Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

5 Manfaat Menerapkan JOMO dalam Kehidupan Sehari-hari

5 Manfaat Menerapkan JOMO dalam Kehidupan Sehari-hari
Ilustrasi santai (magnific.com/freepik)
Intinya Sih
  • JOMO mengajarkan untuk merasa nyaman dengan pilihan sendiri, membantu menurunkan stres dan tekanan sosial akibat dorongan terus mengikuti tren atau informasi terbaru.
  • Dengan menerapkan JOMO, seseorang dapat lebih fokus pada prioritas pribadi, mengalihkan energi ke hal-hal yang benar-benar penting bagi pengembangan diri dan keseimbangan hidup.
  • Pola pikir JOMO mendorong menikmati momen saat ini, berhenti membandingkan diri di media sosial, serta memberi ruang untuk istirahat dan pemulihan energi secara sadar.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Di era media sosial dan arus informasi yang berjalan sangat cepat, banyak orang merasa harus selalu mengikuti tren, menghadiri berbagai acara, atau mengetahui semua hal yang sedang terjadi. Kondisi ini sering kali dipengaruhi oleh FOMO (Fear of Missing Out), yaitu rasa takut ketinggalan sesuatu yang dianggap penting atau menarik.

Sebaliknya, ada konsep yang dikenal sebagai JOMO (Joy of Missing Out). JOMO mengajak seseorang untuk merasa nyaman dengan pilihan yang diambil tanpa harus terus-menerus mengikuti apa yang dilakukan orang lain. Menariknya, pola pikir ini dapat memberikan berbagai manfaat bagi kesehatan mental dan kualitas hidup. Berikut beberapa di antaranya.

1. Membantu mengurangi stres dan tekanan sosial

Seorang wanita duduk di sofa membaca buku di ruang tamu yang tenang dengan cahaya matahari masuk melalui jendela.
Ilustrasi menenangkan diri (magnific.com/freepik)

Keinginan untuk selalu mengikuti perkembangan terbaru sering membuat seseorang merasa harus terus terhubung dengan berbagai informasi, tren, dan aktivitas yang sedang berlangsung. Tanpa disadari, tekanan untuk selalu mengetahui apa yang sedang terjadi dapat menguras energi mental dan membuat pikiran sulit benar-benar beristirahat.

Kondisi ini biasanya muncul karena adanya perasaan takut tertinggal atau melewatkan sesuatu yang dianggap penting. Akibatnya, seseorang merasa perlu hadir di setiap acara, mengikuti setiap tren, atau terus memantau berbagai pembaruan meski sebenarnya tidak semuanya relevan dengan kebutuhan maupun prioritas pribadi.

Dengan menerapkan JOMO (Joy of Missing Out), kamu belajar menerima bahwa tidak semua hal perlu diikuti. Ketika tidak lagi merasa harus selalu terlibat atau mengetahui segala sesuatu, tekanan sosial dapat berkurang dan pikiran menjadi lebih tenang. Energi yang dimiliki pun bisa dialihkan untuk hal-hal yang benar-benar penting dan memberikan manfaat dalam kehidupan sehari-hari.

2. Membuat lebih fokus pada prioritas pribadi

Seorang perempuan berkacamata duduk di meja kerja dengan laptop di depan jendela atap, tampak fokus sambil memegang pena.
Ilustrasi fokus satu hal (pexels.com/Thirdman)

Tidak semua hal yang terjadi di sekitar kita perlu mendapatkan perhatian, waktu, dan energi dalam jumlah yang sama. Namun, ketika terbiasa mengikuti setiap tren, informasi, atau aktivitas yang dilakukan orang lain, seseorang sering merasa harus terlibat dalam banyak hal sekaligus sehingga fokus menjadi mudah terpecah.

Dengan menerapkan JOMO (Joy of Missing Out), kamu mulai menyadari bahwa tidak ada kewajiban untuk selalu mengikuti semua perkembangan yang sedang terjadi. Melewatkan suatu acara, tren, atau informasi tertentu bukan berarti kehilangan sesuatu yang penting bagi kehidupanmu.

