ilustrasi kumpul keluarga (Pexels.com/Alexy Almond)
Saat seseorang menjadi orangtua, tanggung jawabnya gak lagi hanya kepada keluarga besar. Ada pasangan dan anak-anak yang membutuhkan perhatian, waktu, serta energi setiap hari. Ketika terlalu banyak energi tersita oleh konflik keluarga besar, kebutuhan keluarga inti bisa terabaikan. Padahal, merekalah yang paling dekat dan paling merasakan dampak dari kondisi emosional orangtua.
Memilih fokus pada keluarga inti bukan berarti mengabaikan keluarga besar. Keputusan tersebut lebih berkaitan dengan penentuan prioritas yang realistis. Orangtua perlu memastikan bahwa energi terbaik mereka diberikan kepada orang-orang yang menjadi tanggung jawab utama. Jika menjauh dari drama membantu mereka menjadi pasangan dan orangtua yang lebih baik, keputusan itu layak dipertimbangkan. Kesejahteraan keluarga inti juga merupakan hal yang penting untuk dijaga.
Mungkin ada orang yang menganggap keputusan menghindari family drama sebagai tindakan yang kurang menghargai keluarga. Namun jika dilihat lebih dalam, menjaga jarak dari konflik yang merugikan justru bisa menjadi bentuk kepedulian terhadap diri sendiri dan orang-orang terdekat. Orangtua yang sehat secara mental memiliki peluang lebih besar untuk menciptakan suasana rumah yang hangat, aman, dan penuh dukungan.
Jadi, apakah orangtua salah jika menghindari family drama demi mental health mereka? Belum tentu. Selama dilakukan secara bijak, tanpa niat menyakiti atau merendahkan anggota keluarga lain, keputusan tersebut bisa menjadi langkah yang sehat. Kamu juga berhak menetapkan batasan ketika sebuah hubungan mulai menguras energi secara berlebihan. Keluarga memang penting, tetapi kesehatan mental juga gak kalah berharga untuk dijaga.