Anak dengan neurodivergent memiliki cara kerja otak yang berbeda dari anak-anak pada umumnya atau disebut neurotypical. Pada anak neurodivergent, cara kerja neurologis tersebut berkembang dengan pola yang berbeda sehingga pengalaman mereka dalam tumbuh dan belajar pun bisa terasa unik.
Menurut Erna Yulianti, S.Psi., M.Psi., Psikolog, Lead Psychologist Atelier of Minds, istilah neurodivergent sendiri menjadi payung bagi beragam kondisi, seperti Autism Spectrum Disorders (ASDs), ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder), disleksia, dan variasi neurologis lainnya.
"Anak-anak yang tumbuh dengan neurodivergent merupakan anak-anak yang tumbuh dengan perbedaan fungsi neurologis. Apa sih neurodivergent itu? Bisa kita bilang itu adalah term payung terhadap kondisi-kondisi anak yang memiliki fungsi neurologis yang berbeda. Cakupannya bisa ASDs, ADHD, disleksia, dan lain-lain. Dikarenakan hal ini berkaitan dengan neurologis, jadi variasi-variasinya itu juga spesifik berbeda penyebabnya, tergantung dengan apa variasinya," ujar Erna.
Menariknya, orangtua sering kali menjadi sosok pertama yang menangkap adanya sesuatu yang berbeda dalam perjalanan tumbuh kembang anak. Hal ini sesuai dengan riset yang dilakukan oleh Atelier of Mind, student care and enrichment center bagi anak-anak berusia 6–12 tahun, baik untuk anak neurotipikal maupun neurodivergen. Pemaparan tersebut disampaikan pada Senin (10/9/2026) di Atelier of Mind, Jakarta Selatan.
