8 Buku Pilihan Dua Lipa di International Booker Prize, Ada Favoritmu?

- Dua Lipa hadir di perayaan 10 tahun International Booker Prize dan membagikan delapan buku favoritnya yang mencerminkan minatnya pada sastra internasional dan isu sosial.
- Daftar bukunya menampilkan karya dari berbagai penulis dunia seperti Elena Ferrante, Olga Tokarczuk, Haruki Murakami, hingga Gabriel García Márquez dengan tema persahabatan, identitas, dan refleksi hidup.
- Rekomendasi ini menunjukkan bagaimana figur publik seperti Dua Lipa berperan dalam menghidupkan kembali minat baca generasi muda serta menjadikan literasi bagian dari gaya hidup modern.
Dunia literasi kembali mendapat sorotan setelah penyanyi pop dunia Dua Lipa membagikan daftar buku favoritnya dalam acara 10th Anniversary Celebrations of The International Booker Prize. Kehadiran Dua Lipa di acara sastra internasional itu langsung menarik perhatian banyak penggemar, terutama karena selama ini ia dikenal cukup aktif membahas buku lewat platform klub bacanya, Service95 Book Club.
Menariknya, buku-buku yang direkomendasikan Dua Lipa bukan hanya novel populer ringan, tetapi juga karya sastra internasional yang penuh emosi, refleksi hidup, hingga isu sosial yang kuat. Berikut buku yang direkomendasikan Dua Lipa di acara tersebut.
1. "My Brilliant Friend" by Elena Ferrante

Novel ini bercerita tentang persahabatan dua perempuan bernama Elena dan Lila yang tumbuh bersama di lingkungan miskin di Naples, Italia. Sejak kecil, keduanya memiliki hubungan yang rumit: saling mendukung, iri, kagum, sekaligus bersaing satu sama lain.
Meski berasal dari tempat yang keras dan penuh kekerasan, mereka sama-sama punya mimpi untuk keluar dari kehidupan sempit yang mengurung mereka. "My Brilliant Friend" bukan hanya soal persahabatan, tetapi juga tentang tekanan sosial, kemiskinan, perempuan, dan rasa ingin menjadi 'lebih' dari keadaan hidup yang dimiliki.
2. "Drive Your Plow Over The Bones of The Dead" by Olga Tokarczuk

Novel ini mengikuti kehidupan Janina Duszejko, seorang perempuan tua eksentrik yang tinggal di desa terpencil dekat perbatasan Polandia. Ia sangat mencintai astrologi, hewan, dan kehidupan yang tenang. Namun, suasana desa berubah ketika beberapa pria ditemukan meninggal secara misterius.
Novel ini memadukan thriller, kritik sosial, dan refleksi tentang alam serta moral manusia. Meski penuh misteri, cerita ini juga memiliki humor gelap dan pemikiran filosofis yang membuatnya terasa berbeda dari novel kriminal biasa.
3. "Still Born" by Guadalupe Nettel

"Still Born" bercerita tentang dua sahabat perempuan, Laura dan Alina, yang memiliki pandangan berbeda tentang kehidupan dan menjadi ibu. Laura sangat yakin tidak ingin memiliki anak, sementara Alina justru menjalani kehidupan keluarga yang tampak stabil dan bahagia.
Novel ini membahas tema motherhood, persahabatan, tubuh perempuan, dan rasa takut akan masa depan dengan cara yang sangat intim dan emosional. Ceritanya terasa realistis dan dekat dengan kegelisahan perempuan modern.
4. "Small Boat" by Vincent Delecroix

