ilustrasi anak tantrum (pexels.com/cottonbro studio)
Anak yang berteriak, menangis, atau berguling di lantai memang bisa terlihat seperti sedang membuat ulah. Namun, gak semua tantrum muncul karena anak sengaja ingin menyulitkan orangtuanya. Rasa lapar, lelah, mengantuk, terlalu banyak stimulasi, atau kesulitan menyampaikan keinginan juga bisa menjadi pemicu. Memahami kemungkinan penyebabnya gak berarti membenarkan semua perilaku anak.
Kamu tetap boleh menetapkan batas ketika anak memukul, menendang, melempar benda, atau melakukan sesuatu yang membahayakan. Bedanya, batas tersebut disampaikan sambil tetap membantu anak memahami emosinya. 'Kamu boleh marah, tapi gak boleh memukul,' misalnya, memberi pesan bahwa perasaannya boleh ada, tetapi ada perilaku yang tetap gak boleh dilakukan. Dari sini anak perlahan belajar bahwa marah bukan masalah, tetapi cara melampiaskannya perlu dikendalikan.
Menghadapi tantrum memang gak pernah sesederhana teori. Ada hari ketika kamu berhasil tetap tenang, tetapi ada juga hari ketika suara anak yang terus menangis membuat kesabaranmu habis. Kamu gak harus menjadi orangtua yang selalu punya respons sempurna. Yang penting, setiap kejadian bisa menjadi kesempatan untuk mencoba respons yang lebih baik pada kesempatan berikutnya.
Jadi, ketika anak kembali tantrum, coba tahan sebentar sebelum langsung bereaksi. Pastikan dia aman, jaga nada bicara, beri ruang untuk emosinya mereda, lalu bicarakan masalahnya setelah dia lebih tenang. Gak perlu buru-buru mencari cara agar anak terlihat 'baik' di depan orang lain. Yang sedang kamu bantu bukan cuma menghentikan tangisan hari ini, tetapi juga mengajarinya sedikit demi sedikit bagaimana memahami dan mengelola emosinya sendiri.