Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

5 Alasan Seseorang Sulit Mengubah Kebiasaan Buruknya

6 min read
5 Alasan Seseorang Sulit Mengubah Kebiasaan Buruknya
ilustrasi duduk sendirian, nonton, santai di sofa (magnific.com/magnific)

Pernah gak, kamu berniat mengubah kebiasaan buruk, tapi akhirnya kembali melakukan hal yang sama? Misalnya, kamu ingin tidur lebih awal, rutin berolahraga, atau mulai mengatur keuangan, tapi selalu ada alasan untuk menundanya. Padahal, kamu sadar bahwa perubahan tersebut bisa membuat hidup lebih baik dalam jangka panjang.

Situasi seperti ini sering membuatmu menganggap diri sendiri kurang disiplin atau bahkan malas. Padahal, sulit berubah gak selalu berkaitan dengan kurangnya motivasi karena ada berbagai pertimbangan, perasaan, dan keyakinan yang memengaruhi keputusan seseorang.

Memahami alasan di balik kesulitan tersebut bisa membantumu berhenti menyalahkan diri sendiri dan mulai mencari cara yang lebih tepat untuk berubah. Dilansir Psychology Today, menurut psikolog Allan Zuckoff, Ph.D., seseorang yang sulit berubah belum tentu gak memiliki motivasi, tapi bisa jadi masih mengalami kebimbangan antara keinginan untuk memperbaiki diri dan kenyamanan yang selama ini dirasakan.

Kamu mungkin sudah tahu perubahan apa yang perlu dilakukan, tapi masih ragu apakah manfaatnya sepadan dengan waktu, tenaga, atau hal-hal yang harus dikorbankan. Lantas, apa saja alasan seseorang sulit berubah meski perubahan itu sebenarnya baik? Berikut lima hal yang perlu kamu pahami.

  1. 1. Masih mengalami kebimbangan dalam menentukan pilihan

    ilustrasi duduk sendirian, menatap jendela, merenung
    ilustrasi duduk sendirian, menatap jendela, merenung (magnific.com/magnific)

    Salah satu alasan seseorang sulit berubah adalah masih adanya kebimbangan antara keinginan untuk memperbaiki diri dan kenyamanan yang sudah dimiliki. Misalnya, kamu ingin rutin berolahraga agar tubuh lebih sehat, tapi di sisi lain kamu juga ingin menggunakan waktu luang untuk beristirahat setelah seharian bekerja. Kedua keinginan tersebut sama-sama terasa penting sehingga kamu kesulitan menentukan pilihan.

    Menurut Allan Zuckoff, Ph.D., dalam penjelasannya di Psychology Today, kebimbangan atau ambivalence bisa membuat seseorang kesulitan mengambil tindakan meskipun perubahan yang diinginkan berpotensi memperbaiki hidupnya. Kondisi ini gak selalu menunjukkan bahwa kamu gak punya motivasi, melainkan bisa terjadi karena ada beberapa keinginan yang saling bertentangan. Kamu mungkin ingin hidup lebih sehat, tapi juga belum siap meninggalkan kebiasaan yang selama ini memberikan kenyamanan.

    Untuk mengatasinya, kamu bisa mulai dengan memahami alasan di balik keinginan untuk berubah sekaligus hal-hal yang membuatmu ragu. Coba tuliskan manfaat perubahan tersebut dan hal yang perlu kamu korbankan jika benar-benar melakukannya. Dengan begitu, kamu bisa menentukan langkah yang paling sesuai dengan kebutuhan dan prioritas hidupmu, alih-alih terus terjebak dalam kebimbangan.

  2. 2. Merasa perubahan membutuhkan terlalu banyak pengorbanan

    ilustrasi Starbucks, tempat ngopi, es kopi
    ilustrasi Starbucks, tempat ngopi, es kopi (pexels.com/Dainé Zeferino)

    Perubahan yang terlihat baik dari luar belum tentu terasa mudah bagi orang yang menjalaninya. Ketika kamu ingin mengatur keuangan, misalnya, kamu mungkin perlu mengurangi kebiasaan membeli kopi, nongkrong bersama teman, atau berbelanja untuk menghibur diri. Meskipun tujuannya agar tabungan bertambah, proses tersebut bisa terasa berat karena kamu harus mengurangi hal-hal yang selama ini menyenangkan.

