Joy of Missing Out (JOMO) sebagai Bentuk Self-Care Era Digital

- JOMO mengajak generasi digital untuk menemukan kebahagiaan lewat ketenangan batin, menjauh sejenak dari tekanan sosial dan tren yang menuntut selalu terhubung.
- Dengan menerapkan JOMO, seseorang belajar membangun batasan sehat, berani berkata tidak, serta menjaga energi dan fokus pada hal-hal yang benar-benar penting bagi dirinya.
- JOMO menumbuhkan mindfulness dengan menghargai momen kecil dalam keseharian, membantu individu lebih hadir secara utuh tanpa terdistraksi oleh media sosial atau rasa takut tertinggal.
Merasa gak kalau dunia modern itu seakan menuntut kita untuk terus terhubung? Nah, di tengah desakan dan tuntutan yang seolah gak ada habisnya, merayakan Mental Health Awareness Month jadi momen yang tepat lho untuk menyadari bahwa menjaga kesehatan mental itu amat penting.
Nah, salah satu cara yang bisa kamu lakukan ialah dengan menerapkan JOMO sebagai bentuk self-care yang efektif untuk sejenak beristirahat dari keriuhan notifikasi di layar ponsel. Secara umum, JOMO merupakan cara seseorang menemukan kebahagiaan dengan memilih ketenangan batin maupun kesadaran tanpa perlu merasa terbebani oleh tuntutan tren. Mengapa JOMO adalah bentuk self-care terbaik?
1. Melalui JOMO, kamu bisa menemukan kedamaian dalam kesendirian

JOMO itu kebalikan dari FOMO atau Fear of Missing Out. Ketika FOMO kerap kali dikaitkan dengan perasaan cemas dan gak puas dengan diri sendiri, JOMO justru sebaliknya, memotivasi kamu untuk merasa lebih tenang dan puas dengan kehidupanmu. Ketenangan ini kamu dapatkan karena kamu memberi ruang bagi dirimu sendiri untuk menepi, untuk gak ikut-ikutan orang, untuk gak merasa wajib tahu apa yang dilakukan oleh orang lain.
Dengan JOMO, kamu akan sadar bahwa kesendirian itu bukanlah hal yang menyedihkan. Kamu gak perlu merasa cemas karena tertinggal sebuah tren atau hal yang viral. Dalam kesendirian itu, kamu justru punya banyak kesempatan untuk kembali terhubung dengan diri sendiri tanpa ada distraksi. Kamu bisa melakukan hal-hal sesuai dengan nilai dan prinsipmu. Kamu bisa menikmati hobimu. Kamu bisa fokus pada diri sendiri. Hal-hal itu tentu mampu membuatmu merasa rileks dan bahagia.
2. Melalui JOMO, kamu bisa membangun batasan yang sehat

Ingat kapan terakhir kamu mengatakan tidak atau menolak permintaan orang lain? Pernah membaca The Art of Saying No karya Damon Zahariades? Nyatanya, kata tidak merupakan kunci kebahagiaan, lho. Di dalam bukunya itu, Damon menekankan bahwa ketika kita berani berkata tidak pada hal-hal yang gak sejalan dengan diri kita, itu berarti kita sedang mengiyakan kesehatan mental kita sendiri.
JOMO mengajarkan bahwa sebagai manusia, kamu gak punya kewajiban untuk menyenangkan dan memenuhi ekspektasi semua orang. Kalau demikian adanya, yang ada kamu akan terus menerus stres dan lelah. Kalau kamu bisa membangun batasan yang sehat, kamu gak akan lagi terjebak dalam rasa bersalah ketika memilih buat gak ikut acara yang gak wajib demi memulihkan energi. Orang yang punya personal boundaries akan memiliki kendali penuh atas waktu serta energinya. Dengan begitu, mereka bisa memberikan perhatian terbaiknya untuk hal-hal yang menjadi prioritas yang selaras dengan dirinya sendiri.
3. Melalui JOMO, kamu bisa lebih mindfulness

Salah satu ciri dari sikap JOMO adalah menghargai momen saat ini. Dilansir laman Halodoc, JOMO adalah tentang menghargai momen saat ini dan merasa nyaman dengan pilihan untuk tak selalu mengikut arus. Sikap ini menuntun kamu untuk benar-benar ada dan hadir dimana pun kamu berada (bukan raga di sini, tetapi jiwa di sana). Ketika kamu bisa living in the moment, kamu pun gak akan mudah terdistraksi dengan apa yang sedang berlangsung di media sosial.
Living in the moment lantas membuat kamu dapat menikmati hal-hal kecil dan sederhana, misalnya momen ketika menyantap kopi di pagi hari, memandangi rintik hujan di balik jendela meja kerja, atau momen ketika merasakan hangatnya sinar matahari pagi saat berjalan santai. Mindfulness melalui JOMO membuatmu sadar bahwa hidup ini bukan tentang kompetisi, melainkan tentang seberapa dalam kamu mensyukuri setiap langkah kakimu.
Gimana, apakah kamu siap merayakan Mental Health Awareness Month di bulan ini dengan JOMO? Ingat, ya, JOMO itu gak berarti kamu membenci dunia luar atau orang-orang di dunia ini. Sebaliknya, JOMO adalah bentuk self-care yang baik untuk menunjukkan cinta dan kasih sayang pada dirimu sendiri sebelum membagikannya pada orang lain. Yuk, jangan takut untuk tertinggal dan nikmati momen saat ini!


