Novel ini terinspirasi dari tragedi nyata tentang kapal kecil berisi migran yang tenggelam saat mencoba menyeberangi laut menuju Eropa. Cerita berfokus pada rasa bersalah, ketidakpedulian, dan pertanyaan moral tentang bagaimana manusia memandang penderitaan orang lain.
Alih-alih penuh aksi dramatis, novel ini justru bergerak lewat refleksi emosional dan psikologis. Pembaca diajak melihat bagaimana tragedi bisa terjadi bukan hanya karena ombak atau cuaca, tetapi juga karena sistem dan manusia yang memilih diam.
"Small Boat" menjadi kisah yang sunyi namun menghantam perasaan. Buku ini mempertanyakan empati manusia modern dan bagaimana dunia sering kali terbiasa melihat tragedi sebagai sekadar berita yang cepat lewat di layar.
5. "The Unbearable Lightness of Being" by Milan Kundera

Novel klasik ini mengikuti kehidupan Tomas, seorang dokter di Praha, bersama Teresa, Sabina, dan Franz dalam hubungan cinta yang rumit dan penuh pencarian makna hidup. Cerita berlangsung di tengah situasi politik Cekoslowakia yang penuh tekanan setelah invasi Soviet.
Setiap tokoh menghadapi dilema antara kebebasan, cinta, kesetiaan, dan keinginan pribadi. Tomas menikmati kebebasan hidupnya, sementara Teresa mencari kepastian emosional dan rasa dicintai sepenuhnya. Hubungan mereka dipenuhi konflik batin yang terasa sangat manusiawi.
6. "Norwegian Wood" by Haruki Murakami

Novel ini mengikuti Toru Watanabe yang mengenang masa mudanya di Tokyo pada akhir 1960-an. Hidupnya berubah setelah kematian sahabat dekatnya, lalu ia menjalin hubungan dengan Naoko, perempuan pendiam yang juga menyimpan luka emosional mendalam.
Di tengah hubungan yang rapuh itu, Toru bertemu Midori, sosok yang ceria dan penuh kehidupan. Kehadiran dua perempuan dengan kepribadian sangat berbeda membuat Toru terjebak dalam pencarian tentang cinta, kehilangan, dan kedewasaan.
"Norwegian Wood" memiliki suasana melankolis yang khas. Novel ini membahas kesepian, kesehatan mental, dan rasa kehilangan dengan gaya tenang namun emosional, membuat banyak pembaca merasa dekat dengan perasaan tokohnya.
7. "One Hundred Years of Solitude" by Gabriel García Márquez

Novel legendaris ini menceritakan perjalanan keluarga Buendía selama beberapa generasi di kota fiksi bernama Macondo. Dari awal berdirinya kota hingga kehancurannya, kehidupan keluarga ini dipenuhi cinta, perang, ambisi, kutukan, dan kesepian.
Novel "One Hundred Years of Solitude" dikenal sebagai karya besar bergenre magical realism. Novel ini menggambarkan bagaimana manusia sering terjebak dalam kenangan, kesepian, dan sejarah yang sulit diputus.
8. "She Who Remains" by Rene Karabash

Novel ini mengikuti seorang perempuan yang mencoba memahami dirinya sendiri di tengah trauma, ingatan masa lalu, dan hubungan yang penuh luka. Ceritanya bergerak lewat emosi dan refleksi batin yang intens.
Tokoh utama menghadapi berbagai tekanan tentang identitas, tubuh, cinta, dan bagaimana perempuan sering dipaksa bertahan dalam dunia yang keras terhadap mereka. Meski terasa sunyi, novel ini dipenuhi pergulatan emosional yang kuat.
Rekomendasi buku dari Dua Lipa di acara perayaan 10 tahun International Booker Prize menunjukkan bahwa membaca kini bukan lagi sekadar hobi, tetapi sudah menjadi bagian dari gaya hidup generasi muda. Apalagi ketika figur publik global ikut memperkenalkan karya-karya sastra dunia kepada audiens yang lebih luas.







![[QUIZ] Dari Karakter Upin dan Ipin Pilihan Kamu, Kami Tahu Kamu Tipe Sahabat Seperti Apa!](https://image.idntimes.com/post/20240823/image-9-36b059eb8e1c6cbc9b1e3a272e9be8a4.jpg)










