Demonstrasi kini tak hanya berlangsung di jalanan saja, tetapi juga melalui layar ponsel. Ketika massa turun ke jalan membawa poster, berteriak menyampaikan aspirasi, atau berhadapan dengan aparat, kamera hampir selalu ikut merekam. Dalam hitungan menit, video dari lokasi bisa berpindah dari satu akun ke akun lain dan ditonton ribuan orang.
Fenomena ini membuat siapa pun bisa menjadi saksi sekaligus penyebar informasi dari sebuah aksi. Tujuannya bisa macam-macam, mulai dari memberi kabar, menunjukkan kondisi lapangan, sampai sekadar membagikan apa yang dilihat secara langsung. Masalahnya, tidak semua orang yang berada di dalam video datang ke demo untuk menjadi konten.
Di satu sisi, dokumentasi dari warga justru bisa membantu publik melihat kejadian yang mungkin luput dari pemberitaan. Namun di sisi lain, kamera juga bisa membuat momen yang penuh ketegangan berubah menjadi tontonan yang dikonsumsi sambil scroll media sosial. Lalu, kapan sebuah video masih bisa disebut dokumentasi dan kapan ia mulai mengeksploitasi orang di dalamnya? Batasnya memang tidak selalu kelihatan jelas.