Ketika berhenti merasa harus mengikuti semuanya, kamu memiliki lebih banyak ruang untuk memusatkan perhatian pada tujuan, kebutuhan, dan prioritas pribadi. Waktu serta energi yang sebelumnya terkuras untuk hal-hal yang kurang relevan dapat dialihkan untuk pengembangan diri, hubungan yang bermakna, kesehatan, atau berbagai hal lain yang benar-benar memberikan nilai dalam kehidupan sehari-hari.

3. Membantu menikmati momen yang sedang dijalani

Seorang wanita mengenakan sweter abu-abu sedang mengepel lantai ruang tamu sambil mendengarkan musik dengan earphone.
Ilustrasi membersihkan rumah (pexels.com/Tima Miroshnichenko)

FOMO (Fear of Missing Out) sering membuat seseorang merasa harus selalu mengetahui, mengikuti, atau terlibat dalam berbagai hal yang sedang dilakukan orang lain. Akibatnya, perhatian mudah terpecah karena pikiran terus bertanya-tanya apakah ada sesuatu yang lebih menarik, lebih penting, atau lebih menyenangkan yang sedang terjadi di tempat lain.

Sebaliknya, JOMO (Joy of Missing Out) mengajarkan untuk merasa nyaman dengan pilihan yang telah diambil. Alih-alih terus memikirkan apa yang dilewatkan, kamu lebih fokus pada aktivitas yang sedang dijalani dan menikmati momen tersebut tanpa merasa perlu membandingkannya dengan pengalaman orang lain.

Ketika lebih hadir pada apa yang sedang dilakukan, aktivitas sederhana pun dapat terasa lebih bermakna. Baik saat beristirahat, menghabiskan waktu bersama orang terdekat, menjalani hobi, maupun menikmati waktu sendiri, kamu dapat menikmatinya dengan lebih tenang tanpa terus-menerus merasa ada sesuatu yang lebih menarik di tempat lain.

4. Mengurangi kebiasaan membandingkan diri

Dua wanita duduk di meja dengan laptop dan majalah terbuka, satu tampak berpikir sambil melihat temannya yang sedang membaca.
Ilustrasi jangan membandingkan diri (pexels.com/Thirdman)

Media sosial sering kali menampilkan berbagai pencapaian, pengalaman menyenangkan, dan momen terbaik dari kehidupan orang lain. Jika dilihat terus-menerus, hal ini dapat memunculkan perasaan bahwa orang lain selalu lebih sukses, lebih bahagia, atau lebih maju dibanding diri sendiri, meski kenyataannya yang terlihat hanyalah sebagian kecil dari kehidupan mereka.

Dengan menerapkan JOMO (Joy of Missing Out), kamu belajar untuk tidak merasa harus mengikuti atau membandingkan diri dengan apa yang dilakukan orang lain. Fokus perlahan bergeser dari kehidupan orang lain menuju perjalanan dan prioritas pribadi yang memang relevan dengan dirimu.

Pola pikir ini membantu seseorang lebih mudah menerima bahwa setiap orang memiliki waktu, kesempatan, latar belakang, dan tujuan yang berbeda. Ketika dorongan untuk terus membandingkan diri berkurang, pikiran biasanya menjadi lebih tenang dan kamu dapat lebih menghargai proses serta pencapaian yang sudah berhasil diraih dalam kehidupan sendiri.

5. Memberi ruang untuk beristirahat dan mengisi ulang energi

Seorang wanita mengenakan piyama putih sedang meregangkan tangan dan menguap di tempat tidur dengan selimut putih di pagi hari.
Ilustrasi bangun tidur (pexels.com/ Miriam Alonso)

Tidak selalu terlibat dalam setiap aktivitas memberi kesempatan bagi tubuh dan pikiran untuk beristirahat. Kamu dapat menggunakan waktu tersebut untuk melakukan hal yang disukai, menikmati waktu sendiri, atau sekadar memulihkan energi tanpa merasa bersalah karena melewatkan sesuatu.

Pada akhirnya, JOMO bukan berarti menutup diri dari dunia luar, melainkan memilih dengan sadar apa yang benar-benar layak mendapatkan waktu dan perhatian. Dengan pola pikir ini, hidup bisa terasa lebih tenang, terarah, dan tidak terlalu dipenuhi tekanan untuk selalu mengikuti apa yang dilakukan orang lain.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Kirana Mulya
EditorKirana Mulya

Related Articles

See More