    Dalam Frontiers in Psychology, Sarah J. Hardcastle dan rekan-rekannya menjelaskan bahwa persepsi mengenai besarnya usaha, manfaat, serta hambatan yang harus dihadapi dapat memengaruhi motivasi seseorang untuk berubah. Jika kamu merasa biaya, waktu, atau tenaga yang dibutuhkan jauh lebih besar daripada manfaatnya, keinginan untuk memulai perubahan bisa melemah. Apalagi jika manfaatnya baru akan terasa beberapa bulan atau tahun mendatang, sedangkan pengorbanannya harus dilakukan sekarang.

    Supaya perubahan terasa lebih realistis, kamu gak harus langsung mengubah seluruh kebiasaan sekaligus, kok. Jika ingin lebih hemat, misalnya, kamu bisa mulai dengan menetapkan batas pengeluaran untuk jajan mingguan daripada langsung melarang diri sendiri menikmati semua hal yang disukai. Cara ini dapat membantumu menyesuaikan kebiasaan secara bertahap tanpa merasa kehilangan seluruh kesenangan dalam hidup. Dengan begitu, perubahan terasa lebih mungkin dijalani dalam jangka panjang.

  3. 3. Perubahan terasa bertentangan dengan prioritas hidup

    ilustrasi berpikir, merenung, melihat pemandangan, sendirian
    ilustrasi berpikir, merenung, melihat pemandangan, sendirian (magnific.com/wirestock)

    Terkadang, alasan seseorang sulit berubah berkaitan dengan nilai atau prioritas yang dianggap penting dalam hidupnya. Kamu mungkin ingin mengambil pekerjaan dengan gaji lebih tinggi, tapi pekerjaan tersebut mengharuskanmu pindah ke kota lain dan berjauhan dengan keluarga. Di satu sisi, kesempatan itu bisa membantu meningkatkan kondisi finansial, tapi di sisi lain kamu juga ingin tetap dekat dengan orang-orang tersayang.

    Allan Zuckoff menjelaskan bahwa seseorang cenderung memilih hal yang paling dihargainya ketika dihadapkan pada dua pilihan yang saling bertentangan. Artinya, keputusan yang terlihat kurang menguntungkan bagi orang lain belum tentu salah jika pilihan tersebut lebih sesuai dengan nilai yang kamu pegang. Kamu mungkin bersedia mendapatkan penghasilan lebih kecil demi memiliki waktu bersama keluarga, dan keputusan itu tetap masuk akal jika memang sejalan dengan prioritas hidupmu.

    Karena itu sebelum memaksakan perubahan, cobalah memahami apa yang sebenarnya ingin dicapai. Apakah kamu ingin lebih sehat, memiliki kondisi finansial yang stabil, mengembangkan karier, atau menjaga hubungan dengan orang-orang terdekat? Setelah mengetahui prioritas tersebut, kamu bisa mencari cara untuk berubah tanpa harus mengorbankan hal yang paling berarti bagimu. Perubahan akan lebih mudah dijalani ketika tujuannya selaras dengan nilai yang kamu yakini.

  4. 4. Kurang percaya diri karena takut gagal

    ilustrasi refleksi diri, bercermin, jati diri, self esteem, minder, rendah diri
    ilustrasi refleksi diri, bercermin, jati diri, self esteem, minder, rendah diri (magnific.com/pikisuperstar)

    Sudah mengetahui manfaat perubahan ternyata belum cukup untuk membuat seseorang berani mengambil tindakan. Adakalanya kamu ingin mencoba sesuatu yang baru, tapi langsung membayangkan kemungkinan terburuk yang bisa terjadi. Misalnya, kamu ingin mulai menulis artikel secara profesional, tapi pengalaman ditolak sebelumnya membuatmu ragu mengirimkan tulisan lagi.

