Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
6 Buku Young Adult yang Kontroversial, Pernah Dilarang Beredar
film adaptasi novel The Perks of Being a Wallflower (dok. Summit Ent./The Perks of Being a Wallflower)
  • Enam novel young adult pernah diprotes atau dilarang di sekolah dan perpustakaan karena memuat bahasa kasar, seksualitas, alkohol, narkoba, kekerasan, serta isu kesehatan mental.
  • The Absolutely True Diary of a Part-Time Indian, Looking for Alaska, The Perks of Being a Wallflower, dan The Chocolate War mengangkat diskriminasi, kehilangan, trauma, hingga perundungan.
  • Go Ask Alice dan Are You There God? It's Me, Margaret memicu sensor lewat bahasan kecanduan narkoba, kekerasan seksual, pubertas, menstruasi, dan pencarian identitas maupun agama.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Genre young adult (YA) dikenal berani mengangkat berbagai persoalan yang dekat dengan kehidupan remaja. Justru karena berusaha menghadirkan cerita yang terasa realistis, tidak sedikit novel YA yang menuai pro dan kontra sejak pertama kali diterbitkan. Beberapa di antaranya bahkan sempat dilarang beredar atau diprotes agar dihapus dari perpustakaan maupun kurikulum sekolah.

Meski sering menjadi sasaran sensor, banyak buku dalam daftar ini justru dianggap sebagai karya penting yang membuka ruang diskusi mengenai berbagai isu sensitif. Para pendukungnya menilai novel-novel tersebut tidak bertujuan mempromosikan perilaku negatif, melainkan menggambarkan realitas yang memang dihadapi sebagian remaja. Berikut enam buku young adult yang kontroversial dan bahkan pernah dilarang beredar di berbagai tempat.

1. The Absolutely True Diary of a Part-Time Indian – Sherman Alexie

The Absolutely True Diary of a Part-Time Indian (goodreads.com)

Novel karya Sherman Alexie ini mengikuti kehidupan Arnold "Junior" Spirit, seorang remaja keturunan Spokane yang tinggal di kawasan reservasi penduduk asli Amerika. Demi memperoleh pendidikan yang lebih baik, ia memutuskan untuk bersekolah di luar lingkungannya sendiri. Keputusan tersebut membuat Junior harus menghadapi dilema diskriminasi hingga rasa terasing dari dua dunia yang berbeda.

Buku ini berkali-kali masuk daftar novel yang paling banyak diprotes oleh berbagai sekolah dan perpustakaan di Amerika Serikat. Alasannya beragam, mulai dari penggunaan bahasa kasar, pembahasan seksualitas, konsumsi alkohol, hingga isu politik dan kemiskinan masyarakat adat.

2. Looking for Alaska – John Green

Looking for Alaska (johngreenbooks.com)

Sebagai novel debut John Green, Looking for Alaska langsung menarik perhatian berkat kisah emosional tentang persahabatan dan kehilangan. Ceritanya berpusat pada Miles Halter yang pindah ke sekolah berasrama dan bertemu dengan Alaska Young, gadis cerdas sekaligus misterius yang mengubah hidupnya. Seiring berjalannya waktu, kehidupan mereka dipenuhi pengalaman yang menyenangkan sekaligus menyakitkan.

Meski meraih banyak penghargaan, novel ini juga berulang kali mendapat penolakan dari sejumlah distrik sekolah. Adegan yang menampilkan konsumsi alkohol, kebiasaan merokok, serta penggunaan kata-kata kasar menjadi alasan utama buku ini dipersoalkan. Namun, para pembelanya berpendapat bahwa novel ini justru mengingatkan pembaca tentang konsekuensi dari berbagai keputusan yang diambil saat remaja.

3. The Perks of Being a Wallflower – Stephen Chbosky

The Perks of Being a Wallflower (goodreads.com)

Novel ini mengisahkan Charlie, seorang remaja pendiam yang mencoba menjalani masa SMA setelah mengalami berbagai pengalaman traumatis di masa kecilnya. Lewat surat-surat yang ia tulis, pembaca diajak mengikuti proses Charlie mengenal persahabatan, cinta, kesehatan mental, hingga pencarian jati diri.

