ilustrasi belanja (pexels.com/Gustavo Fring)
Kalau in this economy bisa dipakai saat harga sesuatu bikin dompet gemetar, worth it justru sering muncul ketika seseorang merasa, “Ya udah, gak apa-apa keluar uang segini.” Misalnya, habis beli barang yang sudah lama diincar, makan di tempat yang agak mahal, atau tiba-tiba checkout sesuatu yang memang sedang ingin dibeli. Selama kamu merasa mampu dan gak kepikiran setelah membayarnya, “Worth it lah” rasanya sudah cukup sebagai pembelaan.
Ungkapan ini juga bisa dipakai setelah melakukan sesuatu yang sebenarnya mahal, tetapi kamu sama sekali gak merasa sayang alias eman-eman. Misalnya, “Tadi siang aku ke AYCE buat makan, eh, habis Rp300 ribu sendiri, worth it lah ya. Lagi pengin juga.” Atau setelah beli barang yang sudah lama diinginkan, “Agak mahal sih, soalnya handcarry dari Korea, tapi worth it. Daripada gue kepikiran terus langsung aja gue beli.” Jadi, menggunakan kata worth it gak selalu soal harga murah atau barang berkualitas tinggi, tetapi juga soal merasa pengeluaran tersebut memang pantas dilakukan karena kondisi dan keinginanmu saat itu memang sedang berkecukupan.