ilustrasi korupsi (unsplash.com/Nohe Pereira)
Alasan terakhir yang sering diabaikan adalah kemungkinan bahwa seseorang justru ikut mempertahankan sistem yang ingin diubahnya. Pada awalnya, kehadiranmu mungkin didasari keinginan untuk memperbaiki keadaan. Namun, ketika pekerjaan, penghasilan, reputasi, dan masa depan karier mulai bergantung pada sistem tersebut, keputusan yang diambil tidak lagi hanya mempertimbangkan benar atau salah, tetapi juga risiko yang harus ditanggung apabila kamu menentang aturan yang berlaku.
Keterlibatan dalam sistem tidak selalu berarti seseorang secara sadar mendukung praktik yang buruk. Ada orang yang tetap bertahan karena membutuhkan penghasilan, memiliki tanggungan keluarga, atau belum mempunyai pilihan lain yang realistis. Meski demikian, tekanan untuk mengikuti aturan dapat membuat seseorang terlibat dalam rutinitas yang sebelumnya ingin dihentikan, misalnya dengan menjalankan kebijakan yang tidak adil, membiarkan pelanggaran kecil, atau memilih diam ketika keputusan yang merugikan orang lain dibuat.
Mengubah sistem yang buruk dari dalam bukan sesuatu yang mustahil, tetapi keberhasilannya tidak bisa hanya mengandalkan idealisme, kemampuan pribadi, atau keyakinan bahwa kerja keras pada akhirnya akan dihargai. Perubahan membutuhkan ruang untuk menyampaikan kritik, dukungan yang cukup kuat, akses terhadap pengambilan keputusan, dan kesediaan untuk mengubah aturan yang menjadi sumber masalah. Tanpa kondisi tersebut, usaha memperbaiki berisiko berubah menjadi proses panjang yang lebih banyak menuntut penyesuaian daripada menghasilkan perubahan.
Referensi:
"Unlearning the Hierarchy – Why Systems Change Is So Much Harder Than It Sounds." BD Collective. Diakses pada Oktober 2026
"Why a Bad System Will Always Beat a Good Person." Thinkers360. Diakses pada Oktober 2026