“Asumsi adalah cerita yang kita ceritakan kepada diri sendiri untuk mengisi celah ketika kita gak memiliki informasi yang lengkap,” tulis Amy Vigliotti.
Alasan Mengapa Kita Sering Berprasangka Tanpa Sadar

Pernah gak kamu langsung menganggap seseorang jutek hanya karena melihat ekspresi wajahnya? Atau merasa teman sedang marah hanya karena balasan pesannya lebih singkat dari biasanya? Tanpa disadari, kita bisa membuat kesimpulan tentang orang lain sebelum mengetahui keadaan yang sebenarnya.
Kebiasaan ini gak selalu berarti kita sengaja ingin menghakimi orang lain. Otak memang cenderung menggunakan jalan pintas untuk memahami situasi dengan cepat, terutama ketika informasi yang tersedia masih terbatas. Lantas, apa yang membuat kita mudah berprasangka tanpa sadar? Yuk, simak informasinya lewat artikel berikut!
1. Kita cenderung mengisi informasi yang belum diketahui

ilustrasi wanita berpegangan tangan (pexels.com/shvetsproduction) Prasangka bisa muncul ketika kita belum memiliki informasi yang cukup untuk memahami suatu situasi. Saat seseorang tiba-tiba diam, misalnya, kita mungkin langsung menganggap ia sedang kesal atau gak menyukai kita, padahal ada banyak kemungkinan lain. Monash University menjelaskan bahwa celah informasi dapat mendorong kita membuat asumsi, terutama ketika harus memahami keadaan dengan cepat.
Dikutip dari Psychology Today, Amy Vigliotti, PhD, psikolog anak dan dewasa, menjelaskan bahwa asumsi digunakan untuk mengisi informasi yang belum lengkap. Ketika asumsi terus dipercaya, kita bisa menganggapnya sebagai fakta dan bereaksi berdasarkan cerita yang dibuat sendiri. Akibatnya, kita mudah tersinggung atau kecewa karena salah menafsirkan maksud orang lain.
2. Pengalaman masa lalu memengaruhi cara kita menilai

ilustrasi wanita menatap fokus ke laptop (pexels.com/lizasummer) Pengalaman masa lalu juga dapat memengaruhi cara kita melihat orang dan situasi baru. Pola asuh, lingkungan, budaya, hingga informasi yang sering diterima dapat membentuk pola tertentu dalam pikiran. Saat menghadapi situasi yang terasa serupa, kita bisa menggunakan pola tersebut untuk membuat penilaian secara spontan.
Malvika Lobo, psikolog yang dikutip dari TheThoughtCo.in, menjelaskan bahwa asumsi dapat bekerja di bawah kesadaran dan memengaruhi cara kita memandang sesuatu. Penilaian yang muncul spontan bisa dipengaruhi pengalaman dan keyakinan sebelumnya. Misalnya, pengalaman buruk dapat membuat kita lebih mudah curiga saat melihat perilaku yang mengingatkan pada kejadian tersebut.
“Asumsi beroperasi di bawah kesadaran, secara halus membentuk persepsi dan keputusan kita tanpa kita sadari,” tulis Malvika Lobo.
3. Emosi dapat memengaruhi cara kita menafsirkan keadaan

ilustrasi wanita mengekspresikan kecemasan (pexels.com/alexgreen) Kondisi emosional juga dapat membuat kita lebih mudah berprasangka. Saat sedang cemas, takut, marah, atau kecewa, kita bisa menafsirkan informasi berdasarkan emosi yang sedang dirasakan. Akibatnya, sesuatu yang sebenarnya belum jelas dapat terasa seolah-olah memiliki makna tertentu.
Amy Vigliotti menjelaskan bahwa mengasumsikan hal terburuk terkadang terasa seperti bentuk perlindungan emosional. Membayangkan kemungkinan ditolak, dikhianati, atau ditinggalkan dapat membuat seseorang merasa lebih siap menghadapi rasa sakit jika hal tersebut benar-benar terjadi. Namun, cara ini juga bisa membuat kita bereaksi terhadap dugaan sebelum mengetahui keadaan sebenarnya.
Contohnya, seseorang yang belum membalas pesan bisa langsung dianggap sedang marah atau sengaja mengabaikan kita. Padahal, ia mungkin sedang bekerja, kelelahan, menghadapi masalah pribadi, atau memang belum sempat membuka ponsel. Ketika emosi ikut memengaruhi penilaian, dugaan pun lebih mudah terasa seperti kenyataan.
4. Kita mencari bukti yang sesuai dengan prasangka

ilustrasi wanita fokus depan laptop (pexels.com/yankrukov) Setelah sebuah asumsi terbentuk, kita juga bisa tanpa sadar lebih memperhatikan informasi yang mendukungnya. Jika sejak awal menganggap seseorang gak menyukai kita, sikapnya yang sedikit cuek mungkin langsung dianggap sebagai bukti. Sebaliknya, sikap ramah yang bertentangan dengan anggapan tersebut bisa saja gak terlalu kita perhatikan.
Mengutip dari Monasy University, pola ini berkaitan dengan confirmation bias, yaitu kecenderungan lebih memperhatikan informasi yang sesuai dengan keyakinan yang sudah dimiliki. Akibatnya, perilaku tertentu bisa terlihat seperti pembenaran atas prasangka yang sudah terbentuk sebelumnya. Padahal, masih ada kemungkinan bahwa perilaku tersebut memiliki alasan lain yang gak berkaitan dengan dugaan kita.
Prasangka pun dapat membentuk lingkaran yang semakin sulit disadari. Kita membuat dugaan, menemukan sesuatu yang terlihat mendukungnya, lalu semakin yakin bahwa penilaian awal memang benar. Karena itu, coba berhenti sejenak dan pertimbangkan kemungkinan lain sebelum menganggap prasangka sebagai fakta.
Gak semua hal yang terlintas di pikiran merupakan fakta, termasuk prasangka terhadap orang lain. Jadi, coba beri jeda dan cari tahu keadaannya sebelum buru-buru mengambil kesimpulan.






