Ceritanya sederhana, tetapi mampu menyentuh banyak pembaca karena terasa sangat personal. Di balik popularitasnya, buku ini termasuk salah satu novel YA yang paling sering diprotes selama lebih dari dua dekade. Isu bunuh diri, pelecehan seksual terhadap anak, penggunaan narkoba, alkohol, dan seksualitas remaja menjadi alasan utama sejumlah sekolah melarang peredarannya.

4. The Chocolate War – Robert Cormier

The Chocolate War (goodreads.com)

The Chocolate War mengambil latar sebuah sekolah Katolik dan mengikuti perjuangan Jerry Renault, siswa yang menolak mengikuti tradisi penggalangan dana dengan menjual cokelat. Penolakan sederhana itu justru memicu konflik besar dengan organisasi rahasia di sekolah yang terbiasa mengendalikan para siswa. Dari sinilah cerita berkembang menjadi kritik terhadap budaya perundungan.

Puluhan tahun setelah diterbitkan, novel ini tetap menjadi salah satu buku paling sering diperdebatkan. Kritikus menilai isinya terlalu kelam bagi pembaca remaja karena memuat kekerasan, bahasa kasar, dan unsur seksualitas. Sebaliknya, banyak akademisi sastra menyebut The Chocolate War sebagai salah satu karya yang membantu mengubah genre YA yang berani mengangkat persoalan nyata.

5. Go Ask Alice – Beatrice Sparks

Go Ask Alice (goodreads.com)

Saat pertama kali terbit, Go Ask Alice dipasarkan sebagai buku harian asli seorang remaja yang terjerumus ke dalam penyalahgunaan narkoba. Walaupun kemudian diketahui bahwa kisah tersebut tidak benar-benar berasal dari catatan pribadi, banyak pembaca tetap menganggap ceritanya sangat meyakinkan.

Novel ini memperlihatkan bagaimana seorang gadis perlahan kehilangan arah akibat kecanduan dan berbagai keputusan buruk yang diambilnya. Isi buku yang menggambarkan penggunaan narkoba secara detail, kekerasan seksual, dan berbagai situasi kelam membuatnya menjadi sasaran sensor di banyak sekolah. Ironisnya, tujuan utama novel ini sebenarnya adalah memberikan peringatan mengenai bahaya narkoba dan berbagai konsekuensi yang menyertainya.

6. Are You There God? It's Me, Margaret – Judy Blume

Are You There God? It's Me, Margaret. (judyblume.com)

Novel karya Judy Blume ini dianggap sebagai salah satu tonggak penting dalam sastra remaja modern. Ceritanya mengikuti Margaret Simon, gadis berusia 11 tahun yang mulai memasuki masa pubertas sambil mempertanyakan identitas, agama, serta berbagai perubahan yang terjadi pada tubuhnya. Dengan gaya penulisan yang hangat, buku ini membahas topik-topik yang sebelumnya jarang dibicarakan secara terbuka.

Meski kini dianggap sebagai karya klasik, buku ini sempat memicu banyak penolakan sejak awal terbit. Pembahasan mengenai menstruasi, pubertas, dan pencarian keyakinan dianggap terlalu sensitif oleh sebagian kalangan. Namun, seiring berjalannya waktu, banyak pembaca dan pendidik justru menganggap novel ini berjasa dalam membantu remaja memahami perubahan yang mereka alami secara jujur dan tanpa rasa malu.

Kontroversi yang mengiringi keenam buku ini menunjukkan bahwa karya sastra sering kali menjadi ruang untuk membahas isu-isu yang tidak selalu nyaman dibicarakan. Dari rekomendasi buku young adult yang kontroversial, mana yang paling membuatmu penasaran untuk membaca serta menilai sendiri kontroversinya?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article