    Menurut penjelasan Allan Zuckoff, pengalaman berhasil dan gagal sebelumnya dapat memengaruhi keyakinan seseorang terhadap kemampuannya sendiri. Keberhasilan bisa meningkatkan rasa percaya diri, sedangkan kegagalan berulang berpotensi membuat seseorang merasa bahwa usahanya gak akan membuahkan hasil. Akibatnya, kamu mungkin memilih untuk tidak mencoba daripada harus menghadapi kemungkinan kecewa untuk kedua kalinya.

    Padahal, kegagalan sebelumnya gak selalu berarti kamu gak mampu mencapai tujuan tersebut, lho. Bisa jadi kamu hanya perlu menggunakan strategi berbeda, menambah keterampilan, atau memberikan waktu lebih banyak untuk berlatih. Cobalah menetapkan target kecil yang realistis agar kamu bisa merasakan kemajuan tanpa terbebani tuntutan untuk langsung berhasil. Setiap kemajuan yang berhasil dicapai dapat menjadi pengingat bahwa kemampuanmu masih bisa berkembang.

  5. 5. Kebiasaan lama lebih mudah dilakukan daripada kebiasaan baru

    ilustrasi melihat ponsel malam hari (pexels.com/mikoto.raw Photographer)
    ilustrasi melihat ponsel malam hari (pexels.com/mikoto.raw Photographer)

    Alasan lainnya adalah kebiasaan lama sering terasa lebih mudah karena sudah menjadi bagian dari rutinitas sehari-hari. Kamu mungkin terbiasa bermain ponsel sebelum tidur, menunda pekerjaan sampai mendekati tenggat waktu, atau membeli makanan secara impulsif ketika sedang stres. Meskipun tahu kebiasaan tersebut perlu diperbaiki, kamu bisa saja kembali melakukannya tanpa banyak berpikir.

    Dalam Frontiers in Psychology, turut dibahas bagaimana perilaku otomatis dan isyarat dari lingkungan dapat membuat perubahan kebiasaan terasa sulit. Misalnya, notifikasi ponsel bisa memicu keinginan untuk terus membuka media sosial, sedangkan keberadaan camilan di dekat meja kerja bisa membuatmu lebih sering makan tanpa benar-benar merasa lapar. Ketika suatu tindakan sudah berulang kali dikaitkan dengan situasi tertentu, mengandalkan niat saja mungkin belum cukup untuk menghentikannya.

    Karena itu, kamu bisa mencoba mengubah lingkungan agar kebiasaan baru lebih mudah dilakukan. Jika ingin mengurangi waktu bermain ponsel, misalnya, letakkan perangkat tersebut jauh dari tempat tidur dan aktifkan mode senyap sebelum beristirahat. Jika ingin lebih rajin membaca, simpan buku di tempat yang mudah terlihat dan sisihkan waktu sekitar 10 menit setiap hari. Langkah sederhana seperti ini dapat membantu mengurangi hambatan sehingga kamu gak perlu terus-menerus mengandalkan motivasi untuk melakukan perubahan.

    Sulit berubah meskipun mengetahui manfaatnya bukan berarti kamu orang yang malas atau gak memiliki keinginan untuk berkembang, lho. Ada berbagai hal yang bisa memengaruhi proses tersebut, mulai dari kebimbangan, besarnya pengorbanan, konflik prioritas, kurangnya kepercayaan diri, hingga kuatnya kebiasaan lama.

    Memahami penyebabnya bisa membantumu menemukan cara yang lebih sesuai daripada terus menyalahkan diri sendiri. Jadi, gak perlu menuntut diri untuk berubah secara drastis dalam waktu singkat karena langkah kecil yang dilakukan secara konsisten juga bisa membawa kemajuan berarti.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Related Articles

See More