ilustrasi ADHD (pexels.com/RDNE Stock project)
Selain memberikan dukungan kepada anak, orangtua juga perlu selektif dalam memilih lingkungan pendidikan yang sesuai dengan kebutuhannya. Sekolah formal perlu memiliki kesiapan untuk menerapkan sistem yang inklusif dan memahami kebutuhan setiap anak.
"Dalam memilih sekolah itu, kita perlu memperhatikan indikator-indikator dan kebutuhan anak seperti apa," ujar Erna Yulianti, S.Psi., M.Psi., Psikolog, Lead Psychologist Atelier of Minds pada momen yang sama.
Salah satu aspek yang dapat diperhatikan adalah bagaimana pengalaman anak ketika berada di sekolah tersebut. Orangtua dapat melihat apakah lingkungan sekolah membuat anak merasa nyaman dan bahagia.
"Kita bisa melihat indikator-indikatornya dari perspektif anaknya dulu. Misalkan, ketika anak sekolah di sana, apakah ada perasaan happy atau gak," lanjut Erna.
Selain itu, penting untuk melihat apakah sekolah benar-benar menerapkan pendekatan inklusif. Salah satunya dengan memahami kebutuhan anak secara mendetail. Komunikasi antara sekolah dan orangtua juga menjadi bagian penting dalam proses tersebut.
"Sebagai orangtua juga yang mendapatkan layanan dari sekolah, mungkin sekolahnya juga memberikan feedback kepada orangtua gitu. Jadi orangtua tahu, orangtua juga mungkin ada hal-hal yang bisa menjadi insight, diterapkan di rumah. Jadi, kayak memberikan sekolah kepada anak itu, saling kerjasama sih kalau menurut saya," sambung Erna lagi.
Dengan demikian, dukungan terhadap anak tidak hanya dilakukan oleh satu pihak. Sekolah dan orangtua perlu saling berkomunikasi dan bekerja sama agar kebutuhan anak dapat dipahami dan didukung, baik di lingkungan sekolah maupun di rumah.