Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Kenapa antarteman Menyembunyikan Proyek Pribadi?
ilustrasi bersama teman (pexels.com/cottonbro studio)
  • Banyak karyawan kini punya proyek sampingan karena biaya hidup meningkat, namun mereka memilih merahasiakannya dari rekan kerja.
  • Alasan utama proyek pribadi disembunyikan adalah takut saingan, risiko dilaporkan ke atasan, dan menjaga privasi pendapatan tambahan.
  • Sebagian orang juga menutupinya agar terhindar dari ejekan, komentar negatif, serta menjaga fokus saat masih merintis usaha pribadi.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Biaya hidup makin tinggi. Ini bukan cuma anggapan orang yang suka mengeluh. Banyak orang merasakan harga berbagai kebutuhan terus merangkak naik dan tidak bisa turun lagi. Harga beras, yang merupakan makanan pokok mayoritas rakyat Indonesia, misalnya.

Sekarang harga beras kualitas sedang saja per kilo dijual 14 sampai 16 ribu rupiah. Padahal beberapa tahun lalu kamu masih membelinya seharga 12 ribuan. Begitu pula harga bahan bakar, gas, sabun, dan sebagainya.

Oleh sebab itu, kini makin banyak karyawan yang punya proyek sampingan di luar pekerjaan utamanya. Bidangnya bisa masih sama dengan bidang kerja yang digeluti atau justru beda sekali. Namun, sebagian dari mereka menutup rapat-rapat hal ini dari kawan sekantor. Mengapa pada akhirnya antarteman menyembunyikan proyek pribadi? Apakah mereka malu ketahuan butuh ekstra pendapatan?

1. Takut saingan

ilustrasi bersama klien (pexels.com/Grove Brands)

Misalnya, seseorang bekerja di perusahaan pengembang perumahan. Sehari-harinya tugasmu mencari orang yang berminat untuk membeli unit rumah. Namun, sudah lazim di kalangan orang yang bekerja di bidang ini untuk juga mencari proyek pribadi.

Proyek paling umum yaitu menawarkan pembuatan kanopi, pagar, tembok keliling, taman, dan sebagainya. Meski proyek pribadi ini telah menjadi rahasia umum, tetap ada kecenderungan tiap orang tak cukup terbuka pada temannya. Kalau itu dilakukan, sama saja dengan menambah saingan.

Sebisa mungkin orang lain gak boleh tahu apa saja persisnya jasa yang ditawarkan olehnya. Katakanlah nanti akhirnya kawan sekantor mengetahui dia membuatkan kanopi untuk beberapa rumah. Jangan sampai teman itu juga tahu tukang kanopi yang menjadi mitranya serta detail bahan dan harga.

2. Atau, dilaporkan ke atasan

ilustrasi teman kantor (pexels.com/Bhandari Law and Partners)

Lain kantor bisa beda aturan. Ada perusahaan yang longgar soal proyek pribadi selama tidak mengganggu tugas harian karyawan. Proyek itu juga tak boleh merugikan perusahaan tempatnya bernaung.

Guna mengantisipasi hal-hal yang paling tidak diinginkan, lebih baik kawan sekantor tak usah tahu tentang proyek pribadi. Apalagi kalau atasan keras melarang karyawan memiliki proyek sendiri. Apa pun alasannya, ada risiko pekerja yang ketahuan mengurus proyek pribadi kena sanksi.

Masih dengan contoh orang yang bekerja sebagai staf penjualan properti. Pengetahuannya tentang properti dari pengembang lain tentu banyak. Di belakang atasan, dia juga membantu mempromosikan unit properti dari pengembang berbeda. Kalau ini ketahuan, ada risiko dirinya sampai dipecat.

3. Gak mau pendapatan di luar gaji diketahui

ilustrasi mengerjakan tulisan (pexels.com/Pavel Danilyuk)

Merahasiakan pendapatan juga sangat penting buat banyak orang dewasa. Tentu teman kantor umumnya saling tahu perkiraan gaji masing-masing. Namun, cukup sampai di situ saja. Penghasilan dari proyek-proyek pribadi jangan sampai diketahui juga.

Ini hanya bisa ditutupi dengan rapi apabila proyek pribadinya luput dari perhatian rekan kantor. Kalau proyeknya diketahui, sekalipun dia gak pernah mau menyebutkan angka pastinya, orang dapat memperkirakan. Perhitungannya bisa tepat atau salah, tapi sama-sama kurang menguntungkan buat pemiliknya.

Gak semua orang benar-benar kagum dan ikut senang andai pendapatan dari proyek pribadinya gede. Orang bisa dengki atau seenak hati minta pinjaman, bahkan pemberian cuma-cuma. Hati lebih tenang bila cukup gaji pokoknya saja yang ketahuan.

4. Jangan-jangan diejek atau dikomentari negatif

ilustrasi mempromosikan tanaman hias (pexels.com/Vitaly Gariev)

Apa pun proyek pribadinya, kalau seseorang sampai mau melakukannya cukup lama, pasti dirasa penting baginya. Baik penting karena dia suka bidangnya atau menurutnya menjanjikan jika ditekuni. Akan tetapi, orang lain yang tidak tahu apa-apa terkadang dengan mudah mengolok-olok.

Misal, seseorang di kantor menduduki posisi kepala akuntan. Teman-temannya berpikir, andai pun dia mau mengembangkan proyek pribadi, seharusnya masih terkait dengan keuangan. Ia dapat menggunakan pengalaman kerjanya.

Namun, dia justru memilih bidang yang amat berbeda. Contohnya, berjualan tanaman hias secara online. Itu pun barangnya cuma didapat dari sampel atau dibeli sendiri yang murah-murah. Jangan-jangan dia diejek pintar bikin laporan keuangan, tapi payah dalam memilih proyek pribadi.

5. Masih proses merintis, khawatir malah gak bisa berkembang

ilustrasi mengerjakan proyek pribadi (pexels.com/cottonbro studio)

Orang yang masih dalam tahap merintis usaha apa pun di luar pekerjaan utamanya sama dengan capeknya dobel. Malah bisa terasa berkali-kali lipat lebih melelahkan. Pekerjaan utama harus tetap berjalan dengan baik.

Sementara proyek pribadi pasti tak langsung berjalan mulus. Sukar sekali untuk mengembangkannya dengan cepat. Ini membutuhkan energi dan fokus besar darinya. Andai ia menceritakan proyek itu ke teman kantor, energinya akan menipis.

Fokus yang seharusnya terpusat pada proyek pribadi selepas pekerjaan utama beres juga menjadi bercabang-cabang. Diam merupakan cara sederhana untuk mempertahankan konsentrasi. Terkadang orang merasa sudah bergerak serius menjalankan proyek pribadi hanya dengan menceritakannya ke sana ke mari. Aslinya malah banyak rencana yang menjadi tak terlaksana.

Membicarakan proyek pribadi dengan teman sekantor memang terbilang rawan. Oleh sebab itu, ada kondisi antarteman menyembunyikan proyek pribadi satu sama lain. Mulai sekarang, jangan sembarangan melakukannya bila kamu tak mau proyek pribadi malah terganggu. Hanya orang-orang tertentu yang boleh tahu.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

Related Article