Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Mulai Usia Berapa Orangtua Harus Mengetuk Pintu Kamar Anak?
ilustrasi seorang ibu yang memasuki kamar anak (pexels.com/cottonbro)

Memasuki usia tertentu, anak mulai membutuhkan privasi dan ruang untuk dirinya sendiri. Hal sederhana seperti mengetuk pintu kamar sebelum masuk pun ternyata bisa menjadi bentuk penghargaan orangtua terhadap batasan pribadi anak.

Meski begitu, banyak orangtua yang masih bingung kapan kebiasaan ini perlu diterapkan. Apakah sejak anak masuk SD atau justru saat mulai beranjak remaja? Menurut para psikolog, kebutuhan privasi anak berkembang seiring pertambahan usianya. Berikut penjelasannya.

1. Usia 1–3 tahun, belum perlu mengetuk pintu kamar

ilustrasi anak bermain di temoat tidur (pexels.com/tatianasyrikova)

Pada masa balita, orangtua tidak perlu mengetuk pintu kamar anak sebelum masuk. Sebab, pada usia ini kebutuhan utama anak masih berkaitan dengan pengawasan, keselamatan, dan pengasuhan sehari-hari.

Dikutip dari Paretns, psikolog klinis Lisa Strohman, PhD, menjelaskan bahwa balita belum memiliki kebutuhan privasi seperti anak yang lebih besar. Tidak ada kebutuhan privasi pada periode ini. Masuk ke kamar mereka tanpa mengetuk merupakan kebutuhan yang berkaitan dengan keselamatan dan pengasuhan anak.

2. Usia 4–10 tahun, mulai bisa dibiasakan

ilustrasi anak sedang tidur (pexels.com/artempodrez)

Ketika memasuki usia sekolah, anak mulai mengembangkan identitas dirinya dan membutuhkan ruang pribadi dalam porsi yang lebih kecil. Mereka mungkin belum secara langsung meminta privasi, tetapi orangtua sudah bisa mulai membiasakan diri untuk mengetuk pintu kamar sebelum masuk.

Menurut Dr. Strohman, mengetuk pintu bisa dilakukan terutama ketika anak sedang bermain, membaca buku, atau menikmati waktu sendirinya. Namun, keselamatan tetap menjadi prioritas sehingga orangtua tetap boleh langsung masuk apabila menduga anak sedang terluka atau berada dalam situasi yang berbahaya.

3. Usia 11–12 tahun, anak mulai membutuhkan lebih banyak privasi

ilustrasi anak perempuan tertidur (pexels.com/artempodrez)

Memasuki masa pra-remaja atau tween, kebutuhan anak akan privasi meningkat cukup signifikan. Pada usia ini, mengetuk pintu kamar sebelum masuk sebaiknya mulai menjadi kebiasaan yang dilakukan orangtua. Meski mulai menjaga privasinya, anak tetap membutuhkan perhatian dan dukungan dari orangtua.

"Mereka akan meminta lebih banyak privasi, tetapi di saat yang sama masih membutuhkan perhatian dan dukungan dari orangtua yang terkadang tidak ingin mereka akui," kata Dr. Strohman.

Karena itu, memberikan privasi kepada anak tidak berarti menjauh dari mereka. Orangtua tetap perlu hadir secara emosional dan meluangkan waktu untuk mengobrol atau sekadar menanyakan kabar anak setiap harinya.

4. Usia 13–18 tahun, orangtua sebaiknya selalu mengetuk pintu

ilustrasi anak tidur di kamar (pexels.com/cottonbro studio)

Memasuki usia remaja, privasi anak perlu lebih dihormati. Karena itu, orangtua sebaiknya membiasakan diri mengetuk pintu kamar sebelum masuk. Pada fase ini, remaja sedang mencari jati diri, membangun hubungan sosial, dan membutuhkan ruang untuk mengekspresikan dirinya.

Menurut Dr. Strohman, tahap ini pada dasarnya mengajarkan rasa saling menghormati dengan mengakui hak anak atas privasinya sambil tetap menjaga komunikasi yang terbuka. Dengan begitu, orangtua juga membantu membangun hubungan yang dilandasi rasa percaya dan batasan yang sehat dalam keluarga.

5. Tidak mengetuk pintu kamar anak bisa memengaruhi hubungan orangtua dan anak

ilustrasi anak dan ibu saling marah (pexels.com/rdne)

Memberikan privasi kepada anak bukan berarti membebaskan mereka tanpa pengawasan. Namun, mengabaikan kebutuhan privasi yang sudah sewajarnya dimiliki anak juga dapat berdampak pada hubungan antara orangtua dan anak.

"Jika seorang anak telah meminta privasi tetapi keinginannya tidak dihormati, kamu akan kehilangan kepercayaan dalam hubungan ini. Mengabaikan kebutuhan mereka akan privasi dapat menimbulkan perasaan tidak berdaya, kebencian, dan kecemasan," ungkap Dr. Strohman.

Kelsey Latimer, PhD, seorang  psikolog, dikutip dari Parents, menjelaskan bahwa mengabaikan batasan yang diinginkan anak tanpa komunikasi yang baik dapat membuat mereka menjadi lebih tertutup atau justru memberontak. Karena itu, memberikan privasi yang sesuai usia perlu diimbangi dengan komunikasi yang terbuka dan hangat.

Mengetuk pintu kamar anak mungkin terlihat sepele, tetapi kebiasaan ini bisa menjadi bentuk penghargaan terhadap privasi mereka. Yang terpenting, pastikan anak tetap merasa aman, nyaman, dan terbuka untuk bercerita kepada orangtuanya di setiap tahap tumbuh kembangnya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article