Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
6 Tanda Anak Mengalami Kekerasan yang Sering Tidak Disadari
Ilustrasi anak menyendiri (unsplash.com/Photo by Oleksandr Zbanduto)

Kasus kekerasan pada anak sering kali tidak langsung terlihat jelas. Banyak orangtua atau pengasuh baru menyadari sesuatu yang salah ketika kondisi sudah cukup parah. Padahal, ada berbagai tanda kecil yang sebenarnya bisa dikenali lebih awal jika diperhatikan dengan lebih peka. Sayangnya, tanda-tanda ini sering disalahartikan sebagai ‘fase anak’, seperti perubahan mood atau perilaku yang dianggap wajar.

Padahal, di balik itu bisa saja ada pengalaman tidak menyenangkan yang sedang dialami anak. Memahami sinyal-sinyal tanda anak mengalami kekerasan menjadi langkah penting untuk melindungi anak sejak dini.

1. Perubahan perilaku yang tiba-tiba

Ilustrasi anak menyendiri (unsplash.com/Photo by martin platonov)

Salah satu tanda paling umum adalah perubahan perilaku yang terjadi secara mendadak. Anak yang sebelumnya ceria bisa menjadi pendiam, mudah marah, atau justru sangat takut tanpa alasan yang jelas.

Menurut laman resmi American Academy of Pediatrics, “sudden changes in behavior or school performance can be a sign of abuse or neglect." Pernyataan ini menegaskan bahwa perubahan perilaku bukan hal yang bisa dianggap sepele.

"Perubahan perilaku seperti agresi, kemarahan, permusuhan, atau hiperaktivitas atau perubahan prestasi sekolah," sebut Lynn Carson, Ph.D. dikutip dari UPMC.

Perubahan ini biasanya muncul karena anak merasa tidak aman atau mengalami tekanan emosional. Jika tidak segera ditangani, kondisi ini bisa berdampak jangka panjang pada perkembangan mental anak.

2. Ketakutan berlebihan pada orang atau hal tertentu

Ilustrasi mengasuh anak (pexels.com/www.kaboompics.com)

Anak yang mengalami kekerasan sering menunjukkan rasa takut yang tidak biasa terhadap orang tertentu atau situasi tertentu. Mereka bisa tiba-tiba menangis, menolak, atau terlihat panik saat harus berinteraksi dengan seseorang.

Ini menjadi tanda penting yang sering tidak disadari oleh orang dewasa di sekitar anak. Rasa takut ini bukan tanpa alasan. Anak biasanya mengasosiasikan orang atau tempat tersebut dengan pengalaman buruk, sehingga reaksi yang muncul bersifat spontan dan emosional.

"Anak-anak yang mengalami pelecehan dalam bentuk apa pun tidak hanya takut, tetapi juga mungkin diliputi rasa bersalah, malu, dan kebingungan," jelas Carson.

3. Luka fisik yang tidak jelas penyebabnya

ilustrasi anak menangis (pexels.com/Yan Krukau)

Tanda fisik seperti memar, luka, atau bekas benturan yang tidak bisa dijelaskan dengan jelas juga patut diwaspadai. Apalagi jika luka tersebut muncul berulang kali. Ini adalah salah satu indikator yang paling mudah dikenali secara kasat mata.

Namun, penting juga untuk tidak langsung menyimpulkan. Perlu pendekatan yang hati-hati untuk memahami apakah luka tersebut benar akibat kecelakaan atau ada faktor lain yang lebih serius.

4. Perubahan pola tidur dan makan

ilustrasi anak pendiam (pexels.com/cottonbro studio)

Anak yang mengalami kekerasan sering mengalami gangguan tidur, seperti mimpi buruk, sulit tidur, atau sering terbangun di malam hari. Pola makan mereka juga bisa berubah drastis. Hal ini menunjukkan adanya tekanan psikologis yang cukup besar.

" Korban penyintas mungkin mengalami gangguan kecemasan dan depresi; gangguan dan penyimpangan makan, dan gangguan tidur dan insomnia," jelas Fiona Vera-Gray dari Unit Studi Kekerasan terhadap Anak dan Perempuan, Universitas Metropolitan London dikutip dari CSA Centre.

"Meskipun gangguan tidur secara umum terjadi pada semua anak, sehingga perlu berhati-hati dalam menggunakan ini sebagai indikator pelecehan," tambahnya.

5. Perilaku regresif (kembali ke kebiasaan lama)

ilustrasi anak menangis (unsplash.com/Helena Lopes)

Perilaku regresif adalah ketika anak kembali ke kebiasaan yang seharusnya sudah ditinggalkan, seperti mengompol, takut tidur sendiri, atau menjadi sangat bergantung. Menurut American Psychological Association (APA), “regression to earlier behaviors can be a response to stress or trauma in children."

Ituadalah mekanisme coping yang sering terjadi pada anak. Perilaku ini menunjukkan bahwa anak sedang mencari rasa aman. Mereka merasa dunia di sekitarnya tidak lagi nyaman, sehingga kembali ke fase yang lebih 'aman' menurut mereka.

6. Anak menarik diri dari lingkungan sosial

Ilustrasi anak menyendiri (unsplash.com/Photo by Oleksandr Zbanduto)

Anak yang mengalami kekerasan sering memilih untuk menarik diri dari lingkungan. Mereka menjadi lebih pendiam, tidak mau bermain, atau kehilangan minat pada aktivitas yang sebelumnya disukai. Ini menjadi tanda penting yang sering luput dari perhatian.

"Menarik diri dari teman atau aktivitas biasa. Depresi, kecemasan atau ketakutan yang tidak biasa, atau hilangnya kepercayaan diri secara tiba-tiba. Perilaku pemberontak atau menentang," sebut Carson.

Menarik diri adalah cara anak melindungi dirinya dari rasa sakit atau ketidaknyamanan. Jika dibiarkan, kondisi ini bisa berkembang menjadi masalah mental yang lebih serius.

Mengenali tanda-tanda kekerasan pada anak memang tidak selalu mudah. Banyak sinyal yang terlihat samar dan sering disalahartikan sebagai perilaku biasa. Jika kamu melihat perubahan yang tidak biasa pada anak, jangan ragu untuk mencari tahu lebih dalam dan meminta bantuan profesional.

Editorial Team