Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
7 Buku Klasik dan Kontemporer tentang Dampak Fatal Male Gaze
rekomendasi novel tentang bahaya male gaze (dok. Charco Press/Restoration | dok. Penguin/The Pumpkin Eater)
  • Restoration menggambarkan rahasia kelam dan pandangan predatoris terhadap perempuan.

  • The House of Mirth menunjukkan perempuan yang terjebak dalam standar kecantikan dan tekanan sosial.

  • Forbidden Notebook mengungkap hilangnya identitas perempuan akibat ekspektasi domestik.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Tatapan pria (male gaze) adalah salah satu konsep dalam kerangka pikir feminisme yang cukup mudah kita temukan contohnya, terutama dalam berbagai produk hiburan. Sesuai dengan istilah yang dipakai, male gaze berkenaan dengan perspektif maskulin heteronormatif ketika mendeskripsikan dan memahami perempuan. Ia kerap kali melihat perempuan sebagai objek seksual dan pelengkap hidup pria ketimbang individu yang berdiri sendiri.

Miris, male gaze tak hanya ada dalam produk hiburan. Implementasinya menembus realitas sehari-hari, bahkan sempat jadi norma yang diyakini banyak orang, baik pria maupun perempuan. Sepanjang sejarahnya, male gaze merugikan perempuan. Ia bikin perempuan makin rentan jadi korban kekerasan dan kejahatan berbasis gender. Bagaimana bisa? Beberapa karya sastra klasik dan modern berikut bisa menjelaskannya kepadamu.

1. Restoration (Ave Barrera)

Restoration karya Ave Barrera (dok. Charco Press/Restoration)

Restoration adalah novela yang berpusat pada Jasmina yang direkrut pacarnya, Zuri, untuk merestorasi rumah megah milik paman Zuri, Eligio. Di rumah itulah, Jasmina mencium berbagai bendera merah tentang keluarga Eligio dan Zuri. Rahasia kelam yang berkaitan dengan perempuan-perempuan dari masa lalu mereka bertaburan bak teka-teki yang harus disusun Jasmina. Novel ini bakal mengingatkanmu kepada Jane Eyre (Charlotte Brontë) dan Rebecca (Daphne du Maurier). Siapkah kamu menerima kenyataan pahit soal bagaimana sebagian pria memandang perempuan?

2. The House of Mirth (Edith Wharton)

The House of Mirth karya Edith Wharton (dok. Penguin/The House of Mirth)

Lily adalah korban male gaze dalam novel The House of Mirth. Sejak kecil, ia dipuji karena kecantikannya dan ia yakin itu akan menyelamatkannya. Sampai pada usia 30 tahun, Lily belum pula menemukan pria yang mau melamar dan menafkahinya. Padahal, ia sudah tak punya apa-apa. Orangtuanya tak meninggalkan warisan sepeser pun dan bibi yang selama ini menghidupinya akhirnya meninggal dunia. Lily dikejar waktu karena usianya dan terkekang oleh tekanan kelas sosialnya yang tidak mewajarkan perempuan punya keterampilan untuk hidup mandiri.

3. Forbidden Notebook (Alba de Cespedes)

Forbidden Notebook karya Alba de Cespedes (dok. Pushkin Press/Forbidden Notebook)

The Secret atau dikenal juga dengan judul Forbidden Notebook merupakan cerita Valeria Cossati, ibu rumah tangga yang punya kebiasaan baru. Sederhana, tetapi mengubah segalanya, Valeria menemukan dirinya rutin menulis unek-uneknya sejak membeli sebuah buku tulis hitam. Di sana, ia meluapkan segala keresahan dan ketidakpuasannya sebagai ibu sekaligus perempuan, termasuk di antaranya peran domestik yang makin hari, makin memuakkan. Ia pun membahas kekecewaannya terhadap perlakuan anak dan suaminya kepadanya. Lewat Valeria, kita melihat bagaimana ekspektasi maskulin heteronormatif membuat perempuan kehilangan identitasnya sebagai individu.

4. The Idiot (Fyodor Dostoevsky)

The Idiot karya Fyodor Dostoevsky (dok. Penguin/The Idiot)

Jika kamu memakai sudut pandang feminis saat membaca novel The Idiot, kamu akan bersimpati pada sosok Nastasya. Ia dipotret lewat sudut pandang male gaze yang amat destruktif. Kualitasnya sebagai individu sebatas wajah rupawan dan usia mudanya. Dostoevsky juga tidak melengkapi karakter Nastasya dengan agensi yang kuat, malah justru menjadikannya objek yang harus diselamatkan si lakon, Prince Myshkin. Meski berusaha memberontak dari norma dan ekspektasi gender yang melekat padanya, Nastasya tak bisa lepas dari perilaku predatoris yang membuatnya menghadapi akhir tragis.

5. The Pumpkin Eater (Penelope Mortimer)

The Pumpkin Eater karya Penelope Mortimer (dok. Penguin/The Pumpkin Eater)

The Pumpkin Eater merupakan cerita Mrs. A, seorang perempuan yang sedang melakukan sesi konseling dengan psikiater. Mrs. A diceritakan sudah menikah 4 kali dengan 1 meninggal, 2 ia ceraikan, dan kini ia masih menikah dengan pria bernama Jake Armitage. Satu yang sama, tujuan Mrs. A menikah ialah memiliki anak. Seolah tanpa anak, hidupnya akan sia-sia. Jake saja ia nikahi karena dua anak tertuanya sudah masuk sekolah asrama dan tak membutuhkannya lagi.

6. The Bluest Eyes (Toni Morrison)

The Bluest Eye karya Toni Morrison (dok. Penguin Random House/The Bluest Eye)

Hidup di Amerika Serikat 1940-an, Pecola Breedlove, seorang bocah perempuan 11 tahun, sudah punya keyakinan bahwa hanya ketika ia bermata biru, dirinya akan dapat cinta dan perlindungan. Sebagai seorang bocah kulit hitam, ini merupakan mimpi terbesar Pecola yang diam-diam toksik dan destruktif bagi masa depannya. The Bluest Eyes memang membahas isu rasial, tetapi ia juga memotret tentang male gaze.

7. Boy Parts (Eliza Clark)

Boy Parts karya Eliza Clark (dok. HarperCollins/Boy Parts)

Bagaimana jadinya jika male gaze yang predatoris tersebut diberlakukan sendiri kepada kaum pria? Dalam Boy Parts, seorang fotografer perempuan bernama Irina diceritakan memikat pria-pria yang menurutnya menarik untuk jadi model proyeknya. Ia akan memotret mereka dalam pose-pose submisif yang biasanya dilakukan oleh fotografer pria terhadap model perempuan. Melihat foto-foto itu, apakah pria pendukung male gaze tetap bergeming?

Buku-buku di atas memang bukan tipe bacaan yang melegakan hati. Sesuai dengan prinsip feminis yang dipakai, mereka ditulis untuk mengguncang apa yang selama ini kita anggap wajar. Berani baca semua?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

EditorYudha ‎

Related Article