Merasa menjadi tokoh utama dalam kehidupan sendiri sebenarnya bukan sesuatu yang selalu buruk. Kita semua tentu ingin merasa bahwa hidup yang dijalani memiliki arti, tujuan, dan cerita tersendiri. Namun, ketika cara pandang tersebut terlalu kuat, kita bisa mulai melihat berbagai pengalaman hanya berdasarkan bagaimana semuanya memengaruhi diri sendiri. Inilah yang kemudian sering dikaitkan dengan istilah main character syndrome.
Menariknya, dampaknya tidak selalu terlihat dari cara kita memperlakukan orang lain. Kebiasaan menempatkan diri sebagai pusat cerita juga dapat memengaruhi cara kita menilai diri sendiri, pencapaian, kegagalan, hingga hubungan dengan orang lain. Tanpa disadari, kita bisa membangun ekspektasi tertentu tentang seperti apa kehidupan “seharusnya” berjalan. Lantas, bagaimana main character syndrome dapat memengaruhi cara kita melihat diri sendiri? Yuk, simak selengkapnya!
