anak gak mendengarkan ibunya (pexels.com/Mikhail Nilov)
    ilustrasi anak gak mendengarkan ibunya (pexels.com/Mikhail Nilov)

    Melontarkan sarkasme atau sindiran kepada anak bukan cara menegur yang bijak. Penggunaan sindiran dapat menyakiti perasaan anak karena membuat mereka merasa dipermalukan atau direndahkan.

    Sering kali, orangtua gak sadar melontarkan kalimat serta nada bicara menyindir saat merasa lelah atau marah. Bernstein menyebut, merendahkan anak melalui sindiran justru dapat menjadi penghalang dalam membangun komunikasi yang efektif. Akibatnya, hubungan dan suasana antara orangtua dan anak bisa terasa semakin buruk.

    Sindiran dapat membuat anak merasa malu, gak dihargai, dan enggan berkomunikasi secara terbuka dengan orangtua. Lebih baik sampaikan teguran atau nasihat secara langsung dengan bahasa yang baik tanpa merendahkan perasaan anak.

    Cara orangtua berkomunikasi dengan anaknya sangat berpengaruh terhadap pengembangan kepercayaan diri. Saat orangtua berkomunikasi dan memberi contoh perilaku dengan yang positif, anak akan melakukan hal yang sama. Hal tersebut turut mendukung anak memiliki kepercayaan diri yang kuat.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Related Articles

See More