Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
7 Keputusan Hidup yang Terlihat Berisiko tapi Berujung Kesuksesan
ilustrasi santai (pixabay.com/Tirachard Kumtanom)
  • Keputusan hidup yang tampak berisiko, seperti keluar dari pekerjaan toksik atau pindah kota, namun sering membawa dampak positif bagi pertumbuhan pribadi.

  • Keputusan “nekat” ini dapat meningkatkan kejernihan berpikir, harga diri, serta kesejahteraan emosional karena membantu individu lebih selaras dengan nilai dan tujuan hidupnya.

  • Keberanian mengambil langkah tidak nyaman sering kali menjadi kunci menuju kehidupan yang lebih sehat secara mental dan bermakna, dibanding terus bertahan di zona aman.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Pernah gak sih, kamu melihat orang sukses dan berpikir, “Kok keputusan hidupnya nekat banget, ya?” Dari luar, langkah mereka sering terlihat berisiko, gak aman, bahkan bikin orang sekitar geleng-geleng kepala. Mulai dari resign tanpa cadangan kerja sampai pindah kota tanpa kenal siapa pun, semuanya terasa seperti perjudian hidup.

Tapi menariknya, psikologi justru menunjukkan bahwa beberapa keputusan “nekat” ini punya pola hasil yang cenderung positif. Keputusan yang bikin jantung berdebar ini sering kali jadi pintu menuju kepuasan dan kesuksesan jangka panjang. Yuk, simak sampai habis dan lihat apakah ada keputusan yang sedang kamu pertimbangkan sekarang.

1. Meninggalkan pekerjaan toksik tanpa rencana cadangan

ilustrasi resign (freepik.com/freepik)

Keluar dari pekerjaan toksik tanpa pekerjaan baru sering dianggap keputusan ceroboh. Banyak orang takut kehilangan penghasilan tetap dan status yang sudah dibangun bertahun-tahun. Rasa takut ini wajar karena otak manusia cenderung lebih sensitif terhadap potensi kerugian dibanding peluang keuntungan.

Menurut penelitian dari American Psychological Association, stres kerja kronis bisa memengaruhi fungsi otak, terutama dalam pengambilan keputusan dan kreativitas. Saat kamu terus berada di lingkungan toksik, kemampuan melihat peluang baru jadi ikut menurun. Setelah keluar dari situasi tersebut, kejernihan berpikir biasanya kembali dan kamu jadi lebih percaya diri dalam mengambil langkah selanjutnya.

2. Mengakhiri hubungan yang nyaman tapi tidak membahagiakan

ilustrasi pasangan sibuk lihat HP (pexels.com/Mike Jones)

Banyak orang bertahan dalam hubungan hanya karena sudah terlanjur nyaman. Rutinitas, lingkungan sosial, dan rasa takut sendirian sering jadi alasan utama untuk tetap bertahan. Padahal, nyaman gak selalu berarti sehat.

Menurut penelitian dalam Journal of Social and Personal Relationships, individu yang meninggalkan hubungan tidak memuaskan mengalami peningkatan harga diri dan kepuasan hidup dalam beberapa bulan setelahnya. Saat hubungan berakhir, kamu berhenti mengecilkan diri demi menyesuaikan keadaan. Dari situ, kamu mulai kembali mengenali kebutuhan dan nilai diri sendiri.

3. Berinvestasi pada terapi atau pengembangan diri saat keuangan pas-pasan

ilustrasi uang rupiah (pexels.com/Ahsanjaya)

Mengeluarkan uang untuk terapi ketika kondisi finansial sedang ketat sering dianggap bukan prioritas. Banyak orang menunda karena merasa kesehatan mental adalah kemewahan. Padahal, keputusan ini justru bisa menjadi fondasi perubahan besar, lho.

Psikologi memandang kesehatan mental sebagai dasar dari kualitas keputusan hidup. Saat masalah emosional tak ditangani, seseorang cenderung mengambil pilihan yang lebih sempit dan penuh ketakutan. Dengan berani berinvestasi pada diri sendiri, kamu membuka ruang untuk keputusan yang lebih sehat dan berdampak jangka panjang.

4. Menolak peluang yang terlihat sempurna di atas kertas

ilustrasi bekerja depan laptop (pexels.com/Pavel Danilyuk)

Gaji besar, jabatan keren, dan nama perusahaan terkenal sering membuat sebuah tawaran terlihat ideal. Menolaknya bisa dianggap menyia-nyiakan kesempatan emas. Namun, gak semua peluang yang tampak aman benar-benar selaras dengan diri kamu.

Menurut penelitian dalam Nature Human Behaviour, ketidaksesuaian antara nilai pribadi dan peran yang dijalani dapat memicu kelelahan emosional. Ketika kamu terus memaksakan diri, energi dan motivasi akan terkuras. Dengan berani berkata tidak, kamu menjaga fokus untuk berkembang di jalur yang lebih sesuai dengan tujuan hidupmu.

5. Pindah ke kota baru tanpa mengenal siapa pun

ilustrasi koper (pexels.com/Timur Weber)

Pindah ke tempat baru sering terasa menakutkan karena kamu harus memulai dari nol. Gak ada lingkaran pertemanan, gak ada reputasi, dan semuanya serba asing. Risiko ini membuat banyak orang memilih bertahan di zona nyaman.

Dalam psikologi, perubahan besar seperti pindah kota dikenal memicu fresh start effect. Efek ini membantu seseorang membentuk kebiasaan baru dan identitas yang lebih sesuai dengan diri saat ini. Tanpa label masa lalu, kamu punya kebebasan untuk mendefinisikan ulang siapa dirimu.

6. Memulai proyek kreatif tanpa jaminan hasil

ilustrasi mengetik esai untuk pendaftaran beasiswa (pexels.com/Ivan Mudruk)

Menulis buku, membuat podcast, atau membangun bisnis kreatif sering dianggap gak realistis. Gak ada jaminan sukses, apalagi keuntungan finansial. Namun, keputusan ini justru memberi dampak psikologis yang kuat, lho.

Aktivitas kreatif mendorong kondisi mental yang lebih fokus dan penuh keterlibatan. Saat kamu menciptakan sesuatu dari nol, rasa percaya diri ikut tumbuh. Bahkan jika hasilnya belum sesuai harapan, keberanian memulai sudah menjadi modal penting untuk langkah berikutnya.

7. Mengakui tidak tahu dan berani meminta bantuan

ilustrasi diskusi rekan kerja (pexels.com/Alexander Suhorucov)

Budaya “pura-pura bisa” masih sangat kuat, terutama di dunia kerja. Mengakui ketidaktahuan sering dianggap sebagai kelemahan. Padahal, keputusan ini justru bisa mempercepat perkembangan diri.

Psikologi menunjukkan bahwa orang yang terbuka terhadap bantuan cenderung belajar lebih cepat. Dengan mengakui batasan diri, kamu membuka ruang untuk pertumbuhan nyata. Risiko terlihat gak kompeten justru sering menjadi jalan menuju kompetensi yang sesungguhnya.

Dari tujuh keputusan ini, terlihat satu benang merah yang jelas. Keputusan yang tampak berisiko sering kali mengutamakan kesehatan mental, kejujuran pada diri sendiri, dan keselarasan hidup. Bukan berarti kamu harus ceroboh, tapi penting untuk sadar bahwa “aman” gak selalu berarti baik.

Kadang, risiko terbesar justru datang dari memilih diam dan gak berubah. Jadi, saat kamu ragu melangkah, coba tanyakan pada diri sendiri: apa harga yang harus dibayar jika kamu tetap bertahan?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team