Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

5 Cara Mempraktikkan Stoicism saat Menghadapi Kemacetan Jakarta

ilustrasi terjebak macet
ilustrasi terjebak macet (freepik.com/freepik)

Macet di Jakarta sering terasa seperti ujian kesabaran yang datang tanpa aba-aba. Niat berangkat dengan kepala dingin bisa runtuh hanya karena lampu merah terasa terlalu lama. Klakson bersahutan, motor menyelip seenaknya, dan notifikasi kantor terus masuk. Di titik ini, emosi biasanya ikut terjebak bersama kendaraan.

Padahal, tidak semua hal dalam kemacetan perlu kamu lawan dengan amarah. Filosofi stoikisme mengajarkan satu hal penting, yaitu membedakan apa yang bisa dan tidak bisa dikendalikan. Macetnya jalan bukan kuasamu, tapi reaksimu sepenuhnya milikmu. Yuk, simak lima cara sederhana mempraktikkan stoicism agar mental tetap kuat saat menghadapi macet Jakarta.

1. Terima bahwa macet bukan masalah personal

ilustrasi perempuan merenung
ilustrasi perempuan merenung (freepik.com/freepik)

Saat terjebak macet, otak sering bereaksi seolah dunia sedang memusuhimu. Kamu merasa waktu dicuri dan rencana berantakan karena keadaan di luar kendali. Stoicism mengajarkan untuk menerima realitas apa adanya tanpa drama berlebihan. Macet bukan menyerangmu secara pribadi, itu hanya kondisi kota.

Dengan menerima fakta ini, emosi perlahan menurun intensitasnya. Kamu berhenti menyalahkan diri sendiri atau pengendara lain. Energi mental tidak lagi habis untuk hal yang sia-sia. Dari sini, kamu mulai mempraktikkan mental kuat yang lebih stabil.

2. Alihkan fokus ke hal yang bisa kamu kendalikan

ilustrasi perempuan mendengarkan podcast
ilustrasi perempuan mendengarkan podcast (freepik.com/freepik)

Kamu tidak bisa membuat jalanan tiba-tiba lengang. Namun, kamu bisa mengatur napas, pikiran, dan sikap selama menunggu. Stoikisme menekankan kendali atas respons, bukan situasi. Fokus kecil ini sangat membantu mengatasi emosi macet.

Misalnya, kamu memilih mendengarkan podcast favorit atau musik yang menenangkan. Alih-alih menggerutu, kamu mengisi waktu dengan hal yang bermanfaat. Pikiran jadi lebih ringan meski kendaraan tak bergerak. Inilah latihan stoic yang terasa nyata dalam keseharian.

3. Gunakan macet sebagai latihan kesabaran sadar

ilustrasi perempuan merenung
ilustrasi perempuan merenung (freepik.com/freepik)

Banyak orang menganggap macet sebagai waktu yang terbuang percuma. Stoicism justru mengajakmu melihatnya sebagai momen latihan karakter. Setiap berhenti lama di lampu merah bisa jadi pengingat untuk melatih kesabaran. Ini bukan teori, tapi praktik langsung.

Saat emosi naik, sadari tanpa menghakimi diri sendiri. Katakan dalam hati bahwa rasa kesal ini akan berlalu. Kamu belajar mengamati emosi tanpa dikendalikan olehnya. Perlahan, mental kuat terbentuk dari kebiasaan kecil ini.

4. Hentikan kebiasaan membandingkan diri dengan pengendara lain

ilustrasi perempuan merenung
ilustrasi perempuan merenung (freepik.com/mego-studio)

Melihat motor melaju cepat atau mobil lain terlihat lebih lancar sering memicu emosi tambahan. Kamu mulai bertanya kenapa nasibmu terasa lebih buruk hari ini. Dalam stoikisme, perbandingan seperti ini hanya memperberat beban batin. Fokus pada jalurmu sendiri jauh lebih menenangkan.

Setiap orang punya rute dan tantangan berbeda. Membandingkan hanya membuatmu kehilangan kendali emosi. Saat kamu berhenti melakukannya, pikiran terasa lebih lapang. Mengatasi emosi macet jadi lebih mudah tanpa drama internal.

5. Ingat bahwa reaksi hari ini membentuk kebiasaan besok

ilustrasi perempuan menikmati kopi
ilustrasi perempuan menikmati kopi (freepik.com/freepik)

Cara kamu merespons macet hari ini akan membentuk pola di masa depan. Jika selalu marah, otak akan menganggap itu reaksi default. Stoicism mengajakmu membangun respons yang lebih bijak dan tenang. Ini adalah investasi mental jangka panjang.

Setiap kali kamu memilih tetap tenang, kamu sedang melatih diri. Mental kuat tidak muncul dari teori, tapi dari pengulangan sikap. Lama-kelamaan, macet tidak lagi terasa menguras emosi. Kamu tetap lelah, tapi tidak meledak.

Mempraktikkan stoicism di tengah kemacetan Jakarta memang tidak instan. Namun latihan kecil yang konsisten bisa mengubah cara kamu memandang situasi sehari-hari. Macet tetap ada, tapi emosimu tidak harus ikut macet. Dengan filosofi stoikisme sehari-hari, kamu belajar berdamai dengan hal yang tak bisa dikendalikan dan menjaga kewarasan di jalan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Ken Ameera
EditorKen Ameera
Follow Us

Latest in Life

See More

7 Ide OOTD Rebecca Armstrong, Pemeran Nanno yang Tampil Chic!

09 Feb 2026, 16:03 WIBLife