5 Reaksi Berbeda Milenial vs Gen Z saat Menghadapi Atasan yang Toksik

Memiliki atasan yang toksik adalah mimpi buruk bagi setiap karyawan. Namun, cara menghadapinya ternyata bisa bergantung pada tahun kelahiran seseorang. Generasi milenial yang lebih senior biasanya cenderung memilih jalan diplomatis dan mencoba bertahan selama mungkin dalam tekanan. Sementara itu, Gen Z yang baru masuk ke dunia kerja memiliki ambang batas kesabaran yang jauh lebih rendah terhadap perilaku tidak sehat di kantor.
Perbedaan reaksi ini kerap memicu perdebatan mengenai siapa yang sebenarnya lebih kuat secara mental atau lebih berani dalam mengambil risiko. Milenial mungkin dianggap terlalu pasrah, sedangkan Gen Z sering dicap terlalu impulsif dalam mengambil keputusan untuk resign. Berikut ini lima perbedaan reaksi Milenial vs Gen Z dalam menghadapi atasan yang toksik. Keep scrolling!
1. Milenial memilih berdaptasi dan bertahan

Ketika berhadapan dengan atasan yang suka marah atau tidak adil, Milenial biasanya akan mencoba mencari cara untuk beradaptasi dengan kepribadian tersebut. Mereka cenderung mencari tahu apa yang diinginkan atasan dan berusaha memenuhi standar tersebut. Ini semua Milenial lakukan demi menghindari konflik. Bagi banyak Milenial, menjaga kedamaian di kantor adalah prioritas utama agar pekerjaan mereka tetap berjalan dengan aman tanpa gangguan.
Ketahanan ini muncul karena mereka sudah terbiasa dengan lingkungan kerja tradisional yang menuntut rasa hormat mutlak kepada senioritas dan jabatan. Mereka merasa bahwa menghadapi atasan toksik adalah bagian dari ujian karier yang harus dilewati sebelum akhirnya bisa naik jabatan. Strategi ini memang menguras emosi, namun bagi mereka, ini adalah cara paling realistis untuk tetap mendapatkan gaji setiap bulannya.
2. Gen Z tidak ragu untuk calling out secara terbuka

Berbeda dengan Milenial, Gen Z memiliki keberanian yang lebih besar untuk menyuarakan ketidaksenangan mereka secara langsung jika merasa diperlakukan tidak adil. Mereka tak segan untuk memberikan umpan balik kepada atasan atau melaporkan perilaku toksik tersebut kepada HRD. Transparansi dan integritas adalah nilai yang sangat mereka junjung tinggi, sehingga diam bukan merupakan pilihan bagi generasi ini.
Keberanian ini sebenarnya didukung oleh akses informasi terbuka mengenai hak-hak pekerja yang sering mereka temukan di media sosial. Gen Z percaya bahwa tak ada satu pun pekerjaan yang layak dipertahankan jika harus mengorbankan harga diri atau kesehatan mental mereka. Reaksi yang lugas ini sering kali mengejutkan para atasan toksik yang biasanya terbiasa mendominasi karyawan tanpa mendapatkan perlawanan.
3. Curhat di sirkel vs memviralkan di medsos

Cara kedua generasi ini meluapkan kekesalan terhadap atasan juga sangat berbeda dalam hal pemilihan platform komunikasinya. Milenial cenderung menjaga kerahasiaan konflik kantor dengan hanya bercerita kepada pasangan, atau sahabat karib. Milenial sangat berhati-hati agar keluhan mereka tidak sampai terdengar oleh pihak manajemen demi menjaga reputasi profesional mereka.
Di sisi lain, Gen Z jauh lebih ekspresif dan sering menggunakan platform seperti TikTok atau Twitter untuk menceritakan pengalaman buruk mereka secara anonim maupun terang-terangan. Memviralkan perilaku atasan yang toksik dianggap sebagai bentuk advokasi sosial agar orang lain tidak terjebak dalam lingkungan yang sama. Meskipun berisiko bagi karier, mereka merasa puas dengan mengekspos cara kerja yang tidak sehat ke publik.
4. Milenial menggunakan metode pasif agresif untuk melawan

Jika tekanan dari atasan sudah terlalu berat, Milenial biasanya akan menunjukkan perlawanan melalui tindakan pasif agresif yang halus. Mereka mungkin akan mulai membalas email dengan kata-kata yang sangat formal dan dingin, atau sengaja tak memberikan respons secepat biasanya. Cara ini dilakukan untuk menunjukkan protes tanpa harus terlibat dalam konfrontasi verbal yang bisa berujung pada surat peringatan.
Metode ini dianggap sebagai cara aman untuk menjaga martabat sambil tetap berada dalam batas profesionalisme kantor yang kaku. Mereka sangat mahir dalam menggunakan bahasa korporat untuk menyembunyikan kemarahan yang sebenarnya sedang meledak di dalam hati. Bagi Milenial, perlawanan bawah tanah seperti ini jauh lebih efektif daripada harus kehilangan pekerjaan secara mendadak tanpa rencana cadangan.
5. Gen Z lebih memilih resign tanpa menunggu pekerjaan baru

Salah satu perbedaan paling drastis adalah kesiapan Gen Z untuk meninggalkan pekerjaan atau resign secepat mungkin jika merasa atasan mereka sudah melampaui batas. Gen Z tak keberatan untuk menganggur sementara waktu atau beralih menjadi freelancer demi menyelamatkan kesehatan mental mereka dari atasan toksik. Prinsip mental health over wealth benar-benar diterapkan secara nyata dalam keputusan karier mereka.
Milenial biasanya akan sangat cemas jika harus keluar dari pekerjaan tanpa memiliki tawaran kerja lain di tangan karena banyaknya cicilan atau tanggungan keluarga. Perbedaan situasi finansial dan prioritas hidup inilah yang membuat Milenial sering terlihat lebih tahan banting meski sebenarnya sangat tertekan. Sementara bagi Gen Z, fleksibilitas usia dan minimnya tanggungan membuat mereka lebih berani mengambil langkah ekstrem demi kenyamanan batin.
Pada akhirnya, baik Milenial maupun Gen Z sama-sama sedang berjuang mencari keadilan di tempat kerja dengan cara mereka masing-masing. Milenial mengajarkan kita tentang ketabahan dan diplomasi, sementara Gen Z mengingatkan kita semua bahwa tidak ada gaji yang sebanding dengan kerusakan mental. Memahami kedua perspektif ini bisa membantu perusahaan untuk mengevaluasi kembali gaya kepemimpinan agar lebih sehat bagi semua generasi.

















