“Anak-anak kita, berapa pun usia mereka, selalu memperhatikan perilaku orangtua, termasuk bagaimana kita menangani stres dan menciptakan support system," ujar Susan Tellone, seorang Clinical Director dalam Very Well Mind.
Mengelola Emosi Anak yang Sangat Aktif seperti Masha and The Bear

Masha digambarkan aktif, berani, dan penuh rasa ingin tahu, sehingga Bear memberi arahan dengan sabar.
Orangtua dapat membantu anak mengenali emosi melalui teladan saat menghadapi perasaan dan situasi tertentu.
Rutinitas, pembatasan screen time, aktivitas fisik, serta kegiatan kreatif dapat menyalurkan energi anak sesuai kebutuhannya.
Karakter Masha dalam kartun Masha and The Bear selalu berhasil menarik perhatian lewat tingkahnya yang usil dan penuh energi. Masha dikenal aktif, berani, dan selalu punya rasa ingin tahu yang tinggi. Namun, sifatnya yang begitu energik terkadang justru membuatnya terlibat dalam berbagai masalah, sehingga Bear harus dengan sabar memberikan arahan dan mengingatkannya.
Menghadapi anak yang aktif dan punya energi besar seperti Masha memang membutuhkan kesabaran ekstra. Bukan dengan melarangnya, orangtua dapat mengarahkan energi tersebut ke aktivitas yang positif dan sesuai dengan kebutuhannya. Berikut beberapa tips menghadapi anak yang punya banyak energi seperti Masha.
1. Memberi contoh yang baik agar bisa mengelola emosi

Masha and the Bear (dok. Animaccord/Masha and the Bear) Anak yang memiliki banyak energi dan cenderung aktif membutuhkan pendampingan agar dapat mengenali serta mengelola emosinya dengan baik. Melansir Psychology Today, anak belajar memahami emosi dengan mengamati dan meniru cara orangtua merespons perasaan mereka. Karena itu, orangtua dapat membantu anak mengidentifikasi dan menghadapi emosinya, salah satunya melalui cerita yang menjadi ruang bagi anak untuk memahami sekaligus mengelola berbagai kesulitan yang mereka alami.
Hal serupa terlihat dari sosok Bear yang meski berhadapan dengan tingkah laku anak yang sangat aktif, tidak selalu memberikan banyak peringatan atau perintah. Bear tak hanya memberi tahu apa yang harus dilakukan, ia lebih sering menunjukkan contoh melalui tindakan. Sikap tersebut menggambarkan bahwa orangtua atau pengasuh dapat membantu anak belajar menghadapi situasi tertentu dengan memberikan teladan, sehingga anak memahami perilaku yang tepat tanpa merasa terus-menerus digurui.
2. Membuat rutinitas dan membatasi screen time

Bear pura-pura sakit supaya Masha tidak mengganggunya (youtube.com/Masha and The Bear) Keseharian anak akan lebih teratur ketika mereka memiliki rutinitas yang jelas. Selain membantu membentuk kebiasaan, pengaturan screen time juga dapat mendukung anak untuk memiliki perhatian dan fokus yang lebih baik. Profesor Psikologi di University of Arizona, Neil Farber, menyebutkan bahwa orangtua dapat membantu anak membangun rutinitas sekaligus mengatur penggunaan gadget. Ketika waktu bermain gadget dibatasi, anak memiliki lebih banyak kesempatan untuk berinteraksi dengan orangtua dan lingkungan sekitar. Hubungan sosial yang terbangun sejak dini pun dapat menjadi fondasi bagi anak untuk merasa aman dan memahami bahwa mereka memiliki ruang untuk bercerita dan berekspresi, tidak selalu menunjukkannya lewat kekuatan fisik.
Hal tersebut dapat dilihat dari keseharian Masha dan Bear. Bear kerap mengajak Masha mengisi waktu luang dengan berbagai aktivitas menarik, seperti memasak, memancing, dan berkebun. Alih-alih menghabiskan banyak waktu di depan layar, Masha memiliki kesempatan untuk mengeksplorasi diri sekaligus membangun kedekatan dengan Bear. Bonding dengan orangtua atau pengasuh juga dapat membantu anak memiliki struktur dan rutinitas yang dapat diprediksi, sehingga mereka lebih mudah merasa aman dan mengelola kecemasan.
3. Mendukung anak dengan kebutuhan yang spesifik

Bear naik ke atas pohon untuk menghindari Masha (youtube.com/Masha and The Bear) Setiap anak memiliki kebutuhan dan karakter yang berbeda sehingga pendekatan yang diberikan pun perlu disesuaikan. Anak dapat diarahkan untuk melakukan berbagai aktivitas yang membantu mengembangkan keterampilan sekaligus menyalurkan energinya. Dr. Papazyan, spesialis gangguan autisme, ADHD, dan gangguan belajar, menyarankan aktivitas fisik yang dilakukan secara rutin karena dapat membantu anak melepaskan energi, mengekspresikan emosi, dan melatih kemampuan mengatur diri.
Selain aktivitas fisik, anak juga dapat dikenalkan dengan kegiatan kreatif seperti menggambar dan melukis. Aktivitas tersebut dapat menjadi media bagi anak untuk mengekspresikan perasaan dengan cara yang menyenangkan. Pilihan lainnya, seperti permainan sensorik, bermain peran, hingga berbagai permainan interaktif juga dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan minat anak.
Berbagai pendekatan tersebut juga tercermin dalam keseharian Masha dan Bear. Dengan memberikan ruang bagi anak untuk bergerak, mengeksplorasi, dan mencoba berbagai kegiatan, energi besar yang mereka miliki dapat disalurkan ke aktivitas yang positif.
Itulah beberapa cara yang dapat dilakukan orangtua atau pengasuh untuk mendampingi anak dengan energi dan rasa ingin tahu yang besar. Rutinitas, interaksi sosial, serta aktivitas yang sesuai dengan kebutuhan anak dapat membantu mereka tumbuh sekaligus belajar mengelola diri dengan lebih baik.
![[INFOGRAFIS] AI Jadi Tempat Curhat: Tren Baru Gen Z & Milenial](https://image.idntimes.com/post/20260429/upload_9c2883de31fbc7ad993691764c90e6e3_dfc3c6ee-e42f-48f6-9f1a-cde1ce74477c.jpg)























