Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

5 Buku Nonfiksi Provokatif yang Gak Bahas Pengembangan Diri

buku Careless People dan Material World
buku Careless People dan Material World (dok. Macmillan Publishers | dok. Penguin Random House)
Intinya sih...
  • Careless People: A Cautionary Tale of Power, Greed, and Lost Idealism (Sarah Wynn-Williams) membahas keterkaitan erat antara korporasi teknologi dengan politik.
  • One Day, Everyone Will Have Always Been Against This (Omar El Akkad) mengupas hipokrisi Barat soal konflik dan krisis kemanusiaan di dunia.
  • Africa is Not a Country (Dipo Faloyin) merevisi simplifikasi orang terhadap Afrika yang bertumpu pada perspektif Barat.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Ingin baca lebih banyak buku nonfiksi tahun ini, tetapi ogah dinasihati buku pengembangan diri? Tenang, nonfiksi itu seluas itu buat dijelajahi. Kamu bisa coba melirik buku-buku yang bahas politik sampai kesehatan dengan bahasa kekinian seperti 5 buku berikut.

Tak sekaku buku teks, mereka bakal membuatmu merasa sedang gibah atau mendengarkan siniar. Catat kelima judul buku nonfiksi provokatif yang gak bahas pengembangan diri berikut ini. Kemudian, siapkan tabungan buat mengadopsi mereka, ya!

1. Careless People: A Cautionary Tale of Power, Greed, and Lost Idealism (Sarah Wynn-Williams)

Careless People karya Sarah Wynn-Williams
Careless People karya Sarah Wynn-Williams (dok. Macmillan Publishers)

Careless People adalah buku provokatif dari Sarah Wynn-Williams yang membawamu melihat keterkaitan erat antara korporasi teknologi dengan politik. Wynn-Williams adalah seorang pakar hukum yang punya banyak pengalaman di bidang diplomasi dan akhirnya bekerja di Facebook pada awal 2010-an. Saat itu, Facebook mulai dilirik banyak politisi untuk membangun reputasi dan meraup suara. Di situlah, Wynn-Williams melihat peluang untuk berkontribusi. Pengalaman dan pengamatan pribadinya mewarnai buku ini, pembaca dibuat seolah sedang bergosip dengannya.

2. One Day, Everyone Will Have Always Been Against This (Omar El Akkad)

One Day Everyone Will Have Always Been Against This karya Omar El Akkad
One Day Everyone Will Have Always Been Against This karya Omar El Akkad (dok. Penguin Random House)

Omar El Akkad adalah jurnalis asal Mesir yang mencoba mengupas hipokrisi Barat soal berbagai konflik, kemelut politik, dan krisis kemanusiaan yang terjadi di dunia. Genosida di Gaza adalah salah satu motivasinya menulis buku ini. Dari situ, ia menguliti fakta pahit bahwa dunia hanya dikuasai alias dijalankan beberapa aktor saja. Sebuah tamparan sengit untuk Barat yang bikin pembaca ikut merenungkannya, tak peduli di pihak mana kamu berada.

3. Africa is Not a Country (Dipo Faloyin)

Africa is Not a Country karya Faloyin Dipo
Africa is Not a Country karya Faloyin Dipo (dok. Penguin Publishing)

Orientalisme alias cara pandang yang bertumpu pada perspektif Barat sebagai sumber adalah makanan sehari-hari kita. Itu pula yang membentuk bagaimana kita memandang Afrika, sebuah benua yang lekat dengan stigma-stigma tertentu: kelaparan, kekeringan, dan diktatorisme. Padahal, Afrika juga punya sisi lain yang belum banyak disingkap. Dipo Faloyin mencoba merevisi berbagai simplifikasi yang dilakukan orang terhadap benua itu lewat buku ini.

4. Material World: The Six Raw Materials That Shape Modern Civilization (Ed Conway)

Material World karya Ed Conway
Material World karya Ed Conway (dok. Penguin Random House)

Buat kamu yang tertarik isu lingkungan, Material World bisa jadi pilihan menarik buat memperkaya bacaan nonfiksi. Ada 6 bahan baku esensial di dunia yang berkontribusi dalam kehidupan manusia menurut Conway dan ia membahasnya satu per satu. Mereka adalah garam, minyak, pasir, besi, tembaga, dan lithium. Kegunaan mereka mungkin tak pernah kamu duga ada dan ternyata amat masif perannya.

5. Everything Is Tuberculosis: The History and Persistence of Our Deadliest Infection (John Green)

Everything is Tuberculosis karya John Green
Everything is Tuberculosis karya John Green (dok. Penguin Random House)

Dikenal sebagai penulis novel, beberapa tahun ini John Green merambah nonfiksi. Dimulai dengan The Anthropocene Reviewed yang populer, ia kembali dengan Everything Is Tuberculosis. Buku ini mengupas pengalamannya jadi bagian dari sebuah organisasi nirlaba di Sierra Leone. Di negara itu, Tuberkulosis (TBC) masih jadi momok buat banyak warga. Mirisnya, setelah ia perhatikan, penyakit ini hanya ada di negara-negara yang masih berperang melawan kemiskinan. Sebuah fakta yang membuatnya kembali merenungkan soal ketimpangan global.

Kelima buku nonfiksi provokatif yang gak bahas pengembangan diri bisa jadi bukti kalau nonfiksi itu luas dan beragam. Kamu yang alergi sama buku-buku pengembangan diri (self-help) boleh meliriknya. Ini bisa jadi salah satu cara menutrisi otak dan memperkaya pengetahuan dari berbagai topik. Bahasa kekinian ala genre sains-populer bakal bikin pengalamanmu membaca jadi lebih nyaman dan menyenangkan. Buktikan, deh.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Debby Utomo
EditorDebby Utomo
Follow